soal \(16\)
Bacalah penggalan teks cerpen berikut!
(\(1\)) Melihat Ibrahim tidak juga mengakhiri duka hatinya, seorang ibu berkata lembut dari luar pintu kamar Ibrahim, (\(2\)) “Ibrahim, bukalah pintu hatimu. (\(3\)) Kini Ahmad telah lama meninggalkan kita semua. (\(4\)) Kesedihanmu tentangnya justru akan membuatmu rugi menghadap Ilahi. (\(5\)) Jika kamu mencintainya, tunjukkan cintamu dengan cara menghargai hidupmu sendiri. Jangan seperti ini, Nak ...”
(\(6\)) “Maafkan aku Ibu, aku tidak bisa melupakan begitu cepat kepergian Kiai Ahmad. (\(7\)) Ibu tidak tahu perasaan kehilangan seorang anak terhadap ayahnya. (\(8\)) Biarkan air mata ini membanjiri wajahku.” ...
(Air Mata Kasih, Taufiqurrahman, Al-Azizy)
Kalimat yang menyatakan latar waktu adalah bernomor ....
A. (\(2\))
B. (\(3\))
C. (\(5\))
D. (\(7\))
E. (\(8\))
Jawaban dan Analisa
Jawaban: B
Analisa: Latar waktu ditandai oleh keterangan yang menunjukkan kapan peristiwa terjadi, misalnya “kini”, “kemarin”, “pagi”, “malam”, dan sejenisnya. Pada kalimat (\(3\)) terdapat kata “Kini”, yang secara jelas menunjukkan waktu (saat ini).
A (\(2\)). Berisi ajakan/ucapan, tidak menunjukkan waktu.
B (\(3\)). Tepat, karena ada penanda waktu “kini”.
C (\(5\)). Berisi nasihat, bukan keterangan waktu.
D (\(7\)). Berisi pernyataan perasaan/pengetahuan ibu, bukan waktu.
E (\(8\)). Berisi sikap tokoh (membiarkan air mata), bukan waktu.
Catatan simbol wajib: penanda waktu “kini” \(\gt\) kalimat tanpa penanda waktu, dan tanpa penanda waktu \(\lt\) penanda waktu.
soal \(17\)
Cermati teks novel berikut!
“Oo, kau marah, Pak Tua? Ah, sudah tua suka marah-marah!”
“Huss! Apakah kau anggap aku ini pak tuaum?”
“Aku bukan kangmasmu!” bentak kakek-kakek itu lagi.
“Oo, iya! Tentunya aku harus memanggilmu mbah, ya! Aku lupa, sungguh. Tapi sebetulnya awal tadi telah aku ingatkan jika aku bersalah. Siapa bersalah wajib dikatakan. Jika tidak demikian? Coba gambarkan, betapa banyak kesalahan yang akan kuperbuat selanjutnya.”
Kakek itu tertunduk. Wajahnya berubah terang. Lalu bicara dengan suara yang tak berdaya. “Betulkah bicaramu? Aku sudah tampak sangat tua?”
“Mengapa?”
“Pantas kau panggil mbah?”
“Hi-hi-hi! Pertanyaanmu aneh! Kau sekarang kentara sekali merasa sedih! Mengapa? Apakah karena umurmu yang lanjut, apa karena tidak tahu bahwa kau sudah tua?”
“Jangan bersenda gurau, Kenes, aku betul-betul bertanya!”
Konflik pada kutipan teks tersebut adalah ....
A. Kesedihan tokoh kakek akan usianya yang menua.
B. Rasa bersalah karena salah menyapa orang yang lebih tua.
C. Kegembiraan tokoh Kenes dapat menggoda tokoh kakek.
D. Kakek marah dipanggil “mbah” dan “mas”.
E. Kecemasan tokoh kakek akan ketuaan usianya.
Jawaban dan Analisa
Jawaban: A
Analisa: Konflik yang paling menonjol tampak ketika kakek tertunduk, suaranya “tak berdaya”, dan ia mempertanyakan “Aku sudah tampak sangat tua?” serta “Pantas kau panggil mbah?”. Ini menunjukkan benturan batin: kakek sedih/terpukul karena disadarkan bahwa dirinya sudah tua. Jadi konflik utamanya adalah kesedihan kakek terhadap ketuaannya.
A. Tepat: kakek terpukul dan sedih karena usianya menua.
B. Ada unsur “aku lupa” dari Kenes, tetapi pusat konflik justru pada reaksi batin kakek, bukan rasa bersalah Kenes.
C. Kenes memang bersenda gurau, tetapi itu bukan konflik utama.
D. Kakek sempat membentak, namun inti pertentangan berkembang menjadi kesedihan soal ketuaan, bukan sekadar marah karena sapaan.
E. “Cemas” kurang tepat dibanding “sedih” karena teks menegaskan “merasa sedih” secara eksplisit.
Catatan simbol wajib: konflik batin (sedih) \(\gt\) konflik teknis sapaan, dan konflik teknis \(\lt\) konflik batin.
soal \(18\)
Cermati kutipan novel berikut!
Dekat kaki lima penjual pretzel dan roti bagel di tepi taman, ada mesin surat kabar. Saya berlari ke sana dengan tungkai ngilu. Koin saya berulang-ulang tergelincir ketika saya masukkan ke selat untuk selembar surat. Adakah berita kecelakaan kapal? Tidak di halaman muka. Tidak juga di halaman dalam.
(Saman, Ayu Utami)
Makna lambang kaki lima dalam teks tersebut adalah ....
A. pedagang di emperan toko atau jalan
B. penjualan barang-barang tidak berkualitas
C. tempat mengobral barang-barang murah
D. toko yang menjual barang-barang ilegal
E. pedagang yang menjual barang-barang bekas
Jawaban dan Analisa
Jawaban: A
Analisa: Dalam pemakaian umum bahasa Indonesia, “kaki lima” merujuk pada pedagang yang berjualan di trotoar/tepi jalan atau emperan toko. Pada kutipan, frasa “kaki lima penjual pretzel dan roti bagel” menunjukkan lokasi pedagang di tepi taman, sesuai makna pedagang kaki lima.
A. Tepat: sesuai makna lazim “kaki lima”.
B. Tidak ada penanda bahwa barang tidak berkualitas.
C. “Obral” tidak disebut; konteks hanya lokasi pedagang.
D. Tidak ada unsur ilegal.
E. Tidak ada petunjuk bahwa barang bekas; yang dijual makanan.
Catatan simbol wajib: makna kontekstual \(\gt\) asumsi tambahan, dan asumsi tambahan \(\lt\) makna kontekstual.
soal \(19\)
Bacalah kutipan cerpen berikut untuk soal nomor \(19\) dan \(20\)!
(\(1\)) Tengah malam, istrinya memasak nasi uduk dan lauk-pauknya. (\(2\)) Juga gorengan tahu, tempe, dan pisang. (\(3\)) Sebelum matahari nongol, ia berangkat dan siap meladeni pembeli. (\(4\)) Dagangannya tak seculi pun meleset. (\(5\)) Sopir-sopir berebut mengisi perutnya. (\(6\)) Ia bernapas lega. (\(7\)) Angan-angannya untuk memperoleh anak perempuan juga terkabul. (\(8\)) Istrinya melahirkan anaknya yang ketiga di rumah. (\(9\)) Sementara itu, ia serahkan jalan pada orang lain untuk membantu istrinya.
(Paing, Edi Haryono)
Majas dalam kutipan tersebut terdapat pada kalimat bernomor ....
A. (\(1\))
B. (\(2\))
C. (\(3\))
D. (\(4\))
E. (\(5\))
Jawaban dan Analisa
Jawaban: C
Analisa: Majas adalah gaya bahasa kias/retoris. Kalimat (\(3\)) memakai ungkapan “matahari nongol” yang memberi kesan benda (matahari) berperilaku seperti manusia “muncul/menampakkan diri”, sehingga bernuansa personifikasi (gaya bahasa).
A. Kalimat waktu dan kegiatan, bersifat literal.
B. Perincian makanan, literal.
C. Tepat: “matahari nongol” merupakan ungkapan kias/bergaya.
D. “tak seculi pun meleset” lebih berupa penegasan ukuran (idiom), tetapi yang paling jelas pemajasan pada pilihan yang disediakan adalah (\(3\)).
E. “berebut mengisi perutnya” bisa dibaca sebagai ungkapan, namun pada konteks sopir makan, makna masih mudah dipahami literal; sementara (\(3\)) lebih jelas sebagai majas.
Catatan simbol wajib: ungkapan kias \(\gt\) pernyataan lugas, dan lugas \(\lt\) kias.
soal \(20\)
Pendeskipsian watak tokoh istri yang rajin dalam kutipan cerpen tersebut melalui ....
A. pikiran tokoh
B. perilaku tokoh
C. bentuk fisik
D. lingkungan tokoh
E. uraian langsung
Jawaban dan Analisa
Jawaban: B
Analisa: Kerajinan istri terlihat dari tindakan nyata: “tengah malam ... memasak”, menyiapkan lauk dan gorengan, lalu sebelum pagi sudah siap meladeni pembeli. Ini adalah penokohan melalui perilaku (tindakan), bukan melalui deskripsi bentuk fisik atau komentar langsung yang menyebut “ia rajin”.
A. Pikiran tokoh tidak diungkapkan secara dominan pada kutipan.
B. Tepat: watak rajin dibuktikan oleh rangkaian aktivitas yang dilakukan.
C. Tidak ada deskripsi fisik yang menunjukkan rajin.
D. Lingkungan tidak menjadi penentu watak pada kutipan ini.
E. Tidak ada kalimat eksplisit “istri itu rajin”; yang ada adalah bukti tindakan.
Catatan simbol wajib: bukti tindakan \(\gt\) label tanpa bukti, dan label tanpa bukti \(\lt\) bukti tindakan.
Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA/MA
- Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA/MA - Paket 1
- Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA/MA - Paket 2
- Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA/MA - Paket 3
- Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA/MA - Paket 4
- Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA/MA - Paket 5
- Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA/MA - Paket 6
- Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA/MA - Paket 7
- Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA/MA - Paket 8
- Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA/MA - Paket 9
- Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA/MA - Paket 10