Baca juga
- pesantren KH. Syamsuddin Ponorogo
- Pesantren Sabilit Thohirin Joso Magetan
- Pesantren As Syafi'iyah Pogalan Trenggalek
- Pesantren Tahfidhul Qur'an Ma'unah Sari Kediri
No 1
Sesuai acara wisuda, aku mengajak ibu dan kakakku berziarah. Menyampaikan kabar anak bungsunya sudah lulus kuliah tepat di pusara sang bapak. Kembali kuusap tulisan yang terpahat di atas batu nisan hitam itu yang kesekian kalinya. Perasaan menyesal terus-menerus menghantui nuraniku, berpikir andai saja aku lulus lebih cepat pasti bapak turut bersuka cita merayakannya seperti teman-temanku yang lain. Mengingat watak bapak yang bersikap seolah tak acuh, padahal ialah yang paling sering membanggakan anak-anaknya di hadapan para kerabat.
"Anak bontoku itu sudah jago jahit, ini dia sendiri yang bikin," ujarnya kala itu, memamerkan tas serut kain yang kubuat untuk tempat bekal kerja di kebun sawit atas permintaannya di depan teman-temannya. Ia sangat senang mendapat pujian karena sudah berhasil mendidik anak-anaknya menjadi anak yang memiliki keahlian dan berbakti kepada orang tua. Suara tawanya yang cempreng bisa terdengar sampai keluar rumah.
Sebuah senyum tipis tersungging di bibirku saat terkenang akan kelakuan bapak yang tampak tak pernah dewasa, tetapi sangat bertanggung jawab akan kelangsungan hidup keluarga kecilnya. Sayang sekali, waktu kebersamaan kami berkurang saat aku berkuliah melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi di ibu kota Provinsi Sumatera Utara, Medan. Waktu itu, aku berargumen bahwa kemampuanku menjahitku harus ditempa di universitas negeri yang menyediakan program studi tata busana agar karierku tidak berhenti sebatas tukang jahit rumahan. Untungnya keluarga menyetujui dengan senang hati, terutama bapak yang terus berjuang mendukungku sampai akhir hayatnya.
Aku kembali teringat kenangan waktu mendengar suara bapak lewat telepon, bertanya tentang hal-hal sepele seperti aku makan pakai lauk apa, sudah shalat atau belum, atau bahkan sekadar membangunkan di pagi hari, dan siangnya sampai saat ini tak pernah luput kuceritakan lagi. Hari itu sama dengan hari-hari sebelumnya, bapak menelepon di sore hari, melepas penat setelah pulang bekerja dari kebun sawit orang.
(Diadaptasi dari https://www.kompas.id)
Pernyataan berikut ini paling sesuai dengan isi cerpen adalah ....
| (a) | memberikan kritik sosial terhadap pilihan pendidikan dan pekerjaan di masyarakat era kini |
| (b) | menggambarkan suasana rumah dan kehidupan sederhana dengan detail yang mendalam |
| (c) | menggunakan dialog panjang untuk mengungkapkan hubungan erat antar anggota keluarga |
| (d) | menyampaikan emosi kerinduan, penyesalan, dan cinta keluarga secara mendalam dan mengalir alami |
| (e) | menampilkan konflik besar antara tokoh utama dengan keluarganya terkait masa depan dan pendidikan |
No 2
Sudah hampir sebulan aku di perantauan. Lima hari lagi aku harus pulang ke kampung halaman. PERASAANKU berkecamuk. Di satu sisi aku kangen pada tanah air tercinta yang alamnya konon kaya raya dan indah permai. Aku rindu makanan kesukaanku yang tak ada di sini: nasi pecel, rujak cingur, tongseng kambing. Namun, di sisi lain menyelusup sebersit perasaan enggan pulang. Dan perasaan itu kian lama kian kuat. Orang bilang lebih baik hujan batu di negeri sendiri ketimbang hujan emas di negeri orang. Tetapi, bagiku itu hanya omong kosong orang yang tak pernah merasakan kesulitan hidup. Tentu saja lebih baik mendapatkan hujan emas di luar negeri daripada menjadi cacing melata di tanah air sendiri. Nasib mujur membawaku terbang ke sini.
Aku ditugaskan sebagai asisten Pak Lurah untuk melakukan studi banding pembangunan berkelanjutan di pinggiran kota di negeri asing ini selama sebulan atas biaya sebuah yayasan sosial yang memiliki cita-cita mulia untuk kemakmuran dunia. Desa kami dipilih sebab dianggap berhasil menggali potensi swadaya desa dan bangkit dari kemiskinan. Kubilang mujur sebab tadinya bukan aku yang mendapatkan rezeki ini. Semua yang akan berangkat adalah Srimulut, staf khusus Pak Lurah yang genit dan suka menjilat. Namun, Bu Lurah muka dan memprotes rencana itu karena cemburu. Akibatnya, Srimulut batal berangkat. Posisinya lalu digantikan Mas Yoyon, kemenakan Bu Lurah yang menjadi staf di kantor desa. Tetapi, enam minggu sebelum berangkat, dia terkena penyakit lumpuh sebelah. Ada yang bilang itu karena guna-guna. Orang-orang bergunjing bahwa itu penyakit kiriman Srimulut. Aku tak tahu pasti. Yang kutahu, aku ketiban pulung menggantikan Mas Yoyon berangkat ke Jerman.
Tujuan penulis menggambarkan konflik batin tokoh Aku dalam cerita tersebut adalah....
(a) Menggambarkan dilema atas keraguan tokoh Aku untuk pulang sehingga pembaca memahami kompleksitas perasaan tokoh
(b) Menunjukkan bahwa tokoh Aku adalah pribadi yang sulit puas dengan keadaan yang dianugerahkan kepadanya
(c) Memperlihatkan bahwa tokoh Aku memiliki pandangan positif dan negatif terhadap kampung halamannya
(d) Menekankan bahwa keinginan tokoh Aku tinggal di negeri asing selalu lebih baik daripada tinggal di kampung halaman
(e) Menyoroti konflik tokoh Aku dengan tokoh lain dalam cerita yang membuat cerita lebih realistis dengan kehidupan sehari-hari
- LBI 2025 - no 1
- LBI 2025 - no 2
- LBI 2025 - no 3
- LBI 2025 - no 4
- LBI 2025 - no 5
- LBI 2025 - no 6
- LBI 2025 - no 7
- LBI 2025 - no 8
- LBI 2025 - no 9
- LBI 2025 - no 10
- LBI 2025 - no 11
- LBI 2025 - no 12
- LBI 2025 - no 13
- LBI 2025 - no 14
- LBI 2025 - no 15
- LBI 2025 - no 16
- LBI 2025 - no 17
- LBI 2025 - no 18
- LBI 2025 - no 19
- LBI 2025 - no 20
- LBI 2025 - no 21
- LBI 2025 - no 22
- LBI 2025 - no 23
- LBI 2025 - no 24
- LBI 2025 - no 25
- LBI 2025 - no 26
- LBI 2025 - no 27
- LBI 2025 - no 28
- LBI 2025 - no 29
- LBI 2025 - no 30