Soal 22. Bacalah puisi berikut dengan saksama!
MASA BARU
Kepada Heinrich Heine
Sekali tiba masa ketika,
Dunia mewah gugur merata,
Enyah seni murni indah,
Tangan kasar akan merobek,
Segala apa nan molek,
Akan meremuk mencabik,
Semua nan halus cantik.
Dan ....
Sajakku kelak pembungkus karang,
Prosa puisiku pembungkus kopi,
Dewi Seni akan menangis,
Namun beta rela,
Datanglah cepat "ketika" itu,
Ketika jelata akan bertahta,
Akan kuasa,
Dunia adil sama rasa sama rata.
(Purwa Atmadja)
Suasana dalam puisi tersebut adalah ....
A. keputusasaan
B. kekecewaan
C. keoptimisan
D. kepesimisan
E. kepasrahan
Jawaban & Analisis
Jawaban: C
Puisi memang memuat gambaran suram: “Dunia mewah gugur merata”, “Enyah seni murni indah”, sampai “Sajakku kelak pembungkus... Prosa puisiku pembungkus...”. Bagian ini menunjukkan kritik dan kegelisahan terhadap masa yang membuat seni direndahkan.
Namun suasana dominan ditutup dengan sikap berharap dan menyambut perubahan: “Namun beta rela, Datanglah cepat ‘ketika’ itu”, lalu puncaknya “Ketika jelata akan bertahta ... Dunia adil sama rasa sama rata.” Penutup ini adalah nada harapan menuju keadilan. Karena itu, suasana keseluruhan lebih condong pada optimisme (harap akan masa adil), sehingga C paling tepat. Nuansa harapan pada akhir puisi nilainya \( \gt \) nuansa suram yang hanya sebagai latar kritik, dan pilihan lain \( \lt \) dalam menangkap arah penutup puisi.
Soal 23. Bacalah puisi berikut dengan teliti!
Sebuah Lok Hitam
Buat Sang Pemimpin
Sebuah lok hitam
Terlepas dari gerbong
Sendiri melancar dalam kelam
Ia menderam ia melolong
Ada lok hitam meluncur sendirian
Kami yang melihatnya bertanya keheranan:
Ke manakah lok berjalan
Adakah stasiun penghabisan
Jauh di depan lok ada sinyal kelihatan
Jauh di depan hanya malam terhampar di jalan
Selintas pikiran asosiasi di Jalan Pegangsaan Barat Jakarta
(Hartoyo Andangdjaya)
Makna kata lambang lok hitam adalah ....
A. pemikir
B. penduduk
C. pemimpin
D. peserta
E. pengacau
Jawaban & Analisis
Jawaban: C
Puisi diberi alamat “Buat Sang Pemimpin”, sehingga lambang “lok hitam” kuat mengarah pada sosok pemimpin. Gambaran “terlepas dari gerbong”, “meluncur sendirian”, dan “jauh di depan hanya malam” memberi kesan perjalanan sendiri dalam kegelapan menuju arah yang tidak jelas—citra yang cocok sebagai simbol perjalanan/kebijakan pemimpin.
Pilihan “pemikir” terlalu umum dan tidak ditopang oleh penanda “Sang Pemimpin”. “Penduduk/peserta” tidak selaras dengan gambaran lok sebagai penggerak arah. “Pengacau” juga tidak didukung langsung oleh diksi puisi. Karena itu, C paling logis; keterkaitan judul dan isi terhadap “pemimpin” bernilai \( \gt \) opsi lain, sedangkan opsi lain \( \lt \) dalam daya jelaskan lambang “lok hitam”.
Soal 24. Cermati gurindam berikut!
Pekerjaan marah jangan dibela,
Nanti hilang akal di kepala.
Maksud isi gurindam tersebut adalah ....
A. Janganlah menuruti emosi karena akan menghilangkan logika.
B. Jangan marah-marah nanti akan mendatangkan penyakit.
C. Orang yang mudah marah akan mendapat kesulitan.
D. Janganlah membela orang yang sedang marah.
E. Membela orang yang sedang marah akan mendapat celaka.
Jawaban & Analisis
Jawaban: A
Larikan kedua “Nanti hilang akal di kepala” jelas menunjukkan akibat dari “pekerjaan marah” adalah hilangnya akal sehat/rasionalitas. Jadi pesan utamanya: jangan mengikuti emosi marah karena akan menghilangkan pertimbangan logis.
Pilihan D dan E menafsirkan “dibela” secara harfiah sebagai membela orang lain yang marah, padahal gurindam ini lebih tepat dimaknai “jangan membenarkan/menuruti marah”. Pilihan B dan C tidak ditunjukkan langsung oleh teks. Maka A paling tepat; ketepatan A \( \gt \) opsi lain, sedangkan opsi lain \( \lt \) dalam menangkap inti “hilang akal”.
Soal 25. Cermati paragraf berikut!
Beragam budaya unik dan menarik di Indonesia, seperti wayang kulit, batik, angklung, tari saman, tari reog ponorogo, tari pendet, tari kecak, semakin hari makin terancam keberadaannya. Gempar budaya barat yang tak kenal ampun merasuki semua sendi kehidupan kita. Sudah sejak dulu bangsa kita dikenal sebagai bangsa yang memiliki peradaban tinggi. Dari tren fashion, tatanan rambut, makanan, bahkan pergaulan juga ikut mereka adopsi dari luar tanpa disaring terlebih dahulu. Fenomena demam Korea yang akhir-akhir ini menjalar cukup menjadi bukti akan lemahnya kepribadian serta karakter remaja kita.
Perbaikan kalimat yang bercetak miring adalah ....
A. Para pemuda Indonesia bersikap tak acuh dan terkesan lebih bangga bila memakai produk-produk luar negeri.
B. Seperti suku-suku lainnya di Indonesia yang memiliki ciri khas, Jawa merupakan salah satu suku bangsa yang menawarkan ajaran-ajaran luhur.
C. Tidak sebatas pada rutinitas seremonial tertentu, akan tetapi lebih jauh lagi ke tingkat laku kehidupan sehari-hari.
D. Pada kenyataannya, kerap terjadi gesekan-gesekan di tingkat bawah merupakan akibat dari proses interaksi dan akulturasi.
E. Bentuk keprihatinan masyarakat terhadap meredupnya nilai-nilai kebudayaan Indonesia telah diakui oleh masyarakat dunia.
Jawaban & Analisis
Jawaban: E
Kalimat miring menekankan pengakuan tentang kualitas peradaban bangsa Indonesia. Perbaikan yang tepat seharusnya tetap sejalan dengan ide “nilai kebudayaan Indonesia diakui” namun lebih jelas dan efektif. Pilihan E mempertahankan gagasan pengakuan luas (diakui masyarakat dunia) dan menautkannya dengan konteks paragraf yang sedang membahas meredupnya nilai budaya sehingga bernada argumentatif.
Pilihan A menggeser fokus ke perilaku pemuda (bukan perbaikan kalimat peradaban). Pilihan B menyempit ke suku Jawa. Pilihan C berupa fragmen dan tidak utuh sebagai kalimat. Pilihan D membahas akulturasi/gesekan sosial, keluar dari ide utama “pengakuan peradaban”. Karena itu E paling mendekati makna dan fungsi kalimat miring, sehingga kecocokan E terhadap konteks \( \gt \) opsi lain, sementara opsi lain \( \lt \) dalam menjaga ide “pengakuan nilai budaya/peradaban”.
Soal 26. Cermati kalimat berikut!
(1) Menyusun karangan melibatkan kerja analisis dan kerja sintesis.
(2) Analisis dan sintesis itu saling berhubungan.
(3) Artinya, dicari unsur kecil dulu, kemudian dirangkai menjadi kalimat dan paragraf.
(4) Setelah menganalisis, orang akan membuat sintesis.
(5) Jadi, untuk meringkas bacaan, kita harus menafsirkan isinya, menguraikan unsurnya, memisahkan pikiran utama dan penjelasnya, kemudian menyusun ringkasan dalam beberapa paragraf.
Urutan kalimat tersebut agar menjadi paragraf eksposisi yang padu adalah ....
A. (1), (2), (4), (3), dan (5)
B. (2), (3), (4), (5), dan (1)
C. (3), (1), (2), (4), dan (5)
D. (4), (5), (1), (2), dan (3)
E. (5), (1), (2), (3), dan (4)
Jawaban & Analisis
Jawaban: A
Urutan paragraf eksposisi yang padu umumnya bergerak dari pernyataan umum \(\rightarrow\) penjelasan hubungan \(\rightarrow\) urutan proses \(\rightarrow\) penegasan makna \(\rightarrow\) simpulan/aplikasi.
(1) paling tepat diletakkan di awal karena menjadi gagasan umum: menyusun karangan melibatkan analisis dan sintesis. Setelah itu, (2) memperjelas bahwa kedua proses tersebut saling berhubungan, sehingga pembaca siap menerima urutan kerja berikutnya.
Berikutnya, (4) memberi urutan proses yang logis: setelah menganalisis, barulah membuat sintesis. Kalimat (3) harus mengikuti (4) karena diawali “Artinya,” yang berfungsi menjelaskan pernyataan sebelumnya. Isi (3) juga selaras dengan proses analisis \(\rightarrow\) sintesis: mencari unsur kecil dulu (analisis), lalu merangkai menjadi kalimat dan paragraf (sintesis).
Terakhir, (5) tepat menjadi penutup karena diawali “Jadi,” yang menandai simpulan sekaligus penerapan pada kegiatan meringkas bacaan (menafsirkan isi, menguraikan unsur, memilah pikiran utama-penjelas, lalu menyusun ringkasan). Dengan demikian, pilihan A menghasilkan kepaduan antar-kalimat yang \( \gt \) pilihan lain, sedangkan pilihan lain memiliki transisi yang \( \lt \) padu (misalnya menempatkan “Jadi,” di awal atau “Artinya,” tanpa rujukan yang jelas).
Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA/MA
- Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA/MA - Paket 1
- Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA/MA - Paket 2
- Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA/MA - Paket 3
- Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA/MA - Paket 4
- Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA/MA - Paket 5
- Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA/MA - Paket 6
- Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA/MA - Paket 7
- Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA/MA - Paket 8
- Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA/MA - Paket 9
- Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA/MA - Paket 10