Soal 1
Bacaan:
(1) Masa kejayaan peradaban Hindu di tanah Jawa selalu identik dengan mahakarya kebudayaan Hindu, yaitu Candi Prambanan.
(2) Candi Prambanan pun sering dianggap orang awam sebagai satu-satunya saksi bisu sejarah kultural Hindu masa Mataram Kuno.
(3) Padahal, kemegahan candi itu bukanlah bukti awal tumbuhnya budaya Hindu karena sudah ada sebuah candi yang telah berdiri sekitar satu abad sebelumnya.
(4) Arsitektur bangunan cikal bakal Peradaban Mataram Hindu itu bernama Candi Gebang.
(5) Situs bersejarah tersebut berlokasi diDusun Gebang, Kelurahan Wedomartani, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman, sekitar 11 kilo meter utara Kota Yogyakarta.
(6) Candi yang dibangun pada masa Dinasti Sanjaya tersebut, juga memiliki dinding polos tanpa relief (hiasan ukir-ukiran).
(Sumber: kompas.id; 7 Maret 2019)
Pertanyaan: Pemakaian huruf kapital yang salah terdapat dalam kalimat ...
(A) (1)
(B) (2)
(C) (3)
(D) (4)
(E) (5)
Jawaban & Analisis (Klik)
Jawaban: (D) (4)
Analisis Detail
Kalimat (4): “Arsitektur bangunan cikal bakal Peradaban Mataram Hindu itu bernama Candi Gebang.”
Kata Peradaban pada posisi ini bukan nama diri (bukan nama lembaga/gelar resmi/nama dokumen), melainkan kata umum yang menyatakan “peradaban” secara biasa. Karena itu, huruf awalnya seharusnya huruf kecil: peradaban.
Perbaikan: “Arsitektur bangunan cikal bakal peradaban Mataram Hindu itu bernama Candi Gebang.”
Kenapa opsi lain salah?
(1) “Hindu”, “Candi Prambanan” adalah nama dan unsur nama yang memang kapital.
(2) “Candi Prambanan”, “Hindu”, “Mataram Kuno” merupakan unsur nama/rujukan periode sejarah yang lazim dikapitalisasi.
(3) Tidak ada kapital yang keliru; “Hindu” tetap wajar kapital.
(5) “Kota Yogyakarta” adalah nama unsur wilayah, wajar kapital. Kesalahan di (5) lebih terkait penulisan kata/satuan, bukan kapital.
Soal 2
Bacaan: (Bacaan sama seperti soal 1)
Pertanyaan: Dalam bacaan di atas terdapat penulisan kata yang tidak sesuai dengan pedoman ejaan bahasa Indonesia, yaitu ....
(A) mahakarya
(B) dianggap
(C) satu-satunya
(D) cikal bakal
(E) kilo meter
Jawaban & Analisis (Klik)
Jawaban: (E) kilo meter
Analisis Detail
Bentuk kilo meter tidak baku karena satuan jarak dalam SI ditulis serangkai: kilometer.
Perbaikan: “sekitar 11 kilometer utara Kota Yogyakarta.”
Dalam notasi angka, “11 kilometer” dapat ditulis biasa, atau jika ingin menegaskan satuan secara matematika sederhana: \(11\ \text{km}\).
Kenapa opsi lain benar (baku)?
mahakarya baku.
dianggap baku.
satu-satunya baku (memakai tanda hubung karena bermakna “hanya satu”).
cikal bakal baku (dua kata).
Soal 3
Bacaan: (Bacaan sama seperti soal 1)
Pertanyaan: Pemakaian kata serapan yang salah terdapat dalam kalimat ...
(A) (1)
(B) (2)
(C) (3)
(D) (5)
(E) (6)
Jawaban & Analisis (Klik)
Jawaban: (D) (5)
Analisis Detail
Pada kalimat (5) terdapat bentuk “11 kilo meter”. Unsur ini berasal dari sistem satuan (serapan/istilah ilmiah) dan penulisannya tidak baku. Bentuk bakunya: kilometer (serangkai).
Perbaikan: “sekitar 11 kilometer utara Kota Yogyakarta.”
Kenapa kalimat lain tidak dipilih?
(1) “identik”, “mahakarya” dipakai wajar dan ejaannya benar dalam konteks kalimat.
(2) “kultural” adalah kata serapan yang lazim dan penulisannya tidak keliru.
(3) Tidak ada kata serapan yang salah eja/pakaiannya dalam kalimat tersebut.
(6) “dinasti” dan “relief” merupakan kata serapan yang umum; masalah di (6) justru lebih terkait tanda baca (koma) pada soal berikutnya.
Soal 4
Bacaan: (Bacaan sama seperti soal 1)
Pertanyaan: Pemakaian tanda baca koma (,) yang tidak tepat terdapat dalam kalimat ...
(A) (2)
(B) (3)
(C) (4)
(D) (5)
(E) (6)
Jawaban & Analisis (Klik)
Jawaban: (E) (6)
Analisis Detail
Kalimat (6): “Candi yang dibangun pada masa Dinasti Sanjaya tersebut, juga memiliki dinding polos tanpa relief (hiasan ukir-ukiran).”
Koma setelah kata tersebut tidak diperlukan karena “tersebut” di sini bukan sisipan/anak kalimat, melainkan bagian wajar dari subjek. Penempatan koma membuat jeda yang tidak tepat.
Perbaikan: “Candi yang dibangun pada masa Dinasti Sanjaya tersebut juga memiliki dinding polos tanpa relief (hiasan ukir-ukiran).”
Kenapa opsi lain tidak dipilih?
(3) “Padahal,” justru lazim diikuti koma karena merupakan kata penghubung antarkalimat.
(5) Rangkaian koma pada penjelasan lokasi (Dusun–Kelurahan–Kecamatan–Kabupaten) berfungsi sebagai pemisah unsur perincian; secara fungsi tanda baca, ini masih dapat diterima.
Soal 5
Bacaan:
(1) Budi daya kopi bukan hal asing bagi warga Sendang di lereng tenggara Gunung Wilis. (2) Pemerintah Kolonial Hindia-Belanda ketika itu gencar mendorong budi daya kopi di Jawa, yang salah satunya kawasan lingkar Gunung Wilis. (3) Di Sendang sudah lazim warga berbudi daya Robusta dan Arabika Kobra, tetapi kurang serius karena mereka juga merupakan peternak sapi perah atau sapi pedaging dan berladang. (4) Para petani kopi tidak mengetahui teknik budi daya hingga pemasaran yang cemerlang. (5) Hasil panen kopi Robusta terutama hanya dapat dijual di pasar-pasar tradisional dengan harga rendah, yakni Rp18.000,00–Rp22.000,00 per kilogram. (6) Dinas Pertanian kemudian melakukan pelatihan budi daya kopi hulu hilir. (7) Pelatihan tersebut mulai dari pembibitan,penanaman, perawatan, penangan hama,pemetikan, pemprosesan, hingga pengolahan,pengemasan, pemasaran reguler, dan pemasaran digital.
Pertanyaan: Pilihan kata yang tidak tepat terdapat dalam kalimat ...
(A) (1)
(B) (2)
(C) (4)
(D) (5)
(E) (6)
Jawaban & Analisis (Klik)
Jawaban: (C) (4)
Analisis Detail
Kalimat (4): “Para petani kopi tidak mengetahui teknik budi daya hingga pemasaran yang cemerlang.”
Kata cemerlang lebih tepat untuk menilai “prestasi/hasil/karier” (misalnya: prestasi cemerlang), bukan untuk melekat pada frasa “teknik budi daya hingga pemasaran”. Yang dibutuhkan di kalimat itu adalah kata yang menunjukkan “baik/benar/tepat/efektif” untuk teknik.
Perbaikan yang lebih tepat:
“Para petani kopi tidak mengetahui teknik budi daya hingga pemasaran yang baik.”
atau
“Para petani kopi tidak mengetahui teknik budi daya hingga pemasaran yang tepat.”
Kenapa opsi lain tidak dipilih?
(1) Diksi “budi daya kopi bukan hal asing” tepat untuk menyatakan kebiasaan yang sudah dikenal.
(2) Meski kalimatnya terasa kurang lengkap (secara struktur), pilihan kata kuncinya masih wajar untuk konteks sejarah kebijakan.
(5) Pilihan kata “harga rendah” dan penjelasan rentang harga \(Rp18.000,00\)–\(Rp22.000,00\) per kilogram masih tepat secara makna.
(6) “pelatihan budi daya kopi hulu hilir” masih dapat dipahami sebagai pelatihan dari proses awal sampai akhir (meski dalam penulisan baku sering dibuat “hulu-hilir”).
Latihan ini merupakan bagian dari sistem pembinaan di Pesantren Tahfidz Karangmojo.
Untuk memperdalam pemahaman materi dan pola soal, Anda dapat melanjutkan latihan melalui soal TKA SMA Bahasa Indonesia paket pertama, kemudian dilanjutkan ke paket kedua, paket ketiga, paket keempat, hingga paket kelima sebagai latihan lanjutan.