Baca juga
- pesantren Tahfizh Alam Quran
- Pesantren Putri Tahfizhil Quran Lirboyo Kediri
- pesantren Putri Al Furqon
- Pesantren Tahfidz SQI Bandung
No 1
Penambangan pasir laut yang semakin marak di Indonesia menjadi ancaman serius bagi ekosistem pesisir dan kelautan. Aktivitas pengerukan, pengangkutan, dan perdagangan pasir laut yang tidak terkendali dapat menyebabkan kerusakan ekosistem, abrasi, dan bahkan menenggelamkan pulau-pulau kecil. Sebagai negara kepulauan yang kaya akan biodiversitas, Indonesia harus bijak dalam mengelola sumber daya ini agar kerusakan ekologis tidak terjadi.
Pengendalian penambangan pasir laut harus dilakukan dengan strategi yang tepat dan terintegrasi. Pendekatan ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), terutama dalam melestarikan dan memanfaatkan sumber daya kelautan secara berkelanjutan. Langkah ini tidak hanya bertujuan melindungi lingkungan, tetapi juga memastikan kesejahteraan masyarakat pesisir, seperti nelayan dan perempuan nelayan, yang sering menjadi korban utama akibat kerusakan lingkungan.
Permasalahan ini memerlukan penyelesaian komprehensif yang mempertimbangkan aspek ekonomi, sosial, lingkungan, dan tata ruang laut. Salah satu solusinya adalah penerapan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil (RZWP3K) yang mengatur pemanfaatan ruang laut secara berkelanjutan. Selain itu, penting untuk melakukan kajian mendalam terkait sedimentasi laut akibat aktivitas di hulu sungai.
Melalui edukasi dan partisipasi masyarakat, pengendalian ini dapat lebih efektif. Dengan melibatkan masyarakat pesisir dalam menjaga ekosistemnya, upaya pelestarian menjadi lebih inklusif dan berkelanjutan. Penambangan pasir laut harus ditangani dengan kebijakan terpadu agar ekosistem pesisir dan kehidupan masyarakat tetap terjaga.
21. Pendekatan pengendalian penambangan pasir laut di Indonesia yang sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan/SDGs adalah...
(a) Pengkajian terhadap sumber penyebab sedimentasi laut yang berasal dari daratan
(b) Penanganan secara terpadu dan menyeluruh dengan mengikutsertakan masyarakat
(c) Pelaksanaan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya kelestarian pesisir pengembangan sistem peringatan dini bahaya eksploitasi penambangan pasir laut
(d) Pemanfaatan secara berkelanjutan untuk mendukung pembangunan berkelanjutan
No 2
Badai atau angin topan di Indonesia adalah bencana alam yang dapat menimbulkan kerusakan besar serta ancaman bagi kehidupan manusia. Fenomena ini diakibatkan oleh ketidakseimbangan tekanan udara di atmosfer dan dipicu oleh suhu permukaan air laut yang tinggi dan kelembaban udara sebagai sumber energi penggerak badai. Dengan kecepatan angin mencapai 250 kilometer per jam, badai tidak hanya menghancurkan infrastruktur, tetapi juga menyebabkan korban jiwa yang signifikan.
Faktor hidrometeorologi, seperti kelembaban udara dan perubahan suhu di atmosfer, berperan besar dalam pembentukan badai. Proses kondensasi uap air menghasilkan energi panas yang terakumulasi dan menciptakan angin kencang, kilat, dan hujan lebat. Oleh karena itu, perubahan iklim global meningkatkan suhu permukaan laut sehingga memperbesar potensi badai yang lebih sering dan dahsyat.
Upaya mitigasi untuk mengurangi dampak badai menjadi sangat penting. Teknologi pemantauan cuaca, seperti satelit dan radar, dapat digunakan untuk mendeteksi potensi badai sejak dini. Selain itu, edukasi masyarakat tentang tanda-tanda awal badai dan tindakan penyelamatan dapat menyelamatkan banyak nyawa. Adaptasi juga diperlukan, seperti pembangunan infrastruktur yang tahan badai dan pengelolaan wilayah pesisir dengan bijak.
Dengan langkah-langkah mitigasi dan adaptasi yang tepat, dampak buruk badai dapat diminimalkan. Badai adalah fenomena yang tidak dapat dihindari, tetapi kerugiannya dapat ditekan melalui kesiapan dan kesadaran masyarakat serta pemerintah.
21. Pernyataan berikut yang menunjukkan kekurangan dalam informasi yang disampaikan pada bacaan tentang badai adalah . . .
| (A) | teks kurang memberikan gambaran tentang proses pembentukan badai dan dampaknya pada manusia serta infrastruktur |
| (B) | teks kurang menjelaskan kaitan antara perubahan iklim global dan peningkatan frekuensi badai secara sederhana |
| (C) | teks menyoroti pentingnya teknologi pemantauan cuaca seperti satelit, tetapi tidak membahas lebih lanjut tentang tantangan implementasinya |
| (D) | teks menekankan langkah-langkah mitigasi dan adaptasi tanpa menyebutkan upaya internasional dalam menghadapi fenomena badai |
| (E) | teks mengintegrasikan berbagai aspek fenomena badai, seperti sebab, dampak, dan solusi, tetapi kurang detail dalam aspek ilmiah terkait hidrometeorologi |
No 3
Aku sempat iri pada seorang bapak yang memodifikasi motor bututnya sedemikian rupa menjadi perpus keliling. Keluar masuk pelosok kampung untuk mengenalkan anak-anak pada budaya membaca. Menemukan tawa anak-anak yang takjub mencerna deretan aksara. Aku juga iri pada pasangan suami istri yang menghamparkan koleksi bukunya di alun-alun, taman kota, atau car free day untuk dibaca gratis, mengampanyekan cinta baca. Sedangkan aku, hanya gubuk baca ini jalan injak.
Dan hey! Siapa bilang buku-buku itu hanya senggok benda tanpa nyawa. Kau salah besar, Kawan! Mereka hidup dan bercahaya. Menerangi lorong demi lorong imajinasi, mengajak pembacanya menjelajah kehidupan, peradaban, sejarah, dan bahasa. Mengajak berpetualang dari timur, tenggara, selatan, barat daya, barat, barat laut, utara, timur laut, hingga seolah kita berdiri di haribaan semesta. Tersenyum, bahagia, dan menumbuh jutaan tekad di dada: aku ingin berkarya untuk memperpanjang usia. Aku ingin berdaya sebelum tubuh ringkihku berkelana tanah. Inspirasi itu berasal dari sebuah hadis yang kubaca saat aku remaja dulu: tuntutlah ilmu dari buaian hingga liang lahat. Sungguh menggetarkan! Maka kupasang tulisan itu di dinding kamarku. Sejak remaja hingga setua ini, tulisan itu masih terpasang di sana.
Maka, tahun demi tahun berkelindan, hingga rumah reotku ini menjadi base camp anak-anak dan remaja. Mereka datang-satu, dua, tiga hingga belasan orang-rela duduk lesehan di ruang tamuku yang sempit, beralas tikar pandan yang sudah rusak di tepinya. Mereka ikhlas berdesak-desakan ditemani kipas angin kecil yang berputar-putar dan menimbulkan suara berisik. Mereka membaca, menulis, berpuisi, berdiskusi, tertawa, bahkan saling berebut buku. Sudah kubilang dari awal agar menganggap area ruang tamu itu seperti rumah sendiri meski tetap ada peraturan yang kubuat.
(Diadaptasi dari https://www.kompas.id/)
21. Dalam menjalankan gubuk baca, tantangan yang dihadapi tokoh adalah ....
(a) kekhawatiran karena buku-bukunya sering dipinjam dan jarang dikembalikan oleh pengunjung
(b) rasa kecewa karena tidak mampu memiliki perpustakaan keliling seperti orang lain yang ia kagumi
(c) keterbatasan fasilitas dan ruang yang sempit untuk menampung anak-anak yang datang ke rumahnya
(d) kurangnya dukungan masyarakat sekitar dalam meningkatkan minat baca anak-anak di kampungnya
(e) perasaan rendah diri karena gubuk baca miliknya tidak sebesar perpustakaan kota yang ada di daerahnya
No 4
Bacalah informasi berikut untuk nomor 21 sampai 24.
Program transmigrasi berperan penting dalam mengembangkan desa terpencil dan kawasan tertinggal, terluar, dan terdepan (3T) di Indonesia. Kawasan transmigrasi dikembangkan dengan pendekatan ekonomi inklusif melalui kerja sama dengan sektor swasta untuk memasarkan produk unggulan daerah. Strategi ini bertujuan mempercepat pembangunan di luar Pulau Jawa, memanfaatkan potensi daerah sebagai motor penggerak pembangunan, dan meningkatkan daya saing wilayah yang masih tertinggal. Secara jangka panjang, program transmigrasi dapat menciptakan kawasan ekonomi baru berkelanjutan di luar Pulau Jawa.
Pengembangan ekonomi daerah sebaiknya berfokus pada potensi unggulan melalui kolaborasi pentahelix, yakni pelibatan pemerintah, masyarakat, akademisi, swasta, dan media. Kolaborasi ini mendukung peningkatan sumber daya manusia unggul dan usaha digitalisasi sebagai pondasi keberhasilan program transmigrasi. Untuk merealisasikannya, dibutuhkan kemitraan yang kuat, termasuk dalam investasi dan penerapan teknologi. Pendekatan yang membangun pusat pertumbuhan baru (epicentrum of growth) menjadi fokus utama untuk mempercepat pembangunan di kawasan transmigrasi melalui sinergi dengan berbagai pihak di sektor strategis.
Peraturan Presiden Nomor 50 Tahun 2018 tentang Koordinasi dan Integrasi Penyelenggaraan Transmigrasi (KIPT) mewadahi pembentukan Tim KIPT untuk mengoordinasikan dan mengintegrasikan program/kegiatan strategis kementerian/lembaga di kawasan transmigrasi, serta menginventarisasi permasalahan di tingkat pusat maupun daerah. Selain itu, Tim KIPT juga dapat mengawal dan mengevaluasi secara berkesinambungan program/kegiatan yang dilaksanakan sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan transmigran dan penduduk di kawasan transmigrasi. Dengan dukungan Tim KIPT, pelaksanaan program transmigrasi dapat memperkuat pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di kawasan transmigrasi.
(Diadaptasi dari https://www.setkab.go.id/)
21. Menurut bacaan, tujuan pendekatan ekonomi inklusif dalam pengembangan daerah transmigrasi di masa depan adalah ....
| (a) | mempercepat pembangunan daerah berpotensi di luar Pulau Jawa |
| (b) | mengembangkan wilayah desa-desa terpencil dan daerah 3T |
| (c) | menciptakan kawasan ekonomi baru berkelanjutan di luar Pulau Jawa |
| (d) | mendistribusikan produk unggulan daerahnya masing-masing |
| (e) | meningkatkan daya saing ekonomi daerah yang masih rendah |
No 5
Ungkapan "nasi adalah fondasi" mencerminkan pentingnya beras sebagai komoditas pokok bagi masyarakat Indonesia. Beras merupakan komoditas dengan porsi terbesar dalam pengeluaran masyarakat untuk pangan, yaitu 4% dari pengeluaran konsumsi makanan penduduk perkotaan dan 8% untuk penduduk pedesaan pada tahun 2021. Karena signifikannya dalam pengeluaran rumah tangga, harga beras memengaruhi tingkat inflasi dan tingkat kemiskinan. Setiap perubahan harga beras tercermin dalam tingkat inflasi serta mengurangi daya beli masyarakat miskin yang sebagian besar adalah konsumen beras.
Hal ini mengindikasikan bahwa pembuat kebijakan cenderung menginginkan harga beras yang rendah. Di sisi lain, beras juga menjadi sumber penghidupan 14 juta rumah tangga petani. Kedua sisi dari cerita ini telah menjadi alasan mengapa beras selalu dalam situasi buntu. Upaya untuk mentransformasi sektor beras dan sektor pertanian di Indonesia menjadi pertanian yang berkelanjutan dan adil perlu memahami kedua sisi permasalahan ini.
Sebagian besar petani beras adalah berskala kecil dengan rata-rata kepemilikan lahan 0,67 hektare pada tahun 2013, di mana 14,2 juta dari 25,7 juta rumah tangga pertanian adalah petani tanpa lahan, yang menjadikan mereka konsumen neto beras jika mereka adalah petani beras. Sektor beras juga menghadapi masalah penuaan, dengan 62% petani berusia 45 tahun atau lebih.
Maraknya urbanisasi telah mendorong berubahnya fungsi lahan sawah, di mana antara tahun 2010 dan 2020 terjadi penurunan luas panen sebesar 20% secara nasional, dengan kisaran penurunan antara 7% hingga 59%. Penurunan ini terjadi di beberapa daerah produsen beras utama seperti Sumatra Barat dan Jawa Barat, yang masing-masing mengalami penurunan 36% dan 22%. Penurunan luas panen ini tidak diikuti oleh peningkatan produktivitas yang signifikan. Secara nasional, hanya tujuh provinsi yang mengalami peningkatan luas panen beras. Sebagian produsen utama beras mengalami tren yang stagnan, sementara produsen utama lainnya justru mengalami penurunan produktivitas seperti Jawa Timur dan Sulawesi Selatan. Hasilnya, produksi beras nasional turun dari 66 juta ton menjadi 55 juta ton di tengah pertumbuhan populasi Indonesia.
Selain penurunan luas panen, beras juga menghadapi tantangan dari perubahan iklim. Beras juga merupakan salah satu komoditas yang paling intensif air (Oxfam, 2016) yang membuatnya lebih rentan menghadapi perubahan iklim. Produksi beras juga memberikan kontribusi yang signifikan terhadap emisi karbon, terutama metana (World Bank, 2022). Oleh karena itu, target Indonesia untuk mengurangi jejak karbon juga mencakup sektor beras. Dengan karakteristik sektor beras yang berskala kecil namun merupakan tanaman pangan utama dalam negeri, segala upaya harus dilakukan dalam menjaga ketahanan pangan, pengentasan kemiskinan, dan mewujudkan pertanian berkelanjutan di Indonesia.
21. Menurut bacaan, beras menjadi sumber penghidupan rumah tangga petani karena ….
| A. | 14 juta rumah tangga petani bergantung pada beras |
| B. | 25,7 juta rumah tangga pertanian bergantung pada beras |
| C. | 14,2 juta adalah petani tanpa lahan pertanian |
| D. | rata-rata kepemilikan lahan adalah 0,67 hektare |
| E. | kenaikan harga beras meningkatkan kesejahteraan |
- LBI 2025 - no 1
- LBI 2025 - no 2
- LBI 2025 - no 3
- LBI 2025 - no 4
- LBI 2025 - no 5
- LBI 2025 - no 6
- LBI 2025 - no 7
- LBI 2025 - no 8
- LBI 2025 - no 9
- LBI 2025 - no 10
- LBI 2025 - no 11
- LBI 2025 - no 12
- LBI 2025 - no 13
- LBI 2025 - no 14
- LBI 2025 - no 15
- LBI 2025 - no 16
- LBI 2025 - no 17
- LBI 2025 - no 18
- LBI 2025 - no 19
- LBI 2025 - no 20
- LBI 2025 - no 21
- LBI 2025 - no 22
- LBI 2025 - no 23
- LBI 2025 - no 24
- LBI 2025 - no 25
- LBI 2025 - no 26
- LBI 2025 - no 27
- LBI 2025 - no 28
- LBI 2025 - no 29
- LBI 2025 - no 30