Mode Disiplin
02:00
Target: ≤ 60 detik per soal.

Soal 56

"Si pegawai itu memang cerewet!" ini adalah pendapat sebagian mereka. Si Tua itu kepingin benar dipanggil Nona, benarkah ia masih nona? Itu bukan soal. Yang cukup jelas ialah bahwa si tua itu tidak dapat menghargai kejujuran yang begitu ikhlas. Si tua itu seharusnya sudah puas menerima weselnya separuh dari jumlah yang telah dikeluarkannya tadi. Siapakah orang di zaman sekarang yang sudi disuruh-suruh datang kembali ke loket hanya buat menyerahkan kembali uang yang sudah berada di tangannya?"

Pesan yang terdapat dalam kutipan novel tersebut adalah ........

  1. imbauan jujur kepada diri sendiri
  2. anjuran ikhlas kepada teman kerja
  3. ajakan percaya kepada orang lain
  4. perintah menghargai kejujuran orang lain
Jawaban & Analisis

Jawaban: D

Analisis: Kutipan menekankan bahwa “si tua tidak dapat menghargai kejujuran yang begitu ikhlas” dan memuji tindakan pegawai yang rela kembali ke loket untuk mengembalikan uang yang bukan haknya. Jadi, inti pesannya adalah menghargai kejujuran orang lain, bukan sekadar “jujur pada diri sendiri” atau “percaya pada orang lain” secara umum.

  • A fokusnya bukan ajakan “jujur pada diri sendiri”, melainkan sikap si tua yang tidak menghargai kejujuran pegawai.
  • B tidak ada konteks “teman kerja”; yang dibahas adalah pegawai loket dan pelanggan.
  • C ada unsur bahwa masih ada orang jujur, tetapi pesan utamanya lebih tegas: hargai kejujuran itu.
  • D (benar) secara langsung sesuai dengan kalimat “tidak dapat menghargai kejujuran yang begitu ikhlas”.
Bukti kunci Makna Arah pesan
“tidak dapat menghargai kejujuran” menegur sikap tidak menghargai hargai kejujuran orang lain
“datang kembali ke loket ... menyerahkan kembali uang” contoh tindakan jujur kejujuran patut diapresiasi

Karena D paling langsung ditunjang teks


Soal 57

Sepuluh tahun yang lalu ia terbaring
Tetapi bukan tidur, sayang
Sebuah lubang peluru bundar di dadanya
Senyum bekunya mau berkata aku sedang perang

Citraan yang terdapat pada puisi tersebut adalah ........

  1. perasaan
  2. penciuman
  3. pendengaran
  4. penglihatan
Jawaban & Analisis

Jawaban: D

Analisis: Citraan paling dominan adalah penglihatan karena pembaca “melihat” gambaran fisik yang konkret: “terbaring”, “lubang peluru bundar di dadanya”, dan “senyum beku”. Ini membangun visual yang jelas tentang kondisi tokoh.

  • A ada nuansa emosional, tetapi bukan citraan utama; teks tidak menggambarkan rasa batin secara dominan.
  • B tidak ada unsur bau/aroma.
  • C tidak ada bunyi yang diperdengarkan; “mau berkata” bersifat makna, bukan bunyi nyata.
  • D (benar) visual sangat kuat melalui deskripsi tubuh dan luka.
Larikan Kata kunci Jenis citraan
“Sebuah lubang peluru bundar di dadanya” lubang peluru, bundar, dada penglihatan
“Senyum bekunya ...” senyum beku penglihatan

Karena citraan visual paling kuat, D


Soal 58

Rosi : "Betul Lin. Aku masih punya orang tua dan adik-adik. Namun, aku pun ikut merasakan kesedihanmu dan satu hal itu aku tak setuju, jangan menganggap pamanmu sebagai orang yang tidak adil."

Lina : "Ah ... bohong. Aku memang menumpang di rumah paman. Aku tak punya orang tua. Aku merasa selalu disakiti karena pamanku membedakan perlakuan kepadaku dan kepada anaknya. Kalau ada masalah antara aku dan Mila, anak pamanku itu, selalu dia yang dimenangkan paman ..."

Nita : "Tenanglah, Lin. Aku merasakan kesedihanmu. Aku tahu, kamu terlalu menuruti perasaanmu. Belum tentu pamammu seperti yang kamu duga karena kesedihamu, engkau membayangkan yang tidak-tidak."

Andri : "Benar, Lin, kamu harus bersabar."

Dialog tersebut yang menggambarkan suasana kesal adalah ucapan ........

  1. Rosi
  2. Lina
  3. Nita
  4. Andri
Jawaban & Analisis

Jawaban: B

Analisis: Suasana kesal tampak dari pilihan kata yang bernada menolak dan emosi memuncak: “Ah ... bohong” serta keluhan beruntun bahwa dirinya “selalu disakiti” dan “selalu dia yang dimenangkan”. Ucapan seperti ini menunjukkan kejengkelan/kemarahan terpendam.

  • A Rosi bernada menenangkan dan menasihati (“jangan menganggap ... tidak adil”), bukan kesal.
  • B (benar) Lina memakai ekspresi penolakan keras dan keluhan emosional (“Ah ... bohong”).
  • C Nita bernada meredakan dan menenangkan (“Tenanglah”), bukan kesal.
  • D Andri menasihati singkat (“harus bersabar”), bukan kesal.
Tokoh Penanda bahasa Nuansa
Rosimenasihati, meluruskantenang
Lina“Ah ... bohong”, keluhan bertubi-tubikesal
Nita“Tenanglah”menenangkan
Andri“harus bersabar”menasihati

Karena penanda kesal paling jelas ada pada Lina, B


Soal 59

Ketika aku mau menyiramkan racun pembunuh tikus ke sudut-sudut rumahku, terutama lubang-lubang persembunyiannya, tubuhku terasa tidak enak. Semula aku acuh tak acuh. Namun, sebelum aku melangkah lebih jauh panas menyerang tubuhku. Lalu sekujur tubuhku menggigil. Mula-mula lemah gigilannya. Akhirnya getaran keras mengguncang tubuhku. Dan seluruh lubang yang ada di rumahku bermunculan anak-anak tikus. Aku pun lemaslah. (Tikus: Gatot Susilo)

Konflik yang muncul pada cuplikan cerita tersebut adalah ........

  1. tikus disiram racun kemudian mengamuk
  2. sekujur tubuh tokoh aku menggigil
  3. getaran keras mengguncang tubuhku
  4. munculnya anak-anak tikus dari lubang
Jawaban & Analisis

Jawaban: B

Analisis: Konflik pada cuplikan ini bukan pertengkaran antar tokoh, melainkan konflik batin/fisik pada tokoh “aku” ketika hendak meracuni tikus. Tanda konflik itu muncul sebagai reaksi tubuh: “panas menyerang”, “sekujur tubuhku menggigil”, lalu makin kuat. Pilihan B paling tepat karena menggambarkan inti masalah yang dialami tokoh: tubuhnya bereaksi hebat dan membuatnya tidak berdaya.

  • A tidak sesuai teks: tidak ada informasi “tikus mengamuk”.
  • B (benar) menggigilnya tokoh adalah konflik utama (reaksi fisik yang menghambat tindakan).
  • C masih bagian dari B (penegasan intensitas), tetapi yang lebih representatif sebagai konflik adalah gejala “menggigil” itu sendiri.
  • D adalah peristiwa pemicu ketegangan, namun konflik yang ditekankan teks justru reaksi tubuh tokoh (panas, menggigil, lemas).
Peristiwa Jenis Peran dalam konflik
tubuh panas, menggigil konflik fisik/batin tokoh inti konflik
tikus bermunculan pemicu situasi memperkuat ketegangan

Karena konflik internal tokoh paling dominan, B


Soal 60

Si Jamin terplenting ke sisi jalan trem, kepalanya berlumuran darah. Beberapa orang yang menaruh kasihan mengangkat Si Jamin. Ia dibawa ke rumah sakit miskin di Glodok. Anak itu pingsan. Polisi pun memeriksa asal mula kecelakaan itu. Nomor trem dan nama-nama pegawai yang mengemudikan dicatat. Setelah itu trem meneruskan perjalanannya. Orang banyak pun bubar.

Latar kutipan cerita tersebut adalah ........

  1. sisi rel
  2. rumah sakit
  3. Glodok
  4. stasiun
Jawaban & Analisis

Jawaban: A

Analisis: Latar tempat utama pada kutipan ditandai pada awal peristiwa: “terplenting ke sisi jalan trem” yang menunjukkan lokasi kejadian kecelakaan (dekat rel/jalur trem). Walaupun kemudian Jamin dibawa ke rumah sakit di Glodok, pusat peristiwa yang diceritakan (orang mengangkat, polisi mencatat nomor trem, trem lanjut jalan, orang bubar) terjadi di lokasi kecelakaan, yaitu sisi rel/jalur trem.

  • A (benar) sesuai “ke sisi jalan trem” dan rangkaian kejadian di lokasi itu.
  • B rumah sakit hanya tempat lanjutan setelah kejadian, bukan pusat latar dalam kutipan.
  • C Glodok adalah nama wilayah (lebih spesifik lokasi rumah sakit), tetapi latar peristiwa utama bukan “wilayah” melainkan tempat kejadian di sisi trem.
  • D tidak ada stasiun dalam kutipan.
Petunjuk teks Menunjukkan tempat Kesesuaian
“ke sisi jalan trem” sisi rel/jalur trem paling tepat
“dibawa ke rumah sakit ... di Glodok” tempat lanjutan bukan pusat latar

Karena latar utama peristiwa adalah tempat kecelakaan, A