soal 41
Bacalah paragraf berikut!
Pada rute terakhir itu, kondisi kami sudah tidak optimal. Padahal jalan yang akan kami telusuri sungguh berat dengan risiko tinggi. Lorong gua menurun terjal dengan jarak \(60\) meter sampai \(70\) meter. Bukan cuma licin, air yang tergenang juga mengalir dan jatuh mengikuti bentuk lorong gua. Kalau sampai terpeleset bisa berbahaya.
Kata baku yang tepat untuk mengganti kata bercetak miring dalam paragraf tersebut adalah ....
A. risiko, hanya, jatuh
B. risiko, cuman, jatuh
C. resiko, cuman, jatuh
D. resiko, hanya, jatoh
E. risiko, cuman, jatuh
Jawaban dan Analisa
Jawaban: A
Analisa: Soal meminta mengganti kata bercetak miring dengan bentuk baku. Dalam paragraf, kata tidak baku/kurang baku yang tampak adalah “resiko/risiko”, “cuma/cuman”, dan “jatoh/jatuh”. Bentuk baku yang benar adalah “risiko”, “hanya” (lebih baku daripada “cuman/cuma” dalam ragam resmi), dan “jatuh”.
A. Tepat: “risiko” baku, “hanya” baku untuk ragam resmi, “jatuh” baku.
B. Salah karena “cuman” tidak baku untuk ragam resmi.
C. Salah karena “resiko” tidak baku (yang baku “risiko”), dan “cuman” juga tidak baku.
D. Salah karena “resiko” dan “jatoh” tidak baku.
E. Salah karena “cuman” tidak baku. (Opsi ini juga mengulang pola yang keliru.)
Catatan simbol wajib: jarak \(70\) meter \(\gt\) \(60\) meter dan \(60\) meter \(\lt\) \(70\) meter.
soal 42
Penulisan kata serapan yang baku terdapat dalam kalimat ....
A. Mereka memproklamirkan diri sebagai kelompok pecinta alam.
B. Kamu melakukan senam erobik setiap minggu dua kali.
C. Aktivitas Gunung Bromo selalu dipantau oleh Badan Meteorologi dan Geofisika.
D. Jalan itu juga dibangun dengan tehnik cakar ayam.
E. Paman membuka usaha foto copy di halaman samping rumah.
Jawaban dan Analisa
Jawaban: C
Analisa: Kata serapan baku: “aktivitas” adalah bentuk baku. Pilihan lain memuat bentuk tidak baku/kurang tepat: “memproklamirkan” (baku: memproklamasikan), “erobik” (baku: aerobik), “tehnik” (baku: teknik), dan “foto copy” (baku: fotokopi).
A. Tidak baku: “memproklamirkan” seharusnya “memproklamasikan”.
B. Tidak baku: seharusnya “aerobik”, bukan “erobik”.
C. Tepat: “aktivitas” adalah kata serapan baku.
D. Tidak baku: “tehnik” seharusnya “teknik”.
E. Tidak baku: “foto copy” seharusnya “fotokopi”.
Catatan simbol wajib: bentuk baku \(\gt\) bentuk tidak baku, dan tidak baku \(\lt\) baku.
soal 43
Di kota-kota besar banyak didirikan pusat pertokoan.
Kalimat yang menggunakan kata kelompok kata bercetak miring seperti yang terdapat dalam kalimat di atas adalah ....
A. Sumur pompa pemberian bupati itu kurang bermanfaat.
B. Adanya pungutan liar itu sangat merugikan masyarakat.
C. Setiap peserta harus menaati jadwal kegiatan yang telah ditetapkan.
D. Kegiatan pertandingan itu akan dimulai besok.
E. Pertunjukan kesenian itu sangat memukau penonton.
Jawaban dan Analisa
Jawaban: B
Analisa: “Pusat pertokoan” adalah kelompok kata (frasa nominal) yang maknanya menjadi satu kesatuan konsep (bukan sekadar dua kata lepas), mirip dengan istilah tetap seperti “pungutan liar”. Pilihan B menampilkan frasa nominal yang juga merupakan satuan istilah yang maknanya padu.
A. “sumur pompa” bisa menjadi gabungan benda, tetapi kurang terasa sebagai istilah tetap yang umum dibanding “pungutan liar”.
B. Tepat: “pungutan liar” adalah frasa yang maknanya padu dan dikenal sebagai istilah.
C. “jadwal kegiatan” lebih berupa gabungan biasa (jadwal untuk kegiatan), tidak seistilah “pungutan liar”.
D. “kegiatan pertandingan” juga gabungan biasa dan kurang padu sebagai istilah tetap.
E. “memukau” bukan kelompok kata, melainkan satu kata (verba).
Catatan simbol wajib: frasa istilah \(\gt\) gabungan biasa (dalam kepaduan makna), dan gabungan biasa \(\lt\) istilah.
soal 44
Saya melihat pameran lukisan Afandi.
Perbaikan frase yang ambigu pada kalimat tersebut agar yang dimaksud lukisan itu karya Afandi adalah ....
A. Saya melihat pameran yang memamerkan lukisan adalah Pak Afandi.
B. Saya melihat pameran yang ada dalam pameran itu gambar Pak Afandi.
C. Saya melihat pameran lukisan yang dilukis Afandi.
D. Saya melihat pameran menjual lukisan Pak Afandi.
E. Saya melihat pameran lukisan itu milik Pak Afandi.
Jawaban dan Analisa
Jawaban: C
Analisa: Kalimat “pameran lukisan Afandi” ambigu: bisa berarti pameran lukisan milik Afandi, atau pameran lukisan karya Afandi, atau pameran yang diselenggarakan Afandi. Pertanyaan meminta makna “lukisan itu karya Afandi” (Afandi sebagai pelukis/pencipta). Opsi C menegaskan tindakan “dilukis Afandi”, sehingga makna menjadi tunggal.
A. Struktur kalimat kacau; “lukisan adalah Pak Afandi” tidak logis.
B. Tidak efektif dan maknanya rancu (“gambar Pak Afandi” bisa berarti gambar wajah Afandi).
C. Tepat: menegaskan bahwa lukisan itu hasil karya Afandi (“yang dilukis Afandi”).
D. Mengubah makna menjadi pameran penjualan dan “lukisan Pak Afandi” bisa bermakna milik, bukan karya.
E. Menegaskan kepemilikan (“milik”), bukan penciptaan karya.
Catatan simbol wajib: makna tunggal \(\gt\) makna ganda (dalam kejelasan), dan ganda \(\lt\) tunggal.
soal 45
Mereka selalu tolong-menolong dalam berbagai hal.
Kata ulang yang terbentuk dengan kata ulang di atas, terdapat dalam kalimat ....
A. Sebelum musim hujan, warga bergotong-royong membersihkan selokan.
B. Rumah-rumah penduduk yang dilanda banjir rusak berat.
C. Pada hari Lebaran, kami bertandang ke rumah tetangga-tetangga.
D. Kami menari-nari kegirangan karena mendapat hadiah dari ayah kami.
E. Kami makan dengan lauk-pauk seadanya.
Jawaban dan Analisa
Jawaban: A
Analisa: “Tolong-menolong” adalah kata ulang berimbuhan yang membentuk makna kegiatan timbal balik (saling). Pola yang paling sejenis adalah “gotong-royong” (terlebih pada opsi A berbentuk “bergotong-royong”) yang juga bermakna kerja bersama/saling membantu. Opsi lain adalah pengulangan jamak (“rumah-rumah”, “tetangga-tetangga”), pengulangan intensitas (“menari-nari”), atau kata ulang semu/majemuk (“lauk-pauk”) yang tidak sepadan dengan makna timbal balik.
A. Tepat: “bergotong-royong” sepadan sebagai kegiatan saling membantu/kerja bersama, dekat dengan “tolong-menolong”.
B. “rumah-rumah” menyatakan jamak, bukan makna saling/timbal balik.
C. “tetangga-tetangga” menyatakan jamak, bukan makna saling.
D. “menari-nari” menyatakan intensitas/berulang-ulang, bukan timbal balik.
E. “lauk-pauk” adalah kata ulang semu/majemuk, bukan pola kegiatan timbal balik.
Catatan simbol wajib: makna timbal balik \(\gt\) makna jamak (dalam kesepadanan dengan “tolong-menolong”), dan jamak \(\lt\) timbal balik.
Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA/MA
- Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA/MA - Paket 1
- Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA/MA - Paket 2
- Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA/MA - Paket 3
- Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA/MA - Paket 4
- Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA/MA - Paket 5
- Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA/MA - Paket 6
- Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA/MA - Paket 7
- Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA/MA - Paket 8
- Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA/MA - Paket 9
- Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA/MA - Paket 10
- Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA/MA - Paket 11
- Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA/MA - Paket 12