Soal 22
Cermati puisi berikut untuk mengerjakan soal nomor 22 s.d. 24!
|
Waktu peluru pertama meledak (Subagio Sastrowardoyo) |
Suasana yang tergambar dalam puisi tersebut adalah ....
A. kacau
B. tenang
C. tegang
D. bising
E. sunyi
Jawaban & Analisis
Jawaban: C
Analisis: Puisi memuat situasi perang dan keadaan siaga: “Waktu peluru pertama meledak”, “Tangan penuh kerja dan mata terjaga”, “Harap berjaga. Kita memasuki daerah perang”, serta pilihan ekstrem “mati atau menang”. Diksi-diksi ini menimbulkan suasana tegang, yaitu kondisi penuh ancaman, kewaspadaan, dan tekanan.
A kurang tepat: “kacau” biasanya menekankan keadaan tidak teratur; puisi justru menekankan siaga dan fokus.
B berlawanan dengan suasana perang dan siaga.
C tepat: ancaman perang, kewaspadaan, dan ultimatum hidup-mati menggambarkan ketegangan.
D “bising” tidak dominan; malah ada “Mulut dan bumi berdiam diri”.
E “sunyi” muncul sekilas, tetapi keseluruhan suasana tetap tegang karena perang dan ancaman.
Soal 23
Makna lambang “pantai dan langit” dalam puisi tersebut adalah ....
A. wilayah Indonesia
B. daerah kekuasaan
C. tubuh yang luka
D. kesenian dan kebudayaan
E. keluarga pejuang
Jawaban & Analisis
Jawaban: A
Analisis: Frasa “mengawasi pantai dan langit” menunjukkan wilayah penjagaan dalam konteks perang. “Pantai” dapat melambangkan batas laut (wilayah pesisir) dan “langit” melambangkan ruang udara; keduanya menandai cakupan wilayah sebuah negara. Karena itu lambang “pantai dan langit” paling tepat dimaknai sebagai wilayah Indonesia (wilayah darat/laut dan ruang udara yang dijaga).
A tepat karena mengarah pada wilayah negeri yang harus diawasi dan dipertahankan.
B terlalu abstrak; puisi menekankan wilayah konkret yang diawasi dalam perang.
C tidak sesuai; “tubuh luka” sudah disebut sebagai gambaran korban, bukan makna “pantai dan langit”.
D tidak ada konteks seni-budaya dalam kutipan.
E tidak didukung; “pantai dan langit” bukan keluarga, melainkan ruang penjagaan.
Soal 24
Maksud isi larik yang tercetak miring adalah ....
A. menyelesaikan tugas dan tetap waspada terhadap bahaya yang mengancam
B. seorang pekerja dalam mengemban tugas yang diberikan kepadanya
C. beratnya tanggung jawab pekerja dan seorang petugas lapangan
D. kesedihan seseorang dalam menyelesaikan tugas yang diberikan kepadanya
E. langkah-langkah penyelesaian suatu tugas yang dilakukan oleh seseorang
Jawaban & Analisis
Jawaban: A
Analisis: Larik miring yang dimaksud tampak pada bagian yang menekankan kondisi kerja dan kewaspadaan (misalnya “Tangan penuh kerja dan mata terjaga” dan perintah “Harap berjaga”). Intinya bukan sekadar bekerja, tetapi bekerja sambil tetap siaga karena ancaman perang/khianat. Karena itu, maksudnya adalah menyelesaikan tugas sekaligus waspada terhadap bahaya yang mengancam.
A tepat karena memadukan dua inti larik: bekerja (“tangan penuh kerja”) dan waspada (“mata terjaga”, “harap berjaga”).
B terlalu umum dan tidak menangkap unsur “siaga/ancaman”.
C mendekati, tetapi tidak sejelas A dan tidak menegaskan aspek kewaspadaan terhadap bahaya.
D tidak sesuai karena larik tidak menonjolkan kesedihan, melainkan kesiagaan.
E tidak tepat karena tidak berisi prosedur langkah-langkah, melainkan sikap siaga.
Soal 25
Cermati gurindam berikut!
|
Perkataan tajam jika dilepas |
Maksud isi gurindam tersebut adalah ....
A. Kalau diri punya masa lalu buruk pasti akan menyusahkan.
B. Orang yang suka berkata-kata akan ditimpa bahaya besar.
C. Kalau kita berbicara kasar akan melukai hati orang lain.
D. Jika gemar berkata kasar nanti akan mendapat nista.
E. Orang yang suka berbuat jahat nanti namanya akan tercemar.
Jawaban & Analisis
Jawaban: C
Analisis: Gurindam menyamakan “perkataan tajam” dengan sesuatu yang beracun (“racun dan upas”). Maknanya, kata-kata yang menyakitkan/keras dapat mencederai orang lain sebagaimana racun merusak tubuh. Opsi yang paling tepat menangkap akibat langsung dari perkataan tajam adalah “melukai hati orang lain”.
A tidak relevan dengan tema “perkataan tajam”.
B terlalu umum; masalahnya bukan “suka berkata-kata”, melainkan “perkataan tajam”.
C tepat karena sesuai hubungan sebab-akibat: perkataan tajam \(\rightarrow\) melukai orang lain.
D masih mungkin, tetapi lebih jauh (konsekuensi sosial “nista”), sedangkan gurindam menekankan daya “racun” yang langsung menyakiti.
E membahas perbuatan jahat, bukan perkataan tajam.