Mode Disiplin
02:00
Target: ≤ 60 detik per soal.

1. In scientific observation, a phenomenon may happen when two variables touch each other and then separate under controlled conditions.

Terjemahan

Level 1: Dalam pengamatan ilmiah, suatu fenomena dapat terjadi ketika dua variabel bersentuhan satu sama lain dan kemudian terpisah dalam kondisi yang terkontrol.

Level 2: Kondisi yang terkontrol membuat dua variabel bisa bersentuhan lalu terpisah sehingga suatu fenomena dapat terjadi dalam pengamatan ilmiah.

2. In physics experiments, researchers often rub two materials so that they stick temporarily and later move due to applied force.

Terjemahan

Level 1: Dalam percobaan fisika, peneliti sering menggosok dua bahan sehingga keduanya menempel sementara dan kemudian bergerak karena gaya yang diberikan.

Level 2: Gaya yang diberikan membuat dua bahan yang sering digosok bisa menempel sementara lalu bergerak, dan hal itu dilakukan peneliti dalam percobaan fisika.

3. Engineers make theoretical models to explain how energy can build up and subsequently charge a system.

Terjemahan

Level 1: Insinyur membuat model teoretis untuk menjelaskan bagaimana energi dapat menumpuk dan selanjutnya mengisi suatu sistem.

Level 2: Energi bisa menumpuk lalu mengisi sebuah sistem, sehingga insinyur membuat model teoretis untuk menjelaskannya.

4. Scholars create conceptual frameworks to change perspectives and turn abstract ideas into measurable constructs.

Terjemahan

Level 1: Para cendekiawan membuat kerangka konseptual untuk mengubah sudut pandang dan mengubah gagasan abstrak menjadi konstruk yang dapat diukur.

Level 2: Kerangka konseptual dibuat agar sudut pandang bisa berubah, sehingga gagasan abstrak dapat diubah menjadi sesuatu yang bisa diukur oleh para cendekiawan.

5. In applied research, scientists use standardized terminology and call a process by its formal name, which is also called a technical classification.

Terjemahan

Level 1: Dalam penelitian terapan, ilmuwan menggunakan terminologi standar dan menyebut suatu proses dengan nama resminya, yang juga disebut sebagai klasifikasi teknis.

Level 2: Klasifikasi teknis adalah terminologi standar yang digunakan dan disebut dengan nama resmi, dan hal itu juga disebut oleh ilmuwan dalam penelitian terapan.

6. In manufacturing studies, materials can be made more efficient if they have many uses across different industrial sectors.

Terjemahan

Level 1: Dalam studi manufaktur, bahan dapat dibuat lebih efisien jika memiliki banyak kegunaan di berbagai sektor industri.

Level 2: Jika memiliki banyak kegunaan di berbagai sektor industri, maka bahan dapat dibuat lebih efisien dalam studi manufaktur.

7. Digital tools help researchers monitor performance indicators while systems run continuously over long observation periods.

Terjemahan

Level 1: Alat digital membantu peneliti memantau indikator kinerja sementara sistem berjalan terus-menerus selama periode pengamatan yang panjang.

Level 2: Jika sistem berjalan terus-menerus selama periode pengamatan yang panjang, maka alat digital membantu peneliti memantau indikator kinerja.

8. Policy analysis aims to reduce inefficiencies and replace outdated mechanisms with evidence-based solutions.

Terjemahan

Level 1: Analisis kebijakan bertujuan untuk mengurangi ketidakefisienan dan mengganti mekanisme yang usang dengan solusi berbasis bukti.

Level 2: Solusi berbasis bukti digunakan untuk mengganti mekanisme yang usang dan mengurangi ketidakefisienan melalui analisis kebijakan.

9. In quantitative reasoning, a statistical result may mean a significant shift in outcomes, as this means reducing uncertainty in data interpretation.

Terjemahan

Level 1: Dalam penalaran kuantitatif, suatu hasil statistik dapat berarti perubahan yang signifikan pada hasil, karena hal ini berarti mengurangi ketidakpastian dalam penafsiran data.

Level 2: Jika ketidakpastian dalam penafsiran data berkurang, maka hasil statistik bisa berarti ada perubahan yang signifikan pada hasil dalam penalaran kuantitatif.

10. Academic methodology integrates all these processes to ensure that theoretical assumptions and empirical findings align in a coherent research structure.

Terjemahan

Level 1: Metodologi akademik mengintegrasikan semua proses ini untuk memastikan bahwa asumsi teoretis dan temuan empiris selaras dalam suatu struktur penelitian yang koheren.

Level 2: Dalam suatu struktur penelitian yang koheren, asumsi teoretis dan temuan empiris dapat selaras karena semua proses tersebut diintegrasikan dalam metodologi akademik.