Mode Disiplin
02:00
Target: ≤ 60 detik per soal.

Soal 46

Di dalam suka di dalam duka
Waktu bahagia waktu…(1)
Masa tertawa masa…(2)
Kami bebuai dalam napasmu

Kata yang tepat untuk melengkapi kutipan puisi tersebut agar memiliki kesamaan rima adalah …

  1. (1) senang dan (2) bahagia
  2. (1) duka dan (2) cinta
  3. (1) senang dan (2) gembira
  4. (1) menderita dan (2) bahagia
Jawaban & Analisis

Jawaban: B

Analisis opsi:

  • A: Akhir bunyi “senang” tidak membentuk rima yang selaras dengan larik-larik lain yang dominan berakhir vokal “a”.
  • B: “duka” dan “cinta” sama-sama berakhir vokal “a”, sehingga paling mendekati kesamaan rima pada larik-larik puisi tersebut.
  • C: Sama seperti A, “senang” tidak selaras dengan pola bunyi akhir vokal “a”.
  • D: “menderita” dan “bahagia” berakhir vokal “a”, tetapi pasangan kata ini kurang menjaga keselarasan rima yang paling dekat dengan larik pertama yang sudah menutup bunyi “a” lewat kata “duka”.

Soal 47

Andi adalah anak yang saleh dan ramah. Dia anak yatim yang sangat berbakti dan setia pada ibunya. Pada saat liburan dia diajak oleh Ali dan Arsad camping ke hutan lindung. Ketika mereka akan berangkat, tiba-tiba ibu Andi mendadak sakit keras. Karena rencana sudah matang, kedua temannya tetap mengajak berangkat tanpa mempedulikan keadaan Andi. Andi menjadi bingung.

Naskah drama yang paling sesuai dengan ilustrasi tersebut adalah …

  1. Ali: (Bersemangat) Gimana An, sudah siap? Ayo berangkat!
    Andi: Maaf Al, ibuku … sakit mendadak (menunduk).
    Arsad: Ala, mengapa lu pikirin. Nanti juga kan sembuh sendiri.
    Ali: Iya An, rencana kita kan sudah matang. Ingat, demi kita!
  2. Arsad: (Semangat) Gimana An, sudah siap? Ayo berangkat!
    Andi: Maaf Ar, aku … (menunduk).
    Ali: Mengapa An, tiba-tiba kau berubah pikiran? Kita berangkat sajalah!
    Andi: Ibuku sakit mendadak. Aku harus menunggunya.
    Arsad: Jangan, kita tunda keberangkatan ini!
    Andi: Aduh, gimana dong? Kita memang sudah sepakat. Tapi… (bingung)
  3. Andi: Al, ibuku tiba-tiba sakit. Gimana rencana kita?
    Ali: Rencana sudah matang. Kita harus tetap berangkat!
    Arsad: Betul An, kita harus kompak.
    Andi: Baik. Ibuku akan kubujuk biar merelakanku.
    Arsad: Nah, gitu dong. Sepakat?
  4. Arsad: (antusias) Al, gimana persiapanmu?
    Ali: Oke, aku tinggal cabut saja.
    Arsad: Kamu gimana An?
    Andi: Sebenarnya ibuku sakit, tapi aku harus siap juga. Kita harus berangkat.
    Ali: Demi kita, hidup Trio Singa. (mereka menyatukan tangan).
Jawaban & Analisis

Jawaban: B

Analisis opsi:

  • A: Teman-teman menenangkan (“nanti juga sembuh sendiri”), tetapi bagian yang menonjol “temannya tetap mengajak berangkat tanpa mempedulikan keadaan Andi” belum tergambar sejelas konflik pilihan pada akhir dialog.
  • B: Paling sesuai: Andi menyampaikan ibu sakit mendadak, teman tetap mendorong berangkat karena “sudah sepakat/sudah matang”, dan Andi menjadi bimbang (“Aduh, gimana dong? … Tapi…”).
  • C: Andi langsung memutuskan akan membujuk ibu agar merelakan, sehingga kebingungan Andi hilang; padahal ilustrasi menegaskan Andi bingung karena ajakan teman tetap berjalan.
  • D: Andi justru menyatakan tetap siap berangkat; ini bertentangan dengan ilustrasi bahwa ia bimbang karena kondisi ibunya.

Soal 48

Parto: Harus anter? Aku malas, ah! (menenteng kaleng minyak tanah)
Pardi: Ya, iya lah. Kamu liat sana orang meletakkan jerigen minyak dalam antrean! (menarik lengan Parto menuju ke arah Depot minyak tanah)
Parto: Lalu, kapan aku mandikan kerbauku?
Pardi: Ah kamu ini…
Parto: Kamu benar juga, Di!

Kalimat yang tepat untuk melengkapi ucapan Pardi pada teks drama tersebut adalah …

  1. Ambil kerbaumu dan mandikan saja segera, anteran masih panjang!
  2. Letakkan saja kaleng minyakmu dalam anteran sementara kamu mandikan kerbau!
  3. Sebaiknya tanyakan berapa banyak orang yang antre sebelum memandikan kerbau!
  4. Itu depot minyak tanah, sudah sana ambil jerigenmu!
Jawaban & Analisis

Jawaban: B

Analisis opsi:

  • A: Tidak nyambung dengan tindakan Pardi yang mengajak Parto menaruh jerigen di antrean; opsi ini justru menyuruh mengambil kerbau.
  • B: Paling logis: menaruh kaleng di antrean dulu, lalu Parto bisa memandikan kerbau sambil menunggu.
  • C: Terlalu berputar-putar; tidak menyelesaikan masalah Parto tentang membagi waktu antre dan memandikan kerbau.
  • D: Tidak menjawab pertanyaan Parto “kapan aku mandikan kerbauku?” dan tidak sesuai konteks antrean.

Soal 49

(1) Pada saat aku tiba di stasiun Tugu, kereta api siap berangkat. (2) Petugas penjaga pintu peron sangatlah sopan. (3) Seorang petugas berseragam membantu membawakan barang-barangku dan mengatakan agar aku cepat naik. (4) Dengan senang hati kulakukan, kemudian aku cepat-cepat mencari nomor tempat duduk yang tertera di karcisku.

Kalimat tidak padu dalam paragraf tersebut ditandai nomor …

  1. (1)
  2. (2)
  3. (3)
  4. (4)
Jawaban & Analisis

Jawaban: B

Analisis opsi:

  • A (1): Kalimat ini menjadi pengantar situasi (kereta siap berangkat), masih padu dengan rangkaian peristiwa berikutnya.
  • B (2): Kalimat ini berupa penilaian umum (“sangatlah sopan”) yang tidak terikat langsung pada alur tindakan (dibantu membawa barang, diminta cepat naik, lalu mencari nomor kursi). Karena itu terasa paling “menyela” alur.
  • C (3): Masih padu karena melanjutkan peristiwa di stasiun dan berkaitan sebab dengan kalimat (4).
  • D (4): Padu sebagai akibat/lanjutan dari kalimat (3): setelah diminta cepat naik, tokoh bergerak dan mencari nomor kursi.

Soal 50

Membuat kesalahan adalah bagian dari hidup. Tidak ada seorang pun yang bebas dari kesalahan. Sering melakukan kesalahan adalah hal yang wajar, tidak perlu malu ataupun rendah diri. Jadi, jangan takut untuk mencoba dan melakukan hal-hal baru bahkan bisa menambah pengalaman dan kreativitas. Asal jangan mencoba hal-hal yang melanggar aturan.

Perbaikan kalimat sumbang yang dicetak miring pada paragraf tersebut adalah …

  1. Sering melakukan kesalahan merupakan hal yang wajar tidak perlu membuatmu malu apalagi rendah diri.
  2. Sering melakukan kesalahan merupakan hal yang logis, tidak perlu membuatmu malu apalagi rendah diri.
  3. Pernah melakukan kesalahan merupakan hal yang wajar tidak perlu membuatmu malu apalagi rendah diri.
  4. Pernah melakukan kesalahan merupakan hal yang tidak wajar, tidak perlu membuatmu malu apalagi rendah diri.
Jawaban & Analisis

Jawaban: A

Analisis opsi:

  • A: Paling tepat: maknanya sama dengan kalimat miring, tetapi lebih efektif (struktur lebih rapi dan kata “membuatmu” memperjelas sasaran). Selaras dengan gagasan paragraf: kesalahan itu wajar, jangan takut mencoba.
  • B: Mengganti “wajar” menjadi “logis” menggeser makna; paragraf menekankan kewajaran (normal) dalam hidup, bukan sekadar “logis”.
  • C: “Pernah” mengubah penekanan. Paragraf membahas bahwa kesalahan bisa terjadi berulang dan itu tetap wajar, sehingga “sering” lebih sesuai.
  • D: Bertentangan (menyebut kesalahan “tidak wajar”), tidak sejalan dengan ide paragraf.