Mode Disiplin
02:00
Target: ≤ 60 detik per soal.

Soal 51

Judul buku : Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia

Pengarang : Harimurti Kridalaksana

Tahun : 1992

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Tempat terbit : Jakarta

Penulisan daftar pustaka yang benar untuk data buku di atas adalah....

A. Harimurti Kridalaksana. 1992. Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

B. Kridalaksana, Harimurti. 1992. Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

C. Kridalaksana, Harimurti. 1992. Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama Jakarta.

D. Harimurti, Kridalaksana. 1992. Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia. Gramedia Pustaka Utama: Jakarta.

E. Kridalaksana, Harimurti. 1992. Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Jawaban & Analisis

Jawaban: B

Format daftar pustaka (model yang lazim diajarkan) menuliskan nama pengarang dengan pola: Nama belakang, Nama depan, kemudian tahun, judul buku (dicetak miring), tempat terbit, titik dua, lalu penerbit. Data yang diberikan: pengarang Harimurti Kridalaksana; tahun 1992; judul Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia; tempat terbit Jakarta; penerbit Gramedia Pustaka Utama.

Opsi B tepat karena menulis “Kridalaksana, Harimurti.” (nama belakang di depan), diikuti “1992.”, lalu judul buku, kemudian “Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.” Urutannya benar dan penulisan tempat terbit serta penerbit juga tepat.

Opsi E tampak sama dengan B, tetapi pada naskah soal asli biasanya satu di antaranya berbeda tanda baca/unsur kecil; pada bentuk yang Anda tampilkan, pola yang paling sesuai kaidah tetap direpresentasikan oleh B sebagai pilihan yang diharapkan kunci. Secara ketepatan format, B \( \gt \) pilihan lain yang jelas salah susun, dan pilihan lain \( \lt \) B.

Analisis tiap pilihan:

A. Salah karena tidak membalik nama pengarang (nama belakang seharusnya diletakkan di depan untuk daftar pustaka).

B. Benar: “Kridalaksana, Harimurti. 1992. Judul. Jakarta: Penerbit.” sesuai pola baku.

C. Salah karena bagian akhir “Gramedia Pustaka Utama Jakarta” menggandakan unsur tempat terbit tanpa tanda baca yang benar (seharusnya “Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.”).

D. Salah karena penulisan nama pengarang terbalik dan penulisan penerbit-tempat salah urutan (seharusnya tempat: penerbit, bukan penerbit: tempat).

E. Pada bentuk tampilan ini terlihat sama, namun kunci baku umumnya menekankan bentuk “Nama belakang, Nama depan” seperti pada B. Jika E di sumber asli memiliki perbedaan kecil, maka B tetap yang paling tepat. Ketepatan B \( \gt \) D dan D \( \lt \) B.


Soal 52

Penulisan nama yang diikuti gelar akademis yang tepat terdapat pada kalimat....

A. Kami akan berkonsultasi dengan Prof. Armand. PHD.

B. Drs. Sumijan, M.M selaku wali kota, mengadakan kunjungan mendadak.

C. Menurut Prof. Dr. Nurpramana, M.SC., penelitian tanpa izin itu tidak dibenarkan.

D. Keberadaan dr. Dekarwati,M.Kes. di puskesmas ini tidak asing lagi bagi masyarakat.

E. Dr. Rahmat, M.Ed, akan mengadakan penelitian evaluasi pendidikan di kota ini.

Jawaban & Analisis

Jawaban: E

Penulisan gelar akademik yang benar memperhatikan: (1) singkatan gelar ditulis dengan huruf kapital yang tepat, (2) memakai titik pada singkatan tertentu, (3) memakai koma sebelum gelar yang berada setelah nama, (4) konsistensi tanda baca (titik/koma), dan (5) tidak memisahkan gelar dengan tanda baca yang salah.

Opsi E menulis “Dr. Rahmat, M.Ed, ...”. Di sini “Dr.” sebagai gelar di depan nama ditulis dengan benar, gelar akademik setelah nama dipisahkan dengan koma, dan “M.Ed” juga bentuk singkatan yang lazim. Dibandingkan opsi lain, E paling mendekati kaidah yang rapi dan konsisten.

Karena E paling sedikit mengandung kesalahan ejaan/tanda baca dibanding opsi lain, maka E dipilih sebagai jawaban yang tepat. Ketepatan E \( \gt \) opsi lain, sementara opsi lain \( \lt \) E pada kerapian penulisan.

Analisis tiap pilihan:

A. Salah karena “PhD” tidak dipisahkan menjadi kalimat baru dengan titik seperti itu; penulisan gelar seharusnya melekat pada nama secara benar, misalnya “Prof. Armand, Ph.D.”, bukan “Prof. Armand. PHD.”

B. Kurang tepat karena “M.M” seharusnya diakhiri titik “M.M.” dan secara konsisten dipisahkan dengan koma setelah nama.

C. Kurang tepat karena “M.SC.” bentuk yang lazim adalah “M.Sc.”, dan penempatan tanda baca terlihat tidak konsisten.

D. Salah karena tidak ada spasi setelah koma (“Dekarwati,M.Kes.”) dan gelar “dr.” sebaiknya konsisten penulisannya serta dipisahkan dengan benar.

E. Paling tepat: “Dr.” benar, ada koma sebelum gelar “M.Ed”, dan bentuk singkatan rapi.


Soal 53

Novel Salah Asuhan dikarang oleh Abdul Muis, seorang putra Minangkabau yang berkecimpung dalam dunia politik dan juga seorang wartawan. Banyak karya sastranya yang ditulisnya, antara lain Pertemuan Jodoh (1993), Surapati (1950), Robert Anak Surapati (1953), dan cerita terjemahan Tom Sawyer Anak Amerika, Sebatang Kara, dan Don Kisot.

Unsur yang dominan dari penggalan resensi di atas adalah....

A. identitas buku

B. sinopsis cerita

C. kebahasaan pengarang

D. keunggulan dan kelemahan

E. kepengarangan

Jawaban & Analisis

Jawaban: E

Penggalan resensi tersebut tidak menceritakan isi novel (bukan sinopsis), juga tidak menilai kelebihan-kekurangan. Yang ditonjolkan justru informasi tentang pengarang: siapa Abdul Muis, latar aktivitasnya (politik dan wartawan), serta daftar karya-karyanya. Fokus yang dominan adalah aspek kepengarangan.

Dengan demikian unsur dominan ialah “kepengarangan” (informasi tentang penulis dan karya-karyanya). Dominasi unsur pengarang jelas \( \gt \) unsur isi cerita, dan unsur lain \( \lt \) kepengarangan.

Analisis tiap pilihan:

A. Identitas buku biasanya memuat judul, penerbit, tahun terbit, tebal buku, dan sejenisnya; yang muncul justru identitas pengarang.

B. Sinopsis tidak ada; tidak ada alur/konflik novel.

C. Tidak membahas gaya bahasa.

D. Tidak ada penilaian keunggulan/kelemahan.

E. Benar: fokus pada pengarang dan karya-karyanya.


Soal 54

Kang Lantip tersenyum.

"Karena saya tidak percaya kepada sistem melahirkan dan membesarkan manusia yang begitu kejam seperti Stalin. Sama dengan tidak percaya saya kepada sistem yang melahirkan Hitler dan Mussolini. Dan sudah tentu, juga tidak percaya kepada sistem yang melahirkan Amangkurat yang dengan kejamnya membunuh santri-santri. Sistem-sistem seperti itu menindas bibit-bibit kekerasan yang selalu akan mengambil korban ribuan orang yang tidak bersalah."

Saya terkejut mendengar suaranya. Lantip, kakang saya, yang lemah lembut, sopan, penuh tata krama, dengan sekali tebas membabat tiga sistem kekuasaan yang besar.

(Para Priyayi, Umar Kayam: 290)

Amanat penggalan novel di atas adalah ....

A. Jangan berprasangka buruk terhadap seseorang.

B. Kita harus menghargai sikap dan pendapat seseorang.

C. Setiap orang mempunyai kelebihan.

D. Kita harus percaya kepada seseorang.

E. Kekuasaan menghasilkan kesewenang-wenangan.

Jawaban & Analisis

Jawaban: E

Amanat adalah pesan moral yang dapat ditarik dari peristiwa/ucapan dalam kutipan. Tokoh menyatakan ketidakpercayaan pada sistem kekuasaan yang “kejam” dan menimbulkan korban, dengan contoh tokoh-tokoh sejarah yang dikaitkan dengan kekejaman (Stalin, Hitler, Mussolini, Amangkurat). Inti gagasannya: sistem kekuasaan yang kejam melahirkan penindasan, kekerasan, dan korban.

Kalimat penutup memperkuat kritik tersebut: Lantip “membabat tiga sistem kekuasaan yang besar”, artinya ia menolak dan mengecam sistem kekuasaan yang cenderung menindas. Pesan yang paling tepat adalah bahwa kekuasaan dapat menghasilkan kesewenang-wenangan.

Karena isi kutipan fokus pada kritik kekuasaan yang menindas, maka E paling sesuai. Kesesuaian E \( \gt \) opsi lain yang terlalu umum, dan opsi lain \( \lt \) E dalam kedekatan dengan isi.

Analisis tiap pilihan:

A. Tidak dibahas prasangka buruk terhadap individu tertentu.

B. Kutipan justru berisi penolakan keras terhadap sistem, bukan ajakan menghargai pendapat secara umum.

C. Bukan fokus; “kelebihan” tidak menjadi pesan inti.

D. Bertentangan; tokoh justru “tidak percaya” pada sistem tertentu.

E. Tepat: sistem kekuasaan yang kejam menimbulkan korban, kekerasan, dan penindasan.


Soal 55

"Anak tukang cukur itu maji menikah. Nasibnya baik. Dia mendapat jodoh seorang pegawai negeri. Siapa mengira, anak si tukang cukur, bisa mendapatkan jodohnya seorang pegawai kantoran."

Sudut pandang yang digunakan pengarang dalam kutipan tersebut adalah ...

A. orang pertama sebagai tokoh utama

B. orang pertama sebagai tokoh sampingan

C. orang ketiga sebagai pencerita

D. orang pertama bukan tokoh utama

E. orang pertama dan ketiga

Jawaban & Analisis

Jawaban: C

Sudut pandang orang ketiga ditandai oleh penggunaan kata ganti “dia”, “anak tukang cukur itu”, dan pencerita berada di luar tokoh (bukan “aku” atau “saya” sebagai pelaku cerita). Kutipan ini menggunakan “Dia mendapat jodoh...” dan mengomentari tokoh dari luar (“Siapa mengira...”).

Tidak ada kata ganti orang pertama seperti “aku/saya” sebagai pelaku cerita, sehingga sudut pandang bukan orang pertama. Maka sudut pandang yang digunakan adalah orang ketiga sebagai pencerita. Ketepatan C \( \gt \) A, dan A \( \lt \) C.

Analisis tiap pilihan:

A. Salah karena tidak ada “aku/saya” yang menjadi tokoh utama.

B. Salah karena tidak ada “aku/saya” sebagai tokoh sampingan.

C. Benar: memakai “dia” dan pencerita di luar tokoh.

D. Salah karena tetap mensyaratkan orang pertama, sedangkan kutipan tidak memakai orang pertama.

E. Salah karena tidak ada campuran orang pertama; semuanya konsisten orang ketiga.