Mode Disiplin
02:00
Target: ≤ 60 detik per soal.

Soal 56

T i n a : Tuhan menakdirkan semua nasib manusia, kita hanya menjalani.
I b u : Nah, pikiran begitu itulah yang tak kusukai, kau sudah ditakdirkan Tuhan punya suami buta, tak adakah niatmu, tidak adakah usahamu untuk mengubah takdir itu? Sebab takdir itu baru jatuh setelah manusia berusaha. Tina, kau bukan anakku jika kau tidak berani melawan takdir yang pahit.
T i n a : Aku sudah berusaha, Abas juga sudah berusaha, dan inilah hasilnya. Kami dapat membelanjai diri untuk hidup sehari-hari.

Konflik yang terjadi antara tokoh Tina dan ibu didasari oleh ....

A. pandangan mengenai takdir
B. usaha melawan takdir
C. nasib merupakan takdir
D. perbedaan takdir manusia
E. pasrah menjalani takdir

Lihat Jawaban & Analisa

Jawaban: A

Inti konflik: Konflik muncul karena perbedaan cara memandang “takdir” antara Tina dan ibunya. Tina menyatakan “Tuhan menakdirkan semua nasib manusia, kita hanya menjalani” (cenderung menerima), sedangkan ibu menolak cara pikir itu dan menegaskan takdir “baru jatuh setelah manusia berusaha” serta mendorong Tina “melawan takdir yang pahit”.

A paling tepat: Yang dipertentangkan adalah pandangan (sikap/konsep) tentang takdir: pasrah vs harus dilawan/diubah dengan usaha. Perbedaan pandangan inilah yang memicu pertengkaran.

B kurang tepat: “Usaha melawan takdir” hanya salah satu sisi (tuntutan ibu), sedangkan akar masalahnya adalah perbedaan prinsip/pendapat tentang makna takdir.
C kurang tepat: Tina memang menyamakan nasib dengan takdir, tetapi itu hanya pernyataan Tina, bukan dasar konflik dua pihak secara lengkap.
D salah arah: Mereka tidak membahas “takdir manusia berbeda-beda”, melainkan bagaimana menyikapi takdir pahit.
E kurang tepat: “pasrah” hanya menggambarkan Tina, sedangkan konflik terjadi karena ibu menentangnya.

Catatan simbol: konflik muncul karena dua pandangan bertentangan, sehingga perbedaannya \(2 \gt 1\) dan bukan \(1 \lt 2\).


Soal 57

“Aku tidak percaya! Aku tidak percaya, jika hanya oleh melompat-lompat dan berkejaran semalaman penuh. Aku tidak percaya itu. Aku mulai percaya desas-desus itu bahwa kau orang yang tamak. Orang yang kikir. Penghisap. Lintah darat. Inilah pengaranannya! Aku mulai percaya desas-desus itu, tentang dukun-dukun yang mengilui luka sunatan anak-anak kita. Aku mulai yakin bahwa itu karena kesombonganmu, kekikiranmu, angkuhmu, dan tak mau tahu dengan mereka. Aku yakin, mereka menaruh racun di pisau dukun-dukun itu.”
(Panggilan Rasul, Hamzad Rangkut)

Pendeskri psian watak tokoh “aku” yang digunakan pengarang dalam cerpen di atas melalui ....

A. menguraikan watak tokoh
B. tanggapan tokoh lain
C. dialog antartokoh
D. lingkungan tokoh
E. lewat pikiran tokoh

Lihat Jawaban & Analisa

Jawaban: C

Inti konsep: Cara pengarang menggambarkan watak tokoh dapat melalui: uraian langsung, dialog, tindakan, pikiran, tanggapan tokoh lain, atau lingkungan. Pada kutipan, watak tokoh “aku” tampak dari ucapan langsung yang keras dan penuh tuduhan (“tamak”, “kikir”, “lintah darat”).

C benar: Kutipan seluruhnya berupa dialog/ucapan tokoh “aku” (kalimat langsung dengan tanda petik). Melalui dialog itulah pembaca menangkap watak tokoh: emosional, mudah menuduh, keras, dan penuh prasangka.

A salah: Tidak ada uraian narator yang menjelaskan watak tokoh secara langsung (misalnya “tokoh aku bersifat...”).
B kurang tepat: B adalah penilaian dari tokoh lain, sedangkan yang muncul adalah ucapan tokoh “aku” sendiri.
D salah: Lingkungan tidak dipaparkan sebagai cara utama membangun watak pada kutipan ini.
E kurang tepat: Pikiran tokoh biasanya berupa monolog batin/isi hati, sedangkan di sini berupa ucapan/dialog langsung.

Catatan simbol: bukti dialog (langsung) lebih kuat daripada dugaan dari lingkungan, seperti \(2 \gt 1\) dan bukan \(1 \lt 2\).


Soal 58

“Sedan mudaku aku di sini, bukan? Tak kuingat punya istri, punya anak, punya keluarga seperti orang-orang lain, tahu? Tak kupikirkan hidupku sendiri. Aku tak ingin jadi kaya, bikin rumah. Segala kehidupanku, lahir batin, kuserahkan kepada Allah Subhanahu wata'ala. Tidak pernah aku menyusahkan orang lain. Lalat seekor aku enggan membunuhnya. Tapi kini aku dikatakan manusia terkutuk. Umpan neraka. Marahlah Tuhan kalau itu yang kulakukan, sangkamu? Akan ditukutki-Nya aku kalau selama hidupku aku mengabdi kepada-Nya? Tak kupikirkan hari esokku, karena aku yakin Tuhan itu ada dan pengasih penyayang kepada umat-Nya yang tawakal. Aku bangun pagi-pagi. Aku bersuci. Aku pukul bedug membangunkan manusia dari tidurnya, supaya bersujud kepada-Nya. Aku sembahyang setiap waktu, siang malam, pagi sore. Aku sebut-sebut nama-Nya selalu. Aku puji-puji dia. Aku baca kitab-Nya. Alhamdulillah, kataku bila aku menerima karunia-Nya.”
(Robohnya Surau Kami: A. A. Navis)

Nilai yang terkandung dalam cerpen di atas adalah ....

A. moral
B. sosial
C. agama
D. budaya
E. estetika

Lihat Jawaban & Analisa

Jawaban: C

Inti konsep: “Nilai” pada kutipan ditentukan dari gagasan yang paling menonjol. Kutipan penuh dengan rujukan ibadah dan hubungan manusia dengan Tuhan: berserah kepada Allah, bersuci, memukul bedug, sembahyang, menyebut nama-Nya, membaca kitab-Nya, bersyukur.

C benar: Nilai yang dominan adalah agama, karena isi kutipan menekankan praktik ibadah, ketakwaan, tawakal, dan syukur kepada Tuhan.

A kurang tepat: Ada moral tersirat, tetapi yang tampak langsung pada kutipan adalah aktivitas religius/ibadah.
B kurang tepat: Tidak menonjolkan hubungan sosial kemasyarakatan, lebih pada relasi individu dengan Tuhan.
D salah: Tidak fokus pada adat/kebiasaan budaya sebagai pokok nilai.
E salah: Estetika berkaitan dengan keindahan bahasa/artistik; yang ditanya nilai isi, bukan gaya.

Catatan simbol: rujukan ibadah lebih dominan daripada unsur sosial, seperti \(2 \gt 1\) dan bukan \(1 \lt 2\).


Soal 59

“... hai anakku, janganlah engkau beringin-ingin peperangan. Jikalau mudah sekalipun, ketahui bahwa segala perbuatan itu niscaya berbalas jua. Maka peliharalah engkau kan akhir pekerjaan, bahwa bahaya itu terkejut datangnya. Maka seyogianya engkau dari dahulu pelihara daripada dan pertetjuaan mulutmu dengan akalmu.”
(Hikayat Iskandar Zulkarnain dalam Kesusastraan Melayu Klasik Sepanjang Abad karya Teuku Iskandar)

Nilai-nilai yang terkandung dalam kutipan di atas adalah....

A. Setiap orang hendaknya selalu menjaga persahabatan bukan permusuhan.
B. Setiap pekerjaan itu ada bahayanya maka berhati-hatilah dengan ucapan.
C. Setiap terjadi peperangan pasti akan timbul pembalasan.
D. Segala kata yang terucap harus dilandasi dengan emosi.
E. Segala ucap hendaknya dipikirkan bersama-sama.

Lihat Jawaban & Analisa

Jawaban: B

Inti pesan kutipan: Teks menasihati anak agar tidak menginginkan peperangan, menyadari semua perbuatan akan berbalas, serta berhati-hati karena bahaya dapat datang tiba-tiba. Di bagian akhir, ditekankan agar menjaga ucapan: “pelihara ... pertetjuaan mulutmu dengan akalmu” (ucapan harus sejalan dengan akal/pikiran).

B paling tepat: B merangkum dua poin penting sekaligus: (1) pekerjaan/perbuatan bisa membawa bahaya, (2) ucapan harus dijaga (dipikirkan). Ini sesuai dengan isi kutipan yang menekankan kewaspadaan dan pengendalian ucapan.

A kurang tepat: Persahabatan/permusuhan tidak dinyatakan langsung; fokusnya pada peperangan dan kehati-hatian.
C terlalu sempit: Hanya mengambil bagian “berbalas” tetapi mengabaikan nasihat tentang kehati-hatian dan menjaga ucapan.
D bertentangan: Kutipan justru menekankan akal, bukan emosi.
E kurang tepat: Tidak ada gagasan “bersama-sama”; yang ada “mulutmu dengan akalmu” (pribadi).

Catatan simbol: nasihat berbasis akal lebih baik daripada emosi, seperti \(2 \gt 1\) dan bukan \(1 \lt 2\).


Soal 60

Tuhan Telah Menegurmu

Tuhan telah menegurmu dengan cukup sopan
lewat perut anak-anak yang kelaparan
Tuhan telah menegurmu dengan cukup sopan
lewat semayup suara adzan

Tuhan telah menegurmu dengan cukup menahan kesabaran
lewat gempa bumi yang berguncang
deru angin yang meraung kencang
hujan dan banjir yang melintang pukang
Adakah kau dengar?

Puisi tersebut mengungkapkan....

A. manusia yang melupakan Tuhannya
B. Tuhan menegur manusia melalui bencana
C. teguran Tuhan ada yang ringan dan ada yang berat
D. manusia selalu ada dalam kasih sayang Tuhan
E. siksaan Tuhan akan datang bagi orang yang melupakan

Lihat Jawaban & Analisa

Jawaban: C

Inti konsep: Makna puisi ditarik dari pengulangan gagasan dan perbandingan yang dibuat penyair. Puisi menyebut teguran “cukup sopan” melalui kelaparan dan suara azan (lebih halus/ringan), lalu “cukup menahan kesabaran” melalui gempa, angin kencang, hujan, banjir (lebih keras/berat). Jadi ada gradasi teguran.

C paling tepat: Puisi menyatakan bahwa teguran Tuhan memiliki tingkat: ada yang lembut (sopan) dan ada yang keras (bencana besar), sehingga “ada yang ringan dan ada yang berat” paling sesuai dengan struktur isi puisi.

A kurang tepat: Ada implikasi manusia lalai, tetapi fokus kutipan adalah bentuk teguran Tuhan dan tingkatannya, bukan pernyataan langsung “manusia melupakan”.
B benar sebagian: B hanya menangkap satu unsur (bencana), padahal puisi juga memuat teguran halus (kelaparan, azan) dan menekankan perbedaan tingkat.
D terlalu umum: Kasih sayang Tuhan tidak menjadi gagasan utama yang disorot; yang disorot adalah teguran dan tingkatannya.
E terlalu mengancam: Puisi bertanya “Adakah kau dengar?” dan menggambarkan teguran, bukan ancaman eksplisit “siksaan akan datang”.

Catatan simbol: teguran berat lebih keras daripada teguran halus, seperti \(2 \gt 1\) dan bukan \(1 \lt 2\).