Baca juga
- Pesantren Mambaul Hisan Kediri
- Pesantrten Hidayatul Mubtadiin Plumpung Magetan
- Pesantren Darul Ihsan Madiun
- Pesantren Nuuril Anwar Sunan Drajat Madiun
Soal 16
Cermati kutipan berikut!
(1) Aku duduk di batang pohon kelapa yang mati disambar gledek. (2) Di pangkuanku senjata, sisa-sisa peluru, rasa sakit, dan lelah yang sudah tidak aku pedulikan lagi. (3) Bila subuh pecah dan matahari menyebarkan bara di langit timur, kami harus menyerbu. (4) Hidup atau mati itu soal nanti. (5) Roda sejarah ini tidak boleh berhenti.
Latar suasana peperangan yang terdapat dalam kutipan cerpen tersebut terdapat pada kalimat nomor ....
A. (1) dan (2)
B. (1) dan (5)
C. (2) dan (3)
D. (3) dan (4)
E. (4) dan (5)
Soal 17
Cermati kutipan novel berikut!
Sekalipun miskin, Sandat selalu menanamkan kepercayaan diri yang besar pada Cenana, anak semata wayangnya. “Hidup selalu berubah. Kau boleh banyak punya impian. Kita tahu bahwa kita masih hidup, masih beruntung. Tapi jangan pernah memaksakan semua mimpimu jadi kenyataan. Kerjalah yang kira-kira bisa kau capai saja. Ah, kau makin besar, sehat, dan cantik.”
Pendeskipsian watak Sandat yang bijaksana berdasarkan kutipan novel tersebut diungkapkan melalui ....
A. gambaran fisik tokoh
B. ucapan tokoh
C. perilaku tokoh
D. pikiran tokoh
E. uraian pengarang
Soal 18
Bacalah paragraf berikut untuk menjawab soal nomor 18 dan 19!
Sang mentari pun terbit dari timur, serta burung-burung sudah berterbangan ke sana ke mari seakan-akan ikut gembira. Meskipun begitu, Salman tampak murung. Harapannya hancur karena tidak dapat mempertahankan rangking satu. Saat proses pembelajaran akan dimulai, tanpa disangka-sangka Dewa, sahabatnya, datang bersama Anjas. Maka Salman pun geram karena si anak baru itu telah mengambil semua miliknya selama ini, mulai dari bintang kelas hingga sahabat karib. Salman tidak kuat menahan kesabaran, ia pun tanpa berpikir panjang memukul meja dengan kuat.
Keterkaitan peristiwa dalam kutipan cerpen tersebut dengan kehidupan sehari-hari adalah ....
A. seseorang yang sering menjadi korban kemarahan
B. anak muda yang mudah emosional
C. pertengkaran yang terjadi tanpa sebab
D. perilaku anak muda yang sok tahu
E. anak muda yang tidak sadar diri
Soal 19
Mengapa Salman memukul meja?
A. Anjas terlalu pendiam di kelas.
B. Salman tidak mau duduk dekat Anjas.
C. Salman emosi karena merasa tersaingi oleh Anjas.
D. Salman merasa dialah yang paling hebat.
E. Anjas dan Salman sama-sama rangking satu.
Soal 20
Bacalah paragraf berikut untuk menjawab soal nomor 20 dan 21!
“Maafkan, Mr. Dickens. Bagi saya Raffles tetap petinggi penjajah dan itu harus juga diungkapkan walaupun lawan satu kalimat. Kalau tidak, bagaimana saya harus memulai drama ini? Apakah saya harus menyebut Raffles sebagai ilmuwan atau seorang penjahat yang secara sukarela datang ke Hindia Belanda untuk meneliti Candi Borobudur, Prambanan, dan meriset sastra Jawa? Apakah saya harus menyebutnya seorang turis yang tiba-tiba berhasrat melakukan penelitian karena banyak objek menarik di Hindia Belanda?”
Masih dalam suasana marah, dialog tetap berlangsung antara Sastri dan Harold Dickens tentang penjajah dan penjahat. Mereka mempunyai pandangan berbeda tentang Raffles yang disebut Sastri sebagai penjajah itu. Debat berlangsung keras sekitar lima belas menit karena Sastri berani membantah pendapat Dickens. Karena Harold Dickens tetap defensif dan menyalahkan Sastri, dengan suara pelan gadis berusia 24 tahun itu menjawab.
Hal positif yang terdapat pada tokoh Sastri adalah ....
A. mempertahankan pendapat dengan logis dan sopan
B. menolak pandangan Harold Dickens meskipun benar dan logis
C. mempertanyakan dengan terus mendebat pendapat lawan
D. mengalah karena lawan bicara terus-menerus menyalahkan Sastri
E. menyetujui pendapat orang lain meski berbeda dengan keyakinan sendiri
Soal 21
Simpulan isi cerita dalam kutipan tersebut adalah ...
A. Sastri berdebat dengan Harold Dickens tentang predikat Raffles sebagai ilmuwan atau penjajah di Indonesia.
B. Harold meminta Sastri membuat naskah drama tentang Raffles sebagai pahlawan dengan latar Candi Borobudur dan Prambanan tetapi Sastri menolaknya.
C. Sastri minta maaf pada Harold Dickens karena menganggap Raffles sebagai penjajah dan ia tidak dapat mengubah pendapatnya tentang penjajah.
D. Sastri marah kepada Harold Dickens karena Harold memaksakan kehendaknya menyuruh Sastri menulis naskah drama dengan Raffles sebagai tokoh utama yang baik.
E. Sastri berdebat keras dengan Harold Dickens selama lima belas menit tentang peran Raffles sebagai penjahat dan perdebatan itu dimenangkan oleh Harold.
Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA/MA
- Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA/MA - Paket 1
- Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA/MA - Paket 2
- Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA/MA - Paket 3
- Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA/MA - Paket 4
- Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA/MA - Paket 5
- Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA/MA - Paket 6
- Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA/MA - Paket 7
- Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA/MA - Paket 8
- Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA/MA - Paket 9
- Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA/MA - Paket 10