Soal 46. Cermatilah kalimat berikut!
Saya berharap dapat diterima bekerja di perusahaan Bapak. Atas perhatian dan budi baik Bapak, saya mengaturkan banyak terima kasih.
Perbaikan kalimat yang bercetak miring adalah ....
A. Atas perhatian Bapak, saya mengucapkan terima kasih.
B. Atas budi baik Bapak, saya sampaikan ucapan terima kasih.
C. Atas diterimanya saya bekerja di perusahaan Bapak, saya ucapkan terima kasih.
D. Demikian surat lamaran saya, dan untuk itu saya menyampaikan terima kasih.
E. Dengan diterimanya saya bekerja, saya mengucapkan banyak terima kasih.
Jawaban & Analisis
Jawaban: A
Kalimat miring kurang efektif karena memakai ungkapan “mengaturkan banyak terima kasih” yang tidak baku dalam konteks surat lamaran modern, dan frasa “perhatian dan budi baik” dapat diringkas agar lebih lugas. Perbaikannya seharusnya tetap sopan, efektif, dan tepat sasaran: mengucapkan terima kasih atas perhatian penerima surat.
Opsi A paling efektif dan sesuai ragam surat lamaran: “Atas perhatian Bapak, saya mengucapkan terima kasih.” Kalimatnya singkat, baku, dan jelas.
Opsi B masih mungkin, tetapi bentuk “saya sampaikan ucapan terima kasih” kurang ringkas dibanding “saya mengucapkan terima kasih.” Opsi C dan E mengandaikan pelamar sudah diterima bekerja, padahal surat lamaran belum tentu diterima. Opsi D menjadi penutup surat, bukan perbaikan isi kalimat terima kasih pada bagian itu. Karena itu ketepatan A \( \gt \) opsi lain, sedangkan opsi lain \( \lt \) dalam kebakuan dan kesesuaian konteks.
Soal 47. Cermatilah kalimat berikut!
Banyak buku lain yang memuat tulisan para anggota Forum Lingkar Pena (FLP), baik di pusat maupun di daerah-daerah. Buku ini bahasanya halus dan lancar. Pengarang berdakwah lewat cerita. Kekuatan visinya jelas. Seluruh royalti buku ini diterima para penulis yang telah menyumbangkan karyanya akan didedikasikan kepada Yusakh Ananda, seorang yang sudah renta, tetapi masih setia menulis sambil berjualan di kantin sekolah.
Kalimat resensi yang berupa keunggulan buku berdasarkan penjelasan tersebut adalah ....
A. Para penulis yang tergabung dalam Forum Lingkar Pena telah membuat banyak buku di pusat dan daerah.
B. Bahasa yang digunakan halus dan lancar, kekuatan visi cerita disampaikan melalui dakwah.
C. Yusakh Ananda merupakan penulis renta yang tetap berkarya sambil berjualan di kantin sekolah.
D. Seluruh royalti yang diterima penulis anggota FLP akan disumbangkan kepada Yusakh Ananda.
E. Para penulis anggota FLP sangat peduli terhadap visi, dakwah, dan pemakaian bahasa yang halus dan lancar dalam karya mereka.
Jawaban & Analisis
Jawaban: B
Keunggulan buku (resensi) biasanya menilai kualitas karya, misalnya gaya bahasa, penyajian, kekuatan tema/visi. Pada paragraf, penilaian yang eksplisit adalah: “bahasanya halus dan lancar,” “pengarang berdakwah lewat cerita,” dan “kekuatan visinya jelas.”
Opsi B merangkum tepat tiga keunggulan itu: bahasa halus-lancar dan visi/dakwah sebagai kekuatan isi. Opsi A hanya menyatakan banyaknya buku FLP (informasi umum, bukan keunggulan buku yang diresensi). Opsi C hanya informasi tentang Yusakh Ananda (bukan penilaian kualitas buku). Opsi D tentang royalti (aksi sosial), bukan keunggulan karya. Opsi E menambah klaim “sangat peduli” yang tidak dinyatakan sebagai penilaian buku secara langsung. Karena itu, ketepatan B \( \gt \) opsi lain, sedangkan opsi lain \( \lt \) dalam menyimpulkan keunggulan yang benar-benar disebut dalam teks.
Soal 48. Baca dan cermati puisi berikut!
Malam pekat, roh
Bersembunyi di balik mimpi, raga
Pulas menanggung lelah
....
Larik bermajas yang tepat untuk melengkapi puisi tersebut adalah ....
A. Kami datang tiba-tiba orang masih tertidur
B. Gempita menggelilat, meliuk, robohkan setiap yang tegak
C. Mereka tertidur dengan nyenyak sekali
D. Musibah disinyalir bersumber dari Gunung Merapi
E. Malapetaka menimpa desa terpencil itu
Jawaban & Analisis
Jawaban: B
Puisi pada awalnya menggunakan diksi puitis dan citraan: “malam pekat,” “roh bersembunyi,” “raga pulas menanggung lelah.” Larik pelengkap yang tepat harus tetap puitis dan mengandung majas (bahasa kias), bukan kalimat berita yang datar.
Opsi B menyajikan personifikasi dan citraan gerak yang kuat: “gempita” seolah-olah bisa “menggelilat, meliuk” dan “merobohkan” yang tegak. Ini jelas bermajas dan selaras dengan suasana puitis (getaran/gelombang yang mengusik tidur/lelah).
Opsi A dan C terlalu naratif-lugas. Opsi D bergaya laporan (“disinyalir”) sehingga tidak puitis. Opsi E masih umum dan cenderung berita, tidak sekuat majas pada B. Karena itu, daya puitik B \( \gt \) opsi lain, sedangkan opsi lain \( \lt \) dalam kesesuaian majas dan diksi.
Soal 49. Cermati kutipan drama berikut!
Hendra : Apa yang sedang kaupikirkan Syam? (duduk di samping Syamsu)
Syamsu : Kalau aku mendengar nasihat ibuku dulu, tentu aku sudah sukses sepertimu. Hidupmu sudah tenang sekarang.
Hendra : Semua ini kudapat dengan kerja keras. Kautahu kan kehidupan orang tuaku. Dapat pagi habis petang.
Syamsu : Aku tahu itu. Lihatlah kehidupanku sekarang. Bagai kerakap tumbuh di batu.
Hendra : Tidak usah kausesali lagi. ... Yang penting kaupikirkan kelanjutan hidupmu untuk masa yang akan datang. Aku akan membantumu, melepaskanmu dari kesulitan ini.
Syamsu : Terima kasih. Kaubenar-benar sahabat sejati.
Peribahasa yang tepat untuk melengkapi kutipan drama tersebut adalah ....
A. Ada batang cendawan tumbuh
B. Bagai makan buah simalakama
C. Seperti membuang garam ke laut
D. Nasi sudah menjadi bubur
E. Tiada rotan akar pun jadi
Jawaban & Analisis
Jawaban: D
Hendra menasihati Syamsu agar tidak menyesali masa lalu dan fokus pada masa depan (“Yang penting kaupikirkan kelanjutan hidupmu...”). Penghubung yang tepat adalah peribahasa yang menegaskan bahwa sesuatu yang sudah terjadi tidak dapat diubah, sehingga penyesalan tidak berguna.
Peribahasa “Nasi sudah menjadi bubur” bermakna keadaan sudah terlanjur terjadi dan tidak dapat diperbaiki kembali seperti semula; yang bisa dilakukan adalah mengambil pelajaran dan melanjutkan hidup. Ini paling sesuai dengan konteks nasihat Hendra.
Opsi B berarti serba salah memilih, bukan soal penyesalan masa lalu. Opsi C tentang usaha sia-sia. Opsi E tentang alternatif pengganti. Opsi A tidak relevan. Karena itu, ketepatan D \( \gt \) opsi lain, sedangkan opsi lain \( \lt \) dalam kecocokan makna dengan nasihat pada dialog.
Soal 50. Bacalah paragraf berikut dengan saksama!
Dalam karya Iwan Simatupang, Ziarah, misalnya setiap peristiwa yang menimpa tokoh kita terjalin dalam rangkaian yang tidak menunjukkan hubungan kausalitas, karena peristiwa itu hanya terjadi dalam pikiran atau batin tokoh itu. Khayalan dan imajinasi tumpang tindih dengan kejadian yang dialami oleh tokoh ini. Teknik penceritaan tersebut juga digunakan oleh tokoh Putu Wijaya. Hampir semua novelnya bercirikan teknik penceritaan demikian. Dalam Publik, misalnya, Putu Wijaya bercerita tentang banyak tokoh dan para tokohnya mengembangkan peristiwanya sendiri-sendiri.
Kalimat kritik yang sesuai dengan penjelasan dalam paragraf tersebut adalah ....
A. Di sini hadir banyak tokoh yang seolah-olah dia berada dalam diri tokoh yang lain.
B. Di sini hadir banyak tokoh, tetapi tidak jelas siapa mana tokoh yang menjadi tokoh utamanya.
C. Pikiran pengarang digunakan oleh tokoh-tokoh yang dihadirkan dari berbagai tingkat dan lingkungan.
D. Peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam impian para tokoh cerita tidak boleh dianggap sebagai peristiwa nyata.
E. Karena banyak tokoh dalam sebuah cerita dan membingungkan, sebaiknya dijadikan cerpen saja.
Jawaban & Analisis
Jawaban: B
Paragraf menjelaskan ciri teknik penceritaan: peristiwa tidak kausal (tidak runtut sebab-akibat) karena terjadi di batin/pikiran tokoh; imajinasi tumpang tindih; dan pada Putu Wijaya (Publik) terdapat “banyak tokoh” yang “mengembangkan peristiwanya sendiri-sendiri.” Ciri tersebut berpotensi membuat pembaca sulit menangkap pusat cerita atau tokoh utama.
Kalimat kritik yang paling sesuai adalah B: banyak tokoh hadir, tetapi tidak jelas siapa tokoh utama. Ini selaras dengan penjelasan bahwa para tokoh mengembangkan peristiwanya sendiri-sendiri (fragmentaris), sehingga pusat tokoh bisa kabur.
Opsi A tidak didukung paragraf (tidak ada gagasan tokoh berada dalam diri tokoh lain). Opsi C tidak jelas dan tidak berasal dari penjelasan teknik batin/imajinasi. Opsi D bersifat larangan normatif (“tidak boleh dianggap”), padahal paragraf hanya memaparkan teknik, bukan memberi aturan. Opsi E terlalu jauh dan menghakimi bentuk karya, tidak diturunkan langsung dari penjelasan. Karena itu, kesesuaian B \( \gt \) opsi lain, sedangkan opsi lain \( \lt \) dalam keterkaitan dengan isi paragraf.
Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA/MA
- Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA/MA - Paket 1
- Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA/MA - Paket 2
- Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA/MA - Paket 3
- Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA/MA - Paket 4
- Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA/MA - Paket 5
- Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA/MA - Paket 6
- Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA/MA - Paket 7
- Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA/MA - Paket 8
- Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA/MA - Paket 9
- Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA/MA - Paket 10