Mode Disiplin
02:00
Target: ≤ 60 detik per soal.

Soal 26

Pasangan kalimat yang menggunakan kata berpolisemi adalah....

A. Ketika Ujian Nasional berlangsung ia jatuh sakit.

Banyak prajurit TNI yang jatuh dari truk ketika berperang.

B. Kami duduk di teras sambil menikmati hidangan kecil.

Pejabat teras itu disukai orang-orang karena tidak sombong.

C. Pada masa sekarang banyak orang yang tidak disiplin.

Kita harus berani menghadapi masa yang kritis.

D. Malam kemarin ia dilanggar mobil ketika menyeberang.

Anak-anak mengaji di langgar, dekat rumahku.

E. Walaupun tidak kaya-raya, keluarga Pak Harjo bahagia.

Masyarakat miskin mendapat bantuan dari pemerintah.

Jawaban & Analisis

Jawaban: D

Polisemi adalah satu kata yang memiliki lebih dari satu makna yang masih berhubungan. Dalam daftar kalimat, kata yang tampak berpolisemi adalah “teras”.

Pada kalimat C, “teras” bermakna bagian rumah di depan (tempat duduk/beranda). Pada kalimat D, “pejabat teras” menggunakan “teras” bermakna “petinggi/utama” (misalnya pejabat teras = pejabat utama). Kedua makna ini berbeda, tetapi masih memiliki hubungan (konsep “bagian depan/teratas/utama”). Jadi pasangan kalimat yang menunjukkan polisemi “teras” adalah C dan D.

Karena soal meminta pasangan, inti jawabannya adalah pasangan yang memuat makna ganda tersebut. Pada opsi yang tersedia dalam tampilan ini, penanda yang paling tepat adalah kalimat D (yang membentuk pasangan polisemi dengan C). Kejelasan polisemi “teras” \( \gt \) kata lain dalam daftar ini.

Catatan penting (agar tidak bingung):

Kata “jatuh” pada A dan B juga dapat bermakna berbeda (jatuh sakit vs jatuh dari truk). Namun, dalam pemilihan pasangan polisemi yang paling lazim diajarkan pada contoh seperti ini, “teras” sering dipakai sebagai contoh polisemi yang jelas (teras rumah vs pejabat teras). Maka pasangan C–D dipandang paling kuat, yaitu \(C\text{–}D \gt A\text{–}B\).

Analisis singkat kemungkinan pasangan lain:

- “jatuh” (A–B): bisa dianggap polisemi juga, tetapi sering diperdebatkan apakah “jatuh sakit” sudah menjadi ungkapan tetap yang dianggap makna turunan; tetap mungkin, namun kurang “ikonik” dibanding “teras”.


Soal 27

Lebar kali Cisadane Tangerang, tiga kali lipat kali Ciliwung Bogor. Kalimat yang menggunakan kata yang bermakna sejenis dengan kalimat di atas adalah....

A. Ia tidak sabar menanti kedatangan ayahnya, padahal ia menunggu sepuluh menit.

B. Dari tadi terdengar suara sedu sedan dari dalam sedan yang diparkir itu.

C. Penyanyi rock itu mengenakan rok pendek untuk menarik perhatian penontonnya.

D. Saya membaca buku halaman demi halaman di halaman sekolah ketika beristirahat.

E. Ketika kami tiba di rumah kakek, Paman dan Bibi belum datang juga untuk bertemu.

Jawaban & Analisis

Jawaban: D

Kalimat “Lebar kali Cisadane ... tiga kali lipat kali Ciliwung ...” menggunakan kata “kali” dengan dua makna berbeda: (1) “kali” sebagai sungai, (2) “kali” sebagai “lipat/berapa kali” (perkalian). Ini adalah contoh homonim/homograf (bentuk sama, makna berbeda).

Opsi D menggunakan “halaman” dengan dua makna: (1) halaman buku, (2) halaman sekolah (pekarangan/lapangan). Bentuk katanya sama, maknanya berbeda, dan keduanya muncul dalam satu kalimat, seperti pada contoh “kali”. Maka D paling sejenis.

Kesepadanan makna ganda pada D \( \gt \) opsi lain, dan opsi lain \( \lt \) D.

Analisis tiap pilihan:

A. “menanti” dan “menunggu” maknanya sejenis (sinonim), bukan satu kata bermakna ganda.

B. “sedu sedan” dan “sedan” (mobil) lebih ke permainan bunyi/kebetulan bentuk, tetapi tidak pola yang sama persis seperti “kali” (kata yang sama digunakan ulang dengan makna berbeda secara jelas).

C. “rock” dan “rok” berbeda kata (bukan kata yang sama).

D. Benar: “halaman” dipakai dua kali dengan makna berbeda (buku vs pekarangan).

E. Tidak ada kata bermakna ganda yang sejenis.


Soal 28

Anak yang besar kepala itu tidak disukai teman-temannya.

Ungkapan yang sama dengan ungkapan yang digunakan dalam kalimat di atas adalah....

A. Pak Arman menjadi stres karena ditinggal buah hatinya.

B. Hati-hati duduk dengan orang yang panjang tangan.

C. Orang tua itu senang sekali karena jantung hatinya berhasil.

D. Anak yang bermuka dua itu dibenci teman-temannya.

E. Orang kaya baru biasanya bersifat tinggi hati.

Jawaban & Analisis

Jawaban: E

“Besar kepala” adalah ungkapan/idiom yang bermakna sombong atau merasa diri paling hebat. Ungkapan yang sama (sepadan makna) adalah “tinggi hati” yang juga berarti sombong.

Opsi E memuat “tinggi hati”, sehingga maknanya sejenis dengan “besar kepala”. Kesamaan makna E \( \gt \) opsi lain, sedangkan opsi lain \( \lt \) E dalam kesepadanan.

Analisis tiap pilihan:

A. “buah hati” = anak/kekasih, bukan sombong.

B. “panjang tangan” = suka mencuri/memukul, bukan sombong.

C. “jantung hati” = orang yang sangat dicintai, bukan sombong.

D. “bermuka dua” = munafik/tidak jujur, bukan sombong.

E. Benar: “tinggi hati” = sombong, sepadan dengan “besar kepala”.


Soal 29

Jangan takut kepadanya, anjing menyalak tak kan menggigit.

Kalimat yang menggunakan peribahasa di atas adalah....

A. Tidak usah dipikirkan anjing menggonggong kafilah tetap berlalu.

B. Tidak usah takut kepadanya, ia seperti harimau mengaum tak kan menangkap.

C. Dia hanya seperti kerbau menanduk anaknya, jangan khawatir.

D. Orang-orang yang imannya kurang, hidupnya seperti anjing berebut tulang.

E. Sepasang burung merpati terbang di udara bagai aur dengan tebing.

Jawaban & Analisis

Jawaban: B

Peribahasa “anjing menyalak tak kan menggigit” bermakna: orang yang banyak mengancam/berisik biasanya tidak benar-benar berbuat (ancamannya tidak terbukti). Kalimat yang menggunakan peribahasa tersebut harus menyampaikan makna yang sama, meskipun boleh memakai perumpamaan lain.

Opsi B menyatakan: “ia seperti harimau mengaum tak kan menangkap,” yakni sama-sama menggambarkan ancaman/keras di mulut tetapi tidak melakukan tindakan. Ini paralel dengan peribahasa asal, hanya mengganti objek (anjing \(\rightarrow\) harimau). Karena kesepadanan makna B paling tepat, maka B benar. Kesepadanan B \( \gt \) opsi lain, dan opsi lain \( \lt \) B.

Analisis tiap pilihan:

A. Peribahasa lain: “anjing menggonggong kafilah tetap berlalu” (kritik tidak menghalangi tujuan), maknanya berbeda.

B. Benar: ancaman/garang tidak berujung tindakan.

C. Makna tidak jelas dan bukan padanan peribahasa itu.

D. “anjing berebut tulang” bermakna berebut sesuatu yang remeh, berbeda.

E. “bagai aur dengan tebing” bermakna saling membantu, berbeda.


Soal 30

Angin pagi mengelus tubuhku.

Majas yang tidak sejenis dengan majas tersebut adalah....

A. Pena menari-nari di atas kertas.

B. Pohon-pohon di sekitarku membisu.

C. Peluit kereta api menjerit-jerit.

D. Suaranya bagai buluh perindu.

E. Badai merobohkan rumah-rumah.

Jawaban & Analisis

Jawaban: D

Kalimat “Angin pagi mengelus tubuhku” menggunakan majas personifikasi, yaitu memberikan sifat/aktivitas manusia kepada benda alam (angin seolah-olah bisa “mengelus”).

Opsi A, B, dan C juga personifikasi (pena menari, pohon membisu, peluit menjerit). Opsi E adalah kalimat denotatif yang masih masuk akal secara nyata (badai memang dapat merobohkan rumah), sehingga tidak sejelas personifikasi, tetapi tetap bukan perbandingan eksplisit.

Opsi D menggunakan kata “bagai”, yaitu majas perumpamaan (simile), bukan personifikasi. Karena diminta yang “tidak sejenis” dengan personifikasi, maka D benar. Ketepatan D \( \gt \) opsi lain, dan opsi lain \( \lt \) D.