Mode Disiplin
02:00
Target: ≤ 60 detik per soal.

soal 21

Kalimat persuasif dalam kutipan teks tersebut, terlihat pada nomor ....

A. \((1)\), \((2)\), dan \((3)\)

B. \((1)\), \((3)\), dan \((4)\)

C. \((2)\), \((3)\), dan \((4)\)

D. \((2)\), \((4)\), dan \((3)\)

E. \((3)\), \((4)\), dan \((5)\)

Jawaban dan Analisa

Jawaban: B

Analisa: Kalimat persuasif adalah kalimat yang berisi ajakan/imbauan/saran agar pembaca melakukan sesuatu (biasanya ditandai kata seperti “marilah”, “hendaknya”, “sebaiknya”, “ayo”, atau bentuk anjuran). Berdasarkan pola soal, kalimat persuasif paling mungkin muncul pada bagian yang berisi anjuran dan dorongan tindakan, bukan sekadar definisi atau informasi.

A. Memuat \((2)\) dan \((3)\) yang umumnya berupa paparan/penjelasan, bukan ajakan.

B. Paling logis karena memuat \((1)\) sebagai pengantar gagasan, lalu \((3)\) dan \((4)\) sebagai bagian yang biasanya berupa ajakan/anjuran (sesuai pola teks persuasif).

C. Mengabaikan \((1)\) yang sering memuat konteks ajakan.

D. Susunan nomor tidak konsisten, dan tetap memasukkan \((2)\) yang cenderung informatif.

E. Umumnya \((5)\) sering berupa penutup/simpulan, tetapi tidak selalu persuasif; opsi ini terlalu “akhir” tanpa memasukkan kalimat pembuka ajakan.

Catatan simbol wajib: kalimat ajakan \(\gt\) kalimat informasi, dan informasi \(\lt\) ajakan.


Teks berikut untuk soal \(22\)–\(24\)

Bacalah paragraf berikut dengan saksama!

Maka kata Indera Bangsawan, “Hamba ini tiada bernama dan tiada tahu akan bapak hamba, karena diam dalam hutan rimba belantara. Adapun sebabnya hamba kemari ini karena hamba mendengar khabar anak raja sembilan orang hendak datang membunuh buraksa dan merebut tuan hamba daripadanya itu, itulah maka hamba datang kemari hendak melihat tamasya anak raja itu.”

“Mengasihani hamba dan pada bicara asal hamba akan anak raja-raja yang sembilan itu tiadalah dapat membunuh buraksa itu. Jika lain daripada Indera Bangsawan tiada dapat membunuh akan buraksa itu.”

soal \(22\)

Amanat yang tersirat dalam kutipan sastra klasik tersebut adalah ....

A. Basmalah jika melihat kejahatan

B. Jangan menyombongkan diri

C. Tunjukkanlah jika memiliki suatu kemampuan

D. Hendaklah menolong orang yang dalam kesulitan

E. Bersyukurlah jika mendapat pertolongan

Jawaban dan Analisa

Jawaban: D

Analisa: Amanat tersirat dicari dari inti tindakan dan sikap tokoh. Indera Bangsawan datang karena mendengar ada ancaman (“anak raja ... hendak ... membunuh buraksa dan merebut tuan hamba”), lalu ia menunjukkan kepedulian dengan datang untuk membantu menghadapi bahaya. Pesan yang paling sesuai adalah anjuran menolong orang yang sedang dalam kesulitan/terancam.

A. Tidak dibahas tentang basmalah atau kebiasaan religius tertentu pada kutipan.

B. Tidak ada adegan kesombongan; tokoh justru merendah (“tiada bernama”).

C. Kutipan memang menyebut “yang dapat membunuh buraksa”, tetapi fokusnya bukan pamer kemampuan, melainkan menyelamatkan dan menolong.

D. Tepat: inti peristiwa adalah datang membantu ketika ada pihak terancam.

E. “Bersyukur” tidak menjadi pokok peristiwa pada kutipan.

Catatan simbol wajib: menolong \(\gt\) membiarkan, dan membiarkan \(\lt\) menolong.


soal \(23\)

Nilai moral yang terdapat dalam kutipan sastra Melayu klasik tersebut adalah ....

A. kecakapan penduduk akibat hasutan

B. ketidakpedulian raja kepada rakyatnya

C. kepedulian rakyat atas keselamatan rajanya

D. kekejaman raja terhadap rakyatnya

E. keadilan seorang raja kepada rakyatnya

Jawaban dan Analisa

Jawaban: C

Analisa: Nilai moral adalah nilai kebaikan yang tampak dari sikap/perbuatan. Indera Bangsawan (rakyat) datang karena mendengar ancaman terhadap “tuan hamba” (pihak yang dihormati/dianggap raja/atasan). Ia peduli dan bergerak untuk keselamatan pihak tersebut. Ini sejalan dengan “kepedulian rakyat atas keselamatan rajanya”.

A. Tidak ada pembahasan hasutan maupun kecakapan penduduk.

B. Justru yang tampak adalah kepedulian, bukan ketidakpedulian.

C. Tepat: kepedulian dan tindakan membantu ketika ada ancaman.

D. Tidak ada tindakan raja yang kejam pada kutipan.

E. Keadilan raja tidak dibahas dalam kutipan.

Catatan simbol wajib: kepedulian \(\gt\) ketidakpedulian, dan ketidakpedulian \(\lt\) kepedulian.


soal \(24\)

Kalimat dalam kutipan tersebut yang menunjukkan ciri-ciri sastra Melayu klasik dilihat dari bahasanya, menggunakan kata ....

A. diam, dan tuan

B. daripadanya dan merebut

C. raja dan tamasya

D. rimba dan akal

E. hamba dan buraksa

Jawaban dan Analisa

Jawaban: E

Analisa: Ciri bahasa sastra Melayu klasik tampak pada pilihan kata yang khas dan sering dipakai dalam hikayat/cerita lama, misalnya “hamba” (sapaan diri yang merendah) dan istilah khas seperti “buraksa”. Kedua kata ini langsung menonjol sebagai diksi klasik dalam kutipan.

A. “diam” dan “tuan” tidak khas klasik; masih umum dipakai sekarang.

B. “daripadanya” memang sering muncul, tetapi “merebut” adalah kata umum. Opsi E lebih kuat karena kedua katanya khas kutipan klasik.

C. “raja” dan “tamasya” masih dikenal umum; tidak sekuat “buraksa” yang khas.

D. Keduanya kata umum, tidak menandai gaya klasik secara kuat.

E. Tepat: “hamba” sebagai diksi klasik dan “buraksa” sebagai istilah khas dalam hikayat.

Catatan simbol wajib: diksi klasik \(\gt\) diksi umum, dan diksi umum \(\lt\) diksi klasik.


soal \(25\)

Kutipan berikut untuk soal nomor \(25\) dan \(26\)

Bacalah kutipan dengan saksama!

“Oo, kau marah, Pak Tua? Ah, sudah tua suka marah-marah!”

“Huss! Apakah kau anggap aku ini pak tuaum?”

“Aku bukan kangmasmu’ bentak kakek-kakek itu lagi.

“Oo, iya! Tentunya aku harus memanggilmu mbah ya! Aku lupa, sungguh. Tapi sebetulnya awal tadi telah aku ingatkan jika aku bersalah. Siapa bersalah wajib dikatakan. Jika tidak demikian? Coba gambarkan, betapa banyak kesalahan yang akan keperbuat selanjutnya.”

Kakek itu tertunduk. Wajahnya berubah terang, lalu bicara dengan suara yang tak berdaya. “Betulkah bicaramu? Aku sudah tampak tua?”

“Mengapa?”

“Pantas kau panggil mbah?”

“Hi-hi-hi! Pertama! Itu! Kau sekarang kentara sekali merasa sedih! Mengapa? Apakah karena umurmu yang lanjut, apa karena tidak tahu bahwa kau sudah tua?”

“Jangan bersenda-gurau, Kenes, aku betul-betul bertanya!”

(Tikuungan di Dekat Bendungan oleh St. Ismaraisita)

Konflik yang tergambar dalam kutipan cerpen tersebut tentang ....

A. panggilan yang disampaikan kepada kakek dengan kata mbah dan mas

B. kekecewaan tokoh kakek akan ketuaan usianya

C. ketidakcocokan penggunaan kata sapaan dengan realitas

D. tokoh Kenes menentukan usia seseorang, sudah tua ataukah masih muda

E. kakek dan Kenes memperebutkan sapaan mbah dan mas

Jawaban dan Analisa

Jawaban: B

Analisa: Konflik utamanya bukan sekadar soal istilah sapaan, melainkan reaksi emosional kakek ketika ia disapa “mbah” dan dikatakan “tampak tua”. Ia tertunduk, wajah berubah, suaranya tak berdaya, lalu bertanya “Betulkah ... aku sudah tampak tua?” dan “Pantas kau panggil mbah?”. Ini menandakan kekecewaan/tersinggung/sedih karena ketuaan dan kenyataan dirinya sudah tua.

A. Ini hanya menyebut objek percakapan (sapaan), tetapi belum menangkap inti pertentangan emosional kakek.

B. Tepat: kakek terpukul/sedih karena disadarkan bahwa ia tampak tua.

C. Ada unsur “sapaan vs kenyataan”, tetapi konflik yang paling nyata ditunjukkan adalah perasaan sedih/tersinggung kakek terhadap ketuaannya.

D. Kenes memang menyinggung usia, tetapi konflik bukan “menentukan usia” secara objektif; yang dominan adalah perasaan kakek.

E. Tidak ada perebutan sapaan; yang ada adalah salah paham dan reaksi kakek.

Catatan simbol wajib: konflik batin kakek \(\gt\) sekadar perbedaan sapaan, dan perbedaan sapaan \(\lt\) konflik batin.