Baca juga
- Pesantren Nurul Hikmah Trenggalek
- pesantren Sulamul Huda Ponorogo
- pesantren Hidayatul Quran
- Pesantren Darul Ihsan Madiun
Metode mengaji Muhammadiyah
Di tengah semangat masyarakat untuk kembali dekat dengan Al-Qur’an, pembahasan tentang “metode mengaji” menjadi semakin penting. Banyak orang tua, guru, dan pengelola lembaga pendidikan menyadari bahwa mengaji bukan hanya soal bisa membaca huruf Arab, apalagi sekadar mengejar hafalan. Mengaji yang bermakna adalah proses panjang: membaca dengan benar, memahami, menghayati, lalu menghadirkan nilai Al-Qur’an dalam tindakan sehari-hari. Di sinilah pendekatan Muhammadiyah menarik untuk dibahas, karena sejak awal gerakannya, Muhammadiyah menempatkan Al-Qur’an sebagai sumber pencerahan yang melahirkan perubahan sosial.
Secara historis, tradisi mengaji di Muhammadiyah sangat erat dengan gagasan tadabbur (memahami dan merenungkan makna) dan orientasi amal nyata. Kisah yang paling sering dikutip adalah ketika KH. Ahmad Dahlan mengulang pengajian surat Al-Ma’un berkali-kali bukan untuk menghafalkan semata, melainkan untuk mendorong murid-muridnya bergerak membantu fakir miskin dan anak yatim. Tradisi ini terekam dalam berbagai tulisan Muhammadiyah, termasuk penuturan bahwa Kiai Dahlan mengulang tafsir Al-Ma’un berhari-hari, bahkan disebut berbulan-bulan, sampai lahir tindakan sosial praksis.
Dengan cara pandang tersebut, “metode mengaji Muhammadiyah” dapat dipahami sebagai pendekatan yang menghubungkan Al-Qur’an dengan pembentukan karakter, daya pikir kritis, dan kemanfaatan sosial. Dalam perkembangan pendidikan Muhammadiyah modern, pendekatan ini kemudian dilengkapi oleh berbagai metode teknis belajar membaca Al-Qur’an yang lebih praktis dan sistematis, seperti metode Iqra’, metode Tajdied, metode Al-Husna, dan di banyak sekolah juga menggunakan sistem seperti Ummi. (Catatan penting: metode Iqra’ dikenal luas disusun oleh KH. As’ad Humam beserta Tim Tadarus AMM Yogyakarta, bukan oleh KH. Ahmad Dahlan.)
1) Inti Metode Mengaji Muhammadiyah: Membaca untuk Memahami, Memahami untuk Berbuat
Pondasi utama mengaji dalam tradisi Muhammadiyah adalah menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup yang membentuk tindakan. Prinsip ini tampak jelas dari “pelajaran Al-Ma’un” Kiai Dahlan: ayat tidak berhenti di lisan, tetapi harus turun menjadi kepedulian sosial.
Karena itu, mengaji dalam pendekatan Muhammadiyah cenderung menekankan tiga lapisan:
- Membaca dengan benar: bacaan tartil, makhraj jelas, dan tajwid terjaga.
- Memahami dan merenungkan: minimal memahami pesan utama ayat/surah, sesuai tingkat usia dan kemampuan.
- Mengamalkan: mendorong perubahan perilaku dan kontribusi sosial, sesuai nilai Al-Qur’an.
Dalam konteks pendidikan, pola ini membuat proses mengaji tidak terjebak pada target mekanis. Anak bukan hanya “lulus jilid”, tetapi dibimbing merasakan makna: mengaji menumbuhkan adab, disiplin, empati, dan tanggung jawab.
2) Metode Iqra’: Praktis, Sistematis, dan Mengaktifkan Santri
Di ranah pembelajaran baca Al-Qur’an untuk pemula, metode Iqra’ menjadi salah satu metode paling populer di Indonesia dan banyak digunakan di TPA/TPQ, sekolah, dan majelis taklim. Metode ini disusun oleh KH. As’ad Humam bersama Tim Tadarus AMM Yogyakarta, dengan ciri utama: sistematis, bertahap, membuat santri aktif, dan bisa digunakan privat maupun klasikal.
Keunggulan metode Iqra’ terletak pada kemudahan implementasi di berbagai konteks. Di sekolah Muhammadiyah, Iqra’ sering digunakan sebagai “jalur cepat” untuk memastikan siswa segera bisa membaca, sebelum masuk penguatan tahsin, tajwid, dan program pembiasaan tilawah. Di lapangan, Iqra’ juga fleksibel untuk dikombinasikan dengan pembelajaran yang lebih reflektif: setelah anak bisa membaca, guru dapat mengarahkan pada tadabbur sederhana dan pembentukan karakter.
3) Metode Tajdied: Integrasi SAS dan Mnemonic untuk Belajar yang Analitis dan Menyenangkan
Seiring kebutuhan sekolah yang ingin pembelajaran lebih terstruktur dan “ramah anak”, muncul inovasi seperti metode Tajdied. Dalam kajian implementasi metode Tajdied disebutkan bahwa metode ini mengintegrasikan pendekatan SAS (Struktural Analitik Sintetik) dan mnemonic untuk mempercepat kemampuan membaca Al-Qur’an dengan suasana pembelajaran yang menyenangkan.
Secara sederhana, SAS membantu siswa memahami pola (struktur) bacaan, menganalisis bagian-bagiannya, lalu menyusun kembali (sintetik) menjadi bacaan utuh. Mnemonic membantu menguatkan ingatan melalui “kata kunci” yang mudah diingat. Dalam praktik di kelas, pendekatan seperti tepuk atau ritme sering dipakai untuk membedakan panjang-pendek bacaan (mad), sehingga anak tidak hanya membaca, tetapi juga “merasakan” ketukan bacaan dengan tubuhnya.
Bagi sekolah Muhammadiyah yang menekankan disiplin akademik dan keteraturan pembelajaran, Tajdied menjadi opsi yang menarik karena memadukan latihan teknis dengan gaya belajar modern: analitis, bertahap, dan komunikatif. Namun tetap, tujuan akhirnya bukan sekadar cepat tamat, melainkan bacaan yang benar dan kebiasaan muroja’ah yang kuat.
4) Metode Al-Husna: Scanning – Story – Saying untuk Memudahkan Tajwid dan Pelafalan
Metode Al-Husna juga berkembang sebagai metode belajar membaca Al-Qur’an yang menekankan kemudahan dan suasana belajar yang menyenangkan. Dalam salah satu kajian implementasi, disebutkan bahwa teknik inti Al-Husna adalah scanning–story–saying, yaitu mengenali ciri huruf (scanning), penguatan melalui cerita atau pengaitan (story), lalu pelafalan yang tepat (saying).
Ingin Mendapatkan Informasi Lebih Lanjut?
Bagi wali santri yang ingin mengetahui informasi lebih detail, silakan menghubungi via WhatsApp terlebih dahulu agar informasinya jelas dan sesuai kebutuhan.
📲 Hubungi WhatsAppRekomendasi
- Pesantren Darul Rohmah MAN 2 Kota Madiun
- Pesantren Halimatul Khoiriyah Madiun
- Pesantren Hidayatul Hasanah Magetan
- pesantren Fajrussalam
Metode ini banyak dipromosikan sebagai pendekatan yang membantu peserta didik membaca lebih cepat dan tepat, dengan perhatian pada detail huruf hijaiyah dan tanda baca. Karena pendekatannya “step-by-step”, Al-Husna bisa digunakan lintas usia—anak, remaja, hingga dewasa—yang baru mulai belajar atau ingin memperbaiki bacaan.
Di lembaga pendidikan, Al-Husna sering dipilih ketika sekolah ingin pembelajaran baca Al-Qur’an terasa ringan, tidak menegangkan, tetapi tetap menghasilkan bacaan tartil yang rapi. Kekuatan metode ini adalah membuat anak merasa berhasil lebih cepat, sehingga motivasi terjaga.
5) Ummi dan Budaya Standarisasi Pembelajaran
Di beberapa sekolah Muhammadiyah, sistem Ummi juga digunakan sebagai program pembelajaran membaca Al-Qur’an. Dalam praktik pendidikan, Ummi dikenal menekankan keteraturan, pelatihan guru, dan standarisasi pembelajaran agar kualitas bacaan lebih seragam. Pada level manajemen pendidikan, pendekatan seperti ini biasanya dipilih karena sekolah ingin memastikan mutu: guru punya panduan jelas, evaluasi lebih terukur, dan progres siswa bisa dipantau.
Intinya, di Muhammadiyah modern, inovasi metode (Iqra’, Tajdied, Al-Husna, Ummi, dan lainnya) bukan untuk “bersaing nama”, tetapi menjawab kebutuhan pendidikan: bagaimana membuat pembelajaran Al-Qur’an efektif, menyenangkan, dan berkualitas.
6) Mengaji Muhammadiyah dan Pembentukan Daya Pikir Kritis
Satu ciri penting pendekatan Muhammadiyah adalah menggabungkan tradisi tilawah dengan diskusi, tanya jawab, dan pembiasaan berpikir. Ini sejalan dengan tradisi pendidikan Muhammadiyah yang sejak awal memperkenalkan sistem sekolah modern dan pengajaran klasikal yang lebih terstruktur.
Dalam mengaji, “berpikir kritis” bukan berarti memperdebatkan ayat tanpa adab, tetapi membiasakan siswa bertanya: apa pesan ayat ini, apa maknanya, apa dampaknya bagi diri saya, dan amal apa yang bisa lahir dari pemahaman itu. Pola ini sangat cocok untuk remaja yang sedang tumbuh nalar dan identitasnya. Mereka tidak hanya “menerima”, tetapi juga memahami mengapa Al-Qur’an relevan dengan hidup.
7) Relevansi untuk Ekosistem Pendidikan: Sekolah, Rumah Tahfidz, hingga Pesantren Tahifdz
Dalam praktik di masyarakat, pendekatan Muhammadiyah bisa diterapkan lintas lembaga:
- Sekolah: fokus pada literasi baca Al-Qur’an, tahsin, pembiasaan tilawah, serta tadabbur sederhana yang membentuk karakter.
- rumah tahfidz: penguatan rutin di luar jam sekolah, pembiasaan muroja’ah, mentoring adab, dan dukungan komunitas.
- pondok tahfidz dan pesantren tahifdz: pembinaan lebih intensif untuk tahfidz (hafalan), tahsin, muroja’ah ketat, dan pembentukan karakter dalam ritme asrama.
Perlu ditegaskan: pendekatan Muhammadiyah tidak identik “anti hafalan”. Banyak lembaga Muhammadiyah juga memiliki program tahfidz. Bedanya, hafalan diarahkan agar tidak berhenti pada capaian angka, melainkan menjadi energi akhlak dan amal. Prinsip Kiai Dahlan tentang Al-Ma’un menjadi pengingat: bacaan harus melahirkan kepedulian.
Penutup: Mengaji sebagai Jalan Membumikan Al-Qur’an
Jika dirangkum, metode mengaji Muhammadiyah adalah upaya membumikan Al-Qur’an melalui dua jalur sekaligus: (1) memperkuat kualitas membaca dengan metode yang adaptif dan modern seperti Iqra’, Tajdied, dan Al-Husna; serta (2) memperkuat makna Al-Qur’an sebagai pedoman hidup melalui tadabbur dan amal nyata, sebagaimana dicontohkan KH. Ahmad Dahlan lewat pengulangan surat Al-Ma’un hingga lahir aksi sosial.
Pada akhirnya, tujuan mengaji bukan hanya menghasilkan bacaan yang fasih, tetapi melahirkan manusia yang berubah: lebih jujur, lebih disiplin, lebih peduli, dan lebih dekat kepada Allah. Baik melalui sekolah, rumah tahfidz, pondok tahfidz, maupun pesantren tahifdz, semangatnya sama: membaca untuk memahami, memahami untuk berbuat, dan berbuat untuk menebar rahmat.