Baca juga
- pesantren Wadi Mubarak Bogor
- Muhammadiyah Boarding School (MBS) Barat Magetan
- Pesantren Tahfidz di Lahat
- Pesantren Tremas Pacitan
soal 21
Kalimat persuasif dalam kutipan teks tersebut, terlihat pada nomor ....
A. \((1)\), \((2)\), dan \((3)\)
B. \((1)\), \((3)\), dan \((4)\)
C. \((2)\), \((3)\), dan \((4)\)
D. \((2)\), \((4)\), dan \((3)\)
E. \((3)\), \((4)\), dan \((5)\)
Teks berikut untuk soal \(22\)–\(24\)
Bacalah paragraf berikut dengan saksama!
Maka kata Indera Bangsawan, “Hamba ini tiada bernama dan tiada tahu akan bapak hamba, karena diam dalam hutan rimba belantara. Adapun sebabnya hamba kemari ini karena hamba mendengar khabar anak raja sembilan orang hendak datang membunuh buraksa dan merebut tuan hamba daripadanya itu, itulah maka hamba datang kemari hendak melihat tamasya anak raja itu.”
“Mengasihani hamba dan pada bicara asal hamba akan anak raja-raja yang sembilan itu tiadalah dapat membunuh buraksa itu. Jika lain daripada Indera Bangsawan tiada dapat membunuh akan buraksa itu.”
soal \(22\)
Amanat yang tersirat dalam kutipan sastra klasik tersebut adalah ....
A. Basmalah jika melihat kejahatan
B. Jangan menyombongkan diri
C. Tunjukkanlah jika memiliki suatu kemampuan
D. Hendaklah menolong orang yang dalam kesulitan
E. Bersyukurlah jika mendapat pertolongan
soal \(23\)
Nilai moral yang terdapat dalam kutipan sastra Melayu klasik tersebut adalah ....
A. kecakapan penduduk akibat hasutan
B. ketidakpedulian raja kepada rakyatnya
C. kepedulian rakyat atas keselamatan rajanya
D. kekejaman raja terhadap rakyatnya
E. keadilan seorang raja kepada rakyatnya
soal \(24\)
Kalimat dalam kutipan tersebut yang menunjukkan ciri-ciri sastra Melayu klasik dilihat dari bahasanya, menggunakan kata ....
A. diam, dan tuan
B. daripadanya dan merebut
C. raja dan tamasya
D. rimba dan akal
E. hamba dan buraksa
soal \(25\)
Kutipan berikut untuk soal nomor \(25\) dan \(26\)
Bacalah kutipan dengan saksama!
“Oo, kau marah, Pak Tua? Ah, sudah tua suka marah-marah!”
“Huss! Apakah kau anggap aku ini pak tuaum?”
“Aku bukan kangmasmu’ bentak kakek-kakek itu lagi.
“Oo, iya! Tentunya aku harus memanggilmu mbah ya! Aku lupa, sungguh. Tapi sebetulnya awal tadi telah aku ingatkan jika aku bersalah. Siapa bersalah wajib dikatakan. Jika tidak demikian? Coba gambarkan, betapa banyak kesalahan yang akan keperbuat selanjutnya.”
Kakek itu tertunduk. Wajahnya berubah terang, lalu bicara dengan suara yang tak berdaya. “Betulkah bicaramu? Aku sudah tampak tua?”
“Mengapa?”
“Pantas kau panggil mbah?”
“Hi-hi-hi! Pertama! Itu! Kau sekarang kentara sekali merasa sedih! Mengapa? Apakah karena umurmu yang lanjut, apa karena tidak tahu bahwa kau sudah tua?”
“Jangan bersenda-gurau, Kenes, aku betul-betul bertanya!”
(Tikuungan di Dekat Bendungan oleh St. Ismaraisita)
Konflik yang tergambar dalam kutipan cerpen tersebut tentang ....
A. panggilan yang disampaikan kepada kakek dengan kata mbah dan mas
B. kekecewaan tokoh kakek akan ketuaan usianya
C. ketidakcocokan penggunaan kata sapaan dengan realitas
D. tokoh Kenes menentukan usia seseorang, sudah tua ataukah masih muda
E. kakek dan Kenes memperebutkan sapaan mbah dan mas
Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA/MA
- Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA/MA - Paket 1
- Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA/MA - Paket 2
- Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA/MA - Paket 3
- Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA/MA - Paket 4
- Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA/MA - Paket 5
- Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA/MA - Paket 6
- Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA/MA - Paket 7
- Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA/MA - Paket 8
- Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA/MA - Paket 9
- Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA/MA - Paket 10