No 1
Sudah hampir sebulan aku di perantauan. Lima hari lagi aku harus pulang ke kampung halaman. PERASAANKU berkecamuk. Di satu sisi aku kangen pada tanah air tercinta yang alamnya konon kaya raya dan indah permai. Aku rindu makanan kesukaanku yang tak ada di sini: nasi pecel, rujak cingur, tongseng kambing. Namun, di sisi lain menyelusup bersit perasaan enggan pulang. Dan perasaan itu kian lama kian kuat. Orang bilang lebih baik hujan batu di negeri sendiri ketimbang hujan emas di negeri orang. Tetapi, bagiku itu hanya omong kosong orang yang tak pernah merasakan kesulitan hidup. Tentu saja lebih baik mendapat hujan emas di luar negeri daripada menjadi cacing melata di tanah air sendiri. Nasib mujurlah membawaku terbang ke sini.
Aku ditugaskan sebagai asisten Pak Lurah untuk melakukan studi banding pembangunan berkelanjutan di pinggiran kota di negeri asing ini selama sebulan atas biaya sebuah yayasan sosial yang memiliki cita-cita mulia untuk kemakmuran dunia. Desa kami dipilih sebab dianggap berhasil menggali potensi swadaya desa dan bangkit dari kemiskinan. Kubilang mujur sebab tadinya bukan aku yang mendapatkan rezeki ini. Semua yang akan berangkat adalah Srimulati, staf khusus Pak Lurah yang genit dan suka menjilat. Namun, Bu Lurah murka dan memprotes rencana itu karena cemburu. Akibatnya, Srimulati batal berangkat. Posisinya lalu digantikan Mas Yoyon, kemenakan Bu Lurah yang menjadi staf di kantor desa. Tetapi, enam minggu sebelum berangkat, dia terkena penyakit lumpuh sebelah. Ada yang bilang itu karena guna-guna. Orang-orang berujar bahwa itu penyakit kiriman Srimulati. Aku tak tahu pasti. Yang kutahu, aku ketiban pulung menggantikan Mas Yoyon berangkat ke Jerman.
Cara tokoh utama menghadapi konflik batin antara keinginan untuk tetap tinggal di negeri asing dan kerinduan terhadap kampung halaman adalah...
| (a) | Mengabaikan rasa rindu dan tinggal lebih lama di negeri asing |
| (b) | Merenungi konflik yang berkecamuk dalam hati tanpa mengambil keputusan |
| (c) | Mengingat kembali keberuntungan yang membawanya ke negeri orang |
| (d) | Memilih pulang karena merasa bertanggung jawab atas kampung halaman |
| (e) | Memutuskan untuk tidak pulang dan merencanakan karier baru di negeri asing |
Jawaban dan Analisis (Klik untuk membuka)
Jawaban yang tepat: (c)
Analisis Berdasarkan Penalaran Literasi
Soal ini menanyakan cara tokoh utama menghadapi konflik batin. Artinya, kita harus mencari dalam bacaan bagaimana sikap tokoh dalam menyikapi pertentangan antara rasa rindu kampung halaman dan keinginan bertahan di negeri asing.
Analisis Pilihan (a)
(a) Mengabaikan rasa rindu dan tinggal lebih lama di negeri asing
Dalam bacaan memang terdapat kalimat bahwa tokoh merasa “enggan pulang” dan merasa lebih baik mendapat “hujan emas di luar negeri”. Namun, tidak ada pernyataan bahwa ia benar-benar memutuskan untuk tinggal lebih lama. Lima hari lagi ia tetap harus pulang. Jadi, pilihan ini tidak didukung secara langsung oleh bacaan.
Analisis Pilihan (b)
(b) Merenungi konflik yang berkecamuk dalam hati tanpa mengambil keputusan
Memang disebutkan bahwa “PERASAANKU berkecamuk” dan ada konflik batin. Namun, teks tidak menunjukkan bahwa ia hanya merenung tanpa sikap. Justru ia menegaskan pendapatnya tentang lebih baik “hujan emas di luar negeri”. Artinya, ia tidak sekadar merenung, tetapi menguatkan pikirannya dengan mengingat keberuntungannya. Jadi, pilihan ini kurang tepat.
Analisis Pilihan (c)
(c) Mengingat kembali keberuntungan yang membawanya ke negeri orang
Dalam teks terdapat kalimat: “Nasib mujurlah membawaku terbang ke sini” dan “Kubilang mujur sebab tadinya bukan aku yang mendapatkan rezeki ini” serta “aku ketiban pulung menggantikan Mas Yoyon berangkat ke Jerman.”
Kalimat-kalimat tersebut menunjukkan bahwa ketika ia merasa enggan pulang dan meragukan kampung halaman, ia menguatkan dirinya dengan mengingat bahwa keberadaannya di negeri asing adalah keberuntungan. Inilah cara ia menghadapi konflik batin tersebut: dengan menegaskan bahwa ia beruntung berada di sana.
Pilihan ini paling sesuai dengan bukti langsung dari bacaan.
Analisis Pilihan (d)
(d) Memilih pulang karena merasa bertanggung jawab atas kampung halaman
Tidak ada pernyataan dalam teks bahwa ia pulang karena tanggung jawab. Justru ia menyebut pepatah “lebih baik hujan batu di negeri sendiri” sebagai omong kosong. Ini menunjukkan bahwa ia tidak memandang kampung halaman sebagai alasan tanggung jawab utama dalam konflik batinnya.
Analisis Pilihan (e)
(e) Memutuskan untuk tidak pulang dan merencanakan karier baru di negeri asing
Teks tidak menyatakan bahwa ia membuat rencana karier baru atau memutuskan tidak pulang. Ia hanya menunjukkan perasaan enggan dan kebanggaan atas keberuntungannya. Tidak ada keputusan konkret seperti dalam pilihan ini.
Kesimpulan
Berdasarkan bukti dalam bacaan, tokoh utama menghadapi konflik batinnya dengan menegaskan bahwa keberadaannya di negeri asing adalah hasil keberuntungan dan sesuatu yang lebih baik dibandingkan kondisi di kampung halaman. Oleh karena itu, jawaban yang paling tepat adalah (c).
No 2
Sesuai acara wisuda, aku mengajak ibu dan kakakku berziarah. Menyampaikan kabar anak bungsunya sudah lulus kuliah tepat di pusara sang bapak. Kembali kuusap tulisan yang terpahat di atas batu nisan hitam itu untuk yang kesekian kalinya. Perasaan menyesal terus-menerus menghantui nuraniku, berpikir andai saja aku lulus lebih cepat pasti bapak turut bersuka cita merayakannya seperti teman-temanku yang lain. Mengingat waktu bapak yang bersikap seolah tak acuh, padahal ialah yang paling sering membanggakan anak-anaknya di hadapan para kerabat.
“Anak bontotku itu sudah jago jahit, ia sendiri yang bikin,” ujarnya kala itu, memamerkan tas serut kain yang kubuat untuk tempat bekal kerja di kebun sawit atas permintaannya di depan teman-temannya. Ia sangat senang mendapat pujian karena sudah berhasil mendidik anak-anaknya menjadi anak yang memiliki keahlian dan berbakti kepada orang tua. Suara tawanya yang cempreng bisa terdengar sampai keluar rumah.
Sebuah senyuman tipis tersungging di bibirku saat terkenang akan kelakuan bapak yang tampak tak pernah dewasa, tetapi sangat bertanggung jawab akan kelangsungan hidup keluarga kecilnya. Sayang sekali, waktu kebersamaan kami berkurang saat aku berkuliah melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi di ibu kota Provinsi Sumatera Utara, Medan. Waktu itu, aku berargumen bahwa kemampuan menjahitku harus ditempa di universitas negeri yang menyediakan program studi tata busana agar karierku tidak berhenti sebatas tukang jahit rumahan. Untungnya keluarga menyetujui dengan senang hati, terutama bapak yang terus berjuang mendukungku sampai akhir hayatnya.
Aku kembali teringat kenangan waktu mendengar suara bapak lewat telepon, bertanya tentang hal-hal sepele seperti aku makan pakai lauk apa, sudah salat atau belum, atau bahkan sekadar membangunkan di pagi hari, dan siangnya sampai saat ini tak pernah kuperoleh lagi. Hari itu sama dengan hari-hari sebelumnya, bapak menelepon di sore hari, melepas penat setelah pulang bekerja dari kebun sawit orang.
(Diadaptasi dari https://www.kompas.id)
Cara tokoh menghadapi rasa penyesalan atas ketidakhadiran ayahnya dalam acara kelulusannya adalah ....
(a) melupakan semua kenangan tentang ayah agar tidak terus-terusan merasa bersalah
(b) menghadirkan semua kenangan saat bersama dengan keluarga
(c) mengunjungi makam ayahnya bersama ibu dan kakaknya untuk mengabarkan kelulusannya
(d) menyesali pilihannya untuk melanjutkan pendidikan dan berusaha untuk tidak mengulanginya
(e) menyalahkan dirinya sendiri karena telah membuat ayahnya kecewa dengan pilihan hidupnya
Jawaban dan Analisis
Jawaban yang tepat: (c)
Analisis berdasarkan PENALARAN LITERASI (berdasarkan bacaan):
(a) melupakan semua kenangan tentang ayah agar tidak terus-terusan merasa bersalah
Pilihan ini tidak sesuai dengan isi bacaan. Tokoh justru mengingat kenangan bersama ayahnya, terlihat dari kalimat “Mengingat waktu bapak ...” dan “Aku kembali teringat kenangan waktu mendengar suara bapak lewat telepon ...”. Artinya, tokoh tidak melupakan kenangan, tetapi menghadirkannya kembali dalam ingatan.
(b) menghadirkan semua kenangan saat bersama dengan keluarga
Memang dalam bacaan tokoh mengenang kembali berbagai peristiwa bersama ayahnya. Namun, itu bukan tindakan utama untuk menghadapi penyesalannya. Kenangan muncul sebagai refleksi, bukan sebagai cara utama yang secara konkret dilakukan untuk menghadapi rasa penyesalan atas ketidakhadiran ayah dalam acara kelulusannya.
(c) mengunjungi makam ayahnya bersama ibu dan kakaknya untuk mengabarkan kelulusannya
Pilihan ini secara langsung didukung oleh kalimat awal bacaan: “Sesuai acara wisuda, aku mengajak ibu dan kakakku berziarah. Menyampaikan kabar anak bungsunya sudah lulus kuliah tepat di pusara sang bapak.” Tindakan berziarah dan menyampaikan kabar kelulusan merupakan cara konkret tokoh menghadapi rasa penyesalannya karena ayah tidak hadir saat kelulusannya. Ia tetap “menghadirkan” ayah dengan cara mendatangi makamnya.
(d) menyesali pilihannya untuk melanjutkan pendidikan dan berusaha untuk tidak mengulanginya
Dalam bacaan memang terdapat perasaan menyesal (“Perasaan menyesal terus-menerus menghantui nuraniku”), tetapi tidak ada pernyataan bahwa ia menyesali keputusan melanjutkan pendidikan atau ingin mengulang pilihan hidupnya. Justru disebutkan bahwa keluarga, terutama bapak, mendukungnya sampai akhir hayat.
(e) menyalahkan dirinya sendiri karena telah membuat ayahnya kecewa dengan pilihan hidupnya
Tidak terdapat bukti dalam bacaan bahwa ayah merasa kecewa atau bahwa tokoh menyalahkan dirinya karena mengecewakan ayah. Sebaliknya, ayah digambarkan sangat mendukung dan bangga terhadap anaknya.
Simpulan Penalaran:
Cara yang dilakukan tokoh untuk menghadapi rasa penyesalannya adalah dengan berziarah ke makam ayahnya dan menyampaikan kabar kelulusannya secara langsung. Oleh karena itu, jawaban yang paling sesuai berdasarkan isi bacaan adalah (c).
No 3
- LBI 2025 - no 1
- LBI 2025 - no 2
- LBI 2025 - no 3
- LBI 2025 - no 4
- LBI 2025 - no 5
- LBI 2025 - no 6
- LBI 2025 - no 7
- LBI 2025 - no 8
- LBI 2025 - no 9
- LBI 2025 - no 10
- LBI 2025 - no 11
- LBI 2025 - no 12
- LBI 2025 - no 13
- LBI 2025 - no 14
- LBI 2025 - no 15
- LBI 2025 - no 16
- LBI 2025 - no 17
- LBI 2025 - no 18
- LBI 2025 - no 19
- LBI 2025 - no 20
- LBI 2025 - no 21
- LBI 2025 - no 22
- LBI 2025 - no 23
- LBI 2025 - no 24
- LBI 2025 - no 25
- LBI 2025 - no 26
- LBI 2025 - no 27
- LBI 2025 - no 28
- LBI 2025 - no 29
- LBI 2025 - no 30