Mode Disiplin
02:00
Target: ≤ 60 detik per soal.

soal 52

Soal: Betapa bagusnya kelakuanmu sehingga sudah dua orang temanmu menangis karena keisenganmu.

Penggunaan majas yang sama dengan kalimat tersebut terdapat pada kalimat ....

  1. SMP Sukamaju memboyong piala bola voli.
  2. Pemuda harus belajar supaya tidak jadi sampah masyarakat.
  3. Apa yang bapak harapkan dari orang semiskin seperti saya ini.
  4. Tulisannya terlalu bagus sampai-sampai tak bisa terbaca.
Jawaban & Analisis

Jawaban: D

Analisis inti: Kalimat soal memakai majas ironi/sindiran halus: memuji secara lahir (“betapa bagusnya kelakuanmu”) tetapi maksudnya menyindir karena perilaku itu justru membuat orang menangis.

Analisis per opsi:

  • A Majas metonimia/penyebutan lembaga mewakili orangnya (“SMP Sukamaju” mewakili tim). Bukan sindiran ironi.
  • B Mengandung ungkapan “sampah masyarakat” yang bersifat metafora, bukan pola pujian untuk menyindir.
  • C Bernada merendah, tetapi bukan ironi sindiran seperti kalimat soal.
  • D Bentuknya mirip: pujian ekstrem “terlalu bagus” tetapi maknanya menyindir karena akibatnya justru negatif (tak bisa terbaca). Ini sejenis dengan pola ironi pada soal.

soal 53

Soal: Kata berimbuhan me- yang benar penulisannya terdapat pada kalimat....

  1. Kakak sedang mencat pintu rumah.
  2. Pasukan itu membont markas musuh.
  3. Tukang besi itu membor pintu pagar.
  4. Rita sedang mengepel lantai rumah.
Jawaban & Analisis

Jawaban: D

Analisis per opsi:

  • A Salah ejaan: yang benar mengecat, bukan “mencat”.
  • B Salah ejaan: yang benar membom, bukan “membont”.
  • C Kurang tepat secara bentuk baku dalam konteks soal. Bentuk yang lebih baku untuk aktivitas membuat lubang dengan bor adalah mengebor.
  • D Benar: mengepel sudah tepat penulisan imbuhan meN- pada kata dasar “pel”.

soal 54

Soal: Perhatikan paragraf berikut!

Untuk menuju ... pantai Parangtritis yang terletak \( 27 \) kilometer ... kota Yogyakarta, kita dapat menempuh salah satu ... dua jalur jalan. Jalur pertama lurus ... arah selatan Yogyakarta hingga sampai Kretek. Jalur kedua jalan yang memintas Imogiri.

Kata depan yang tepat untuk melengkapi paragraf tersebut adalah....

  1. ke, di, dari, dari, ke
  2. ke, dari, dari, di, ke
  3. ke, dari, dari, ke, di
  4. ke, ke, dari, dari, di
Jawaban & Analisis

Jawaban: C

Analisis isian kata depan:

  • “Untuk menuju ke pantai Parangtritis ...” \(\rightarrow\) tujuan memakai “ke”.
  • “... terletak \( 27 \) kilometer dari kota Yogyakarta ...” \(\rightarrow\) jarak diukur dari titik acuan memakai “dari”.
  • “... menempuh salah satu dari dua jalur jalan.” \(\rightarrow\) pilihan berasal dari himpunan dua jalur.
  • “Jalur pertama lurus ke arah selatan Yogyakarta ...” \(\rightarrow\) arah tujuan memakai “ke”.
  • “... hingga sampai di Kretek.” \(\rightarrow\) tempat/posisi memakai “di”.

Urutan yang tepat menjadi: ke, dari, dari, ke, di.

Analisis per opsi:

  • A Salah karena jarak seharusnya “kilometer dari”, bukan “kilometer di”, dan bagian arah lebih tepat “ke arah”.
  • B Salah pada bagian “lurus di arah” (tidak lazim) dan “sampai ke Kretek” kurang tepat karena “sampai” lazimnya diikuti “di”.
  • C Paling tepat dan sesuai fungsi kata depan tiap posisi.
  • D Salah pada awal “menuju ke” benar, tetapi jarak “kilometer ke kota” salah; seharusnya “kilometer dari”.

soal 55

Soal: Bacalah puisi berikut!

Pernah tuan tegak di tepi sawah
Padi beriak menyibak sukma
Pipit bercicit
Riang haram bersusah
Pernah tuan lihat air berdesah
Dicegah batu membuih putih
Julung beringin berbondong-bondong
Hati terpaut ingin turut berenang-renang

Citraan penulisan puisi tersebut adalah....

  1. perasaan, pencerminan
  2. penglihatan, perabaan
  3. perasaan, pendengaran
  4. pendengaran, penglihatan
Jawaban & Analisis

Jawaban: D

Analisis inti: Puisi memunculkan citraan bunyi dan citraan visual.

Bukti citraan:

  • Pendengaran: “Pipit bercicit”, “air berdesah”.
  • Penglihatan: “tuan tegak di tepi sawah”, “padi beriak”, “membuih putih”, “berbondong-bondong”.

Analisis per opsi:

  • A “pencerminan” bukan kategori citraan indra yang lazim; tidak tepat.
  • B Ada visual kuat, tetapi perabaan tidak dominan. Yang dominan justru bunyi dan visual.
  • C Ada nuansa perasaan (“hati terpaut”), tetapi citraan bunyi dan visual jauh lebih nyata sebagai pengindraan.
  • D Tepat karena memuat bunyi (pendengaran) dan tampak (penglihatan) secara jelas.

soal 56

Soal: Perhatikan pantun berikut!

Kalau puan-puan cerana
Ambil ... \( (1) \) di dalam peti
Kalau ... \( (2) \) bijaksana
Binatang apa tanduk di kaki

Kata yang tepat untuk melengkapi pantun tersebut adalah...

  1. \( (1) \) kertas, \( (2) \) anda
  2. \( (1) \) jarum, \( (2) \) kamu
  3. \( (1) \) gelas \( (2) \) tuan
  4. \( (1) \) kaca \( (2) \) kalian
Jawaban & Analisis

Jawaban: B

Analisis inti pantun: Pantun memperhatikan rima dan kelaziman diksi.

  • Baris 1 berakhir bunyi -na (cerana), maka baris 2 idealnya berakhir bunyi serupa agar berima: “peti” memang berakhir -ti, sehingga baris 3 juga berakhir -na (bijaksana) dan baris 4 berakhir -ki (kaki). Jadi pasangan rima adalah baris \( 1 \) dengan \( 3 \), dan baris \( 2 \) dengan \( 4 \).
  • Isian \( (1) \): “Ambil jarum di dalam peti” adalah ungkapan yang masuk akal (jarum biasa disimpan di peti/kotak jahit), sementara “kertas/gelas/kaca di dalam peti” kurang wajar untuk konteks pantun ini.
  • Isian \( (2) \): “Kalau kamu bijaksana” terasa paling natural dan umum dalam pantun (sapaan langsung), sedangkan “kalian” cenderung jamak dan kurang padu dalam struktur pantun ini.

Analisis per opsi:

  • A “ambil kertas di dalam peti” kurang wajar; diksi tidak kuat sebagai sampiran.
  • B “ambil jarum di dalam peti” wajar, dan “kalau kamu bijaksana” padu sebagai pengantar isi.
  • C “ambil gelas di dalam peti” tidak wajar; gelas tidak lazim disimpan “di dalam peti” dalam konteks sampiran pantun.
  • D “ambil kaca di dalam peti” tidak wajar; “kalian bijaksana” juga kurang padu (jamak) dan terasa kaku.