Mode Disiplin
02:00
Target: ≤ 60 detik per soal.

Soal 46

Seandainya ayah memberi modal dan ibu menyetujui, saya akan membeli kios yang menjual barang-barang elektronik.

Kalimat yang sepola dengan yang tersaji adalah ….

A. Ketika ibu akan membeli kalung dan ayah membeli jam, seorang pencopet mengincar dompet ibu akan diambilnya.
B. Walaupun pemerintah pusat telah mengeluarkan peraturan dan pemerintah daerah telah menjalankannya tetap saja tujuan belum tercapai.
C. Karena dia anak orang kaya dan dia pandai berkomunikasi akhirnya dia diberi proyek oleh bupati.
D. Kalau kamu giat belajar dan mau belajar prihatin, pasti kamu akan menjadi orang yang sukses.
E. Sewaktu saya menengok nenek dan ibu juga ikut, saya dapat melihat kebun kakek yang menghasilkan mangga itu.
Jawaban dan Analisis Soal 46

Jawaban: D

Pola kalimat soal: “Seandainya …, … akan ….” menunjukkan kalimat pengandaian (syarat/hipotetis) dengan penanda “seandainya” dan akibat di klausa utama.

Mengapa D sepola: D menggunakan pola yang sama: “Kalau …, pasti ….” Ini juga kalimat syarat (pengandaian) yang menyatakan hubungan syarat → akibat.

Evaluasi opsi lain:

A memakai penanda waktu “ketika” dan susunannya tidak efektif; bukan pola pengandaian syarat → akibat yang jelas.

B memakai “walaupun” (konsesif/pertentangan), bukan pengandaian.

C memakai “karena” (sebab-akibat), bukan pengandaian.

E memakai “sewaktu” (keterangan waktu), bukan pengandaian.


Soal 47

Saya akan menyelesaikan tugas-tugas itu nanti malam.

Kalimat pasif yang tepat dari kalimat aktif di atas adalah ….

A. Tugas itu akan diselesaikan oleh saya nanti malam.
B. Tugas itu saya akan selesaikan nanti malam.
C. Tugas itu akan saya selesaikan nanti malam.
D. Nanti malam tugas itu akan diselesaikan oleh saya.
E. Oleh saya tugas itu akan diselesaikan nanti malam.
Jawaban dan Analisis Soal 47

Jawaban: C

Dasar perubahan aktif → pasif: Objek pada kalimat aktif (“tugas-tugas itu”) menjadi subjek pada kalimat pasif. Bentuk pasif yang umum dan efektif dalam bahasa Indonesia sering memakai pola: Objek + akan + saya + kerjakan/selesaikan.

Mengapa C paling tepat: “Tugas itu akan saya selesaikan nanti malam.” adalah bentuk pasif yang paling lazim, ringkas, dan efektif. Subjek pasifnya jelas (“tugas itu”), pelakunya “saya” muncul setelah “akan” tanpa perlu “oleh”.

Evaluasi opsi lain:

A dan D benar secara makna, tetapi memakai “oleh saya” sehingga terasa lebih berat/kurang luwes untuk konteks umum (meski masih gramatikal).

B cenderung rancu karena urutan “Tugas itu saya akan selesaikan …” kurang efektif dibanding “akan saya selesaikan”.

E susunannya janggal karena mendahulukan “oleh saya” (tidak efektif).


Soal 48

“Sudah pukul delapan, Mat”, tegur Tono, “Mengapa belum kau bangun?”

Kalimat tidak langsung yang tepat dari kalimat di atas adalah ….

A. Tono menegur si Mamat, pukul delapan kau belum bangun, ayo bangun, cepatlah.
B. Tono menegur si Mamat karena ia belum bangun padahal sudah pukul delapan.
C. Si Mamat ditegur Tono karena pukul delapan belum bangun.
D. Jam delapan Tono menegur si Mamat karena ia belum bangun.
E. Tono menegur Mamat karena sudah pukul delapan Mamat belum bangun.
Jawaban dan Analisis Soal 48

Jawaban: B

Konsep kalimat tidak langsung: mengubah dialog langsung menjadi kalimat berita tanpa tanda petik dan tanpa bentuk sapaan/perintah langsung. Unsur isi tetap sama, tetapi dirangkai sebagai laporan.

Mengapa B tepat: B menyampaikan isi teguran secara lengkap dan wajar: Tono menegur Mamat karena Mamat belum bangun padahal sudah pukul delapan. Maknanya sama dengan dialog langsung.

Evaluasi opsi lain:

A masih berbau langsung (ada “kau”, “ayo”, “cepatlah”) sehingga bukan bentuk tidak langsung yang rapi.

C susunannya tidak efektif (“karena pukul delapan belum bangun” rancu: siapa yang belum bangun?).

D kurang tepat karena hanya menyebut waktu “jam delapan” tanpa menegaskan “sudah pukul delapan” sebagai alasan teguran; nuansa “padahal sudah” melemah.

E maknanya mendekati benar, tetapi pengulangan nama “Mamat” dan susunan “karena sudah pukul delapan Mamat belum bangun” kurang efektif dibanding B.


Soal 49

Yang bukan kalimat mayor dalam percakapan di bawah ini adalah ….

A. Cecep : Apa yang kamu renungi, Bang?
B. Hakim : (Terkejut sambil berkata) Tidak ada yang direnungkan.
C. Cecep : Sini duduk, mau merokok?
D. Hakim : Tidak.
E. Cecep : Ah, jangan sombong begitu kau.
Jawaban dan Analisis Soal 49

Jawaban: D

Pengertian kalimat mayor (praktis): kalimat yang memiliki unsur pokok minimal (subjek + predikat) atau setidaknya berupa kalimat lengkap secara struktur (bisa juga kalimat perintah/tanya yang utuh).

Mengapa D bukan kalimat mayor: “Tidak.” adalah jawaban eliptis (penggalan) yang menghapus unsur subjek-predikatnya. Ia hanya berupa kata penyangkalan, sehingga termasuk kalimat minor (tidak lengkap secara struktur).

Evaluasi opsi lain:

A kalimat tanya lengkap (ada predikat “renungi”).

B kalimat berita lengkap (subjek tersirat “aku/saya” dapat dipahami, tetapi struktur “tidak ada yang direnungkan” tetap berupa konstruksi kalimat yang utuh).

C kalimat ajakan/perintah + tanya yang masih utuh dalam percakapan.

E kalimat larangan/perintah (“jangan …”) juga merupakan kalimat lengkap dalam ragam tutur.


Soal 50

“Ya, mau bayar berapa saja, Mas,” ucapnya. Di tikungan terakhir menuju kampungku. “Lebih enak jalan kaki,” jawabku terengah-engah. Aku merasa menang.

Aneh dia seperti tak hendak menghentikan becaknya. Mungkin dia sedang menguji mentalku, atau malah menyesali perbuatannya? Peduli amat, apakah dia terus membuntuti aku atau tidak, sejauh ia masih mengayuh becak di jalan yang layak dilewatinya.

Begitu memasuki gapura kampung, tangan kiriku kutarik dari saku celana. Dua keping logam ratusan rupiah terlontar dan menggelinding masuk selokan. Ah, biarin.

Aku menoleh ke tukang becak yang berhenti tepat di depan gapura kampung. Ia turun dan berdiri di sana sambil tetap memegangi kemudi becak. Sambil berjalan aku menoleh kembali, dia tetap diam bagai sebuah monumen. Sesampai di rumah aku ceritakan pengalamanku pada ibu. Lama ibuku terdiam dan menatapku dan baru kemudian berkata, “Rasanya kamu perlu mencoba jadi tukang becak.”

Amanat yang tersirat dalam penggalan cerpen di atas adalah ….

A. kita harus memilih-milih tukang becak
B. kita harus memahami keadaan tukang becak
C. kita harus pandai menawar ongkos becak
D. jangan memberi hati kepada tukang becak
E. sebaiknya tukang becak harus tahu diri
Jawaban dan Analisis Soal 50

Jawaban: B

Inti konflik dan penutup: Tokoh merasa “menang” karena menawar/bersikap keras, bahkan membuang dua keping logam. Namun reaksi tukang becak yang diam dan perkataan ibu (“kamu perlu mencoba jadi tukang becak”) membalik sudut pandang: tokoh diminta merasakan posisi orang lain.

Mengapa B paling tepat: Amanat tersiratnya adalah empati: memahami keadaan tukang becak (atau pekerja kecil) sebelum bersikap merendahkan/meremehkan. Kalimat ibu merupakan penegasan moral agar tokoh melihat dari perspektif tukang becak.

Evaluasi opsi lain:

A tidak muncul sebagai pesan; cerita tidak menekankan “seleksi” tukang becak.

C bertentangan dengan arah amanat: cerita bukan mengajarkan teknik tawar-menawar, justru mengkritik sikap merasa menang.

D tidak relevan dengan isi; tidak ada konteks “memberi hati”.

E menyalahkan tukang becak, padahal penutup cerita mengarahkan kritik kepada sikap tokoh (penumpang) agar berempati.