Soal 16
Merapi kini sedang meradang
Wedus gembel melayang layang
Menyapu semua hingga terpanggang
Tak ada lagi harapan hijau
Tak ada lagi tenteram damai
Desaku sunyi desaku mati
Makna kata meradang dalam puisi tersebut adalah ....
| A | longsor |
| B | meletus |
| C | meleleh |
| D | berpijar |
Lihat jawaban & analisa
Jawaban: B
Analisa per opsi:
A
“Longsor” adalah peristiwa tanah runtuh. Pada puisi, tanda-tanda yang muncul adalah “wedus gembel” (awan panas) dan “menyapu semua hingga terpanggang”. Itu lebih dekat pada letusan gunung, bukan sekadar longsor.
B
“Meradang” di sini bermakna gunung sedang aktif/bergejolak hingga mengeluarkan wedus gembel yang membakar. Jadi makna paling tepat adalah “meletus”. Dampaknya jelas: harapan hijau hilang, desa sunyi dan mati (daya rusak \( \gt \) keadaan normal).
C
“Meleleh” tidak tepat karena tidak ada gambaran benda meleleh. Yang digambarkan adalah awan panas membakar.
D
“Berpijar” hanya menunjukkan cahaya panas/merah, tidak sekuat makna bencana yang menyapu dan membakar habis. Puisi menggambarkan kehancuran akibat letusan.
Soal 17
Teks cerita untuk menjawab soal nomor 17 dan 18
Di hutan, hiduplah burung-burung parkit. Mereka hidup damai. Suatu ketika, mereka tertangkap perangkap seorang pemburu. Mereka berusaha melepaskan diri.
“Saudara-saudaraku, tenanglah! Jika nanti si pemburu datang, kita harus pura-pura mati. Setelah ia lengah, kita terbang bersama-sama,” seru Raja Parkit.
Tak berapa lama, si pemburu datang. Ia sangat kecewa karena tangkapannya mati semua. Bruk! Si pemburu tersandung batu dan jatuh. Burung-burung parkit terkejut lalu beterbangan melarikan diri.
Raja Parkit tertangkap.
“Jangan bunuh aku, sebagai imbalan, aku akan menghiburmu setiap hari dengan suaraku yang merdu,” pinta Raja Parkit.
Si pemburu mengabulkan permintaan Raja Parkit. Raja Parkit ditempatkan di sangkar yang sangat indah. Setiap hari, ia diberi makanan lezat. Namun, ia rindu hutan tempat asalnya. Suatu hari, ia berpura-pura mati. Melihat Raja Parkit mati, si pemburu sedih. Ia mengeluarkan Raja Parkit dari sangkar untuk dikuburkannya. Seketika itu juga, Raja Parkit terbang dan kembali ke hutan.
Akhir cerita tersebut adalah ....
| A | Si pemburu mengubur Raja Parkit dengan sedih. |
| B | Si pemburu sedih karena Raja Parkit mati. |
| C | Raja Parkit kembali lagi ke tempat asalnya. |
| D | Raja Parkit pura-pura mati di sangkarnya. |
Lihat jawaban & analisa
Jawaban: C
Analisa per opsi:
A
Pemburu memang mengeluarkan Raja Parkit untuk dikubur, tetapi cerita tidak berakhir pada “mengubur”. Justru sebelum dikubur, Raja Parkit terbang pergi. Jadi A bukan akhir.
B
Pemburu sedih adalah bagian menuju akhir, tetapi bukan penutup. Setelah itu, Raja Parkit terbang dan kembali ke hutan. Jadi B belum selesai (alur B \( \lt \) penutup cerita).
C
Kalimat terakhir menyatakan Raja Parkit “terbang dan kembali ke hutan”. Itu benar-benar akhir cerita, sehingga C tepat.
D
“Berpura-pura mati” adalah peristiwa sebelum akhir. Akhirnya adalah ia bebas dan kembali ke hutan.
Soal 18
Amanat cerita tersebut adalah ....
| A | Sesama makhluk Tuhan, harus saling menolong. |
| B | Berpandai-pandailah dalam mengatasi masalah. |
| C | Katakan sejujurnya jika menginginkan sesuatu. |
| D | Tepatilah janji yang pernah kau ucapkan. |
Lihat jawaban & analisa
Jawaban: B
Analisa per opsi:
A
Ada unsur menyelamatkan diri bersama, tetapi fokus cerita bukan “menolong” dalam arti moral sosial, melainkan kecerdikan strategi untuk lolos dari bahaya.
B
Raja Parkit menggunakan siasat: pura-pura mati agar pemburu lengah, lalu terbang. Ia juga bernegosiasi agar tidak dibunuh. Ini menunjukkan pentingnya kecerdikan/strategi dalam menghadapi masalah. Jadi B paling sesuai (kecerdikan \( \gt \) opsi lain).
C
Cerita justru menonjolkan pura-pura mati (tidak jujur secara literal), sehingga amanat “katakan sejujurnya” tidak selaras.
D
Raja Parkit berjanji menghibur pemburu, tetapi akhirnya ia kabur. Jadi “tepatilah janji” bukan amanat yang ditegaskan cerita.
Soal 19
Bu Kucing memiliki dua anak, Kuci dan Cicing. Bu Kucing meminta tolong pada kedua anaknya untuk berbelanja ke pasar.
“Kuci, tolong belikan ikan! Kamu harus bersikap sopan karena penjual ikan terkenal galak!” ujar Bu Kucing kepada Kuci. Kuci mengangguk dan mengerti.
“Cicing, tolong belikan Ibu kesantung kancing! Kamu harus bersikap sopan kepada penjual kancing!” Selain terkenal pelit, ia juga pemarah,” kata Ibu kepada Cicing.
Cicing menganggukkan kepalanya.
Kuci dan Cicing berangkat ke pasar bersama-sama. Setibanya di pasar, mereka berpencar. Kuci menuju toko ikan. Sementara, Cicing menuju ke toko kancing. Toko kancing sedang sepi. Tampak Tuan Gugu angin, penjual kancing, sedang tertunduk-haruk di kursinya. Cicing teringat pesan ibunya.
“Selamat siang, Tuan Gugu yang tampan dan baik hati,” kata Cicing menyapa Tuan Gugu. Tuan Gugu tersentak bangun. Cepat-cepat, Cicing tersenyum kepadanya.
“Wah, Tuan Gugu pasti pemimpi aja ria,” tanya Cicing.
Tuan Gugu tergelak mendengar gurauan Cicing. Ia melayani Cicing dengan ramah. Bahkan, ia memberi bonus beberapa buah kancing kepada Cicing.
Maksud pernyataan “Cicing pandai mengambil hati penjualnya” pada cerita tersebut adalah Cicing harus bersikap sopan kepada ....
| A | penjual ikan yang terkenal galak |
| B | penjual kancing yang terkenal galak |
| C | penjual ikan yang terkenal pelit dan pemarah |
| D | penjual kancing yang terkenal pelit dan pemarah |
Lihat jawaban & analisa
Jawaban: D
Analisa per opsi:
A
Ini pesan untuk Kuci, bukan Cicing. Selain itu, kalimat “pandai mengambil hati” muncul pada bagian Cicing di toko kancing.
B
Penjual kancing disebut pelit dan pemarah, bukan “terkenal galak”. Jadi B tidak tepat pada ciri penjualnya.
C
Ini mencampur: penjual ikan tidak disebut pelit dan pemarah; yang pelit dan pemarah adalah penjual kancing. Jadi C salah sasaran.
D
Tepat: Cicing bertemu penjual kancing (Tuan Gugu) yang disebut pelit dan pemarah. Cicing bersikap sopan, memuji, dan bergurau sehingga penjual menjadi ramah dan memberi bonus. Itulah makna “pandai mengambil hati” (hasil sikap sopan \( \gt \) kondisi awal penjual).
Soal 20
Di sebuah hutan lebat, hiduplah dua ekor ulat. Pinto dan Tupi. Pinto ulat yang ramah dan rendah hati. Tupi ulat yang angkuh dan suka meremehkan binatang lain. Suatu hari, saat Pinto sedang mencari makanan, ia bertemu Tupi. Pinto ingin meminta sedikit makanan kepada Tupi. Namun, Tupi tidak mau memberikan makanan. Ia membentak dan mengejek Pinto.
Tupi sering mengejek Pinto sebagai ulat berikut! “Lekarna itu, Tupi tak mau berteman dengan Pinto. Tupi berkata bahwa kelak sayap Pinto akan kusam dan tidak menarik. Tak lama kemudian, Pinto dan Tupi menjadi kepompong. Setelah berubah jadi kupu-kupu, sayap Pinto berwarna-warni dan cerah. Sementara sayap Tupi berwarna hitam dan kusam. Tupi malu melihat sayapnya. Ia minta maaf kepada Pinto. Ia jera telah mengejekkan Pinto.
Kesimpulan isi cerita tersebut adalah ....
| A | Pinto berubah menjadi ulat yang ramah dan rendah hati. |
| B | Tupi tak mau berteman dengan Pinto karena ia berkutu jelek. |
| C | Tupi menyesali perbuatannya karena telah menghina Pinto. |
| D | Pinto dan Tupi bersama-sama menjadi seekor kepompong. |
Lihat jawaban & analisa
Jawaban: C
Analisa per opsi:
A
Pinto sejak awal sudah ramah dan rendah hati, bukan “berubah menjadi”. Jadi A tidak tepat sebagai kesimpulan peristiwa.
B
Cerita tidak menyebut Pinto “berkutu jelek”. Tupi menolak karena angkuh dan meremehkan, serta mengejek sayap Pinto akan kusam. Jadi B tidak sesuai isi.
C
Ini menangkap inti akhir cerita: setelah berubah menjadi kupu-kupu, Tupi malu, meminta maaf, dan jera karena pernah mengejek. Jadi kesimpulan yang tepat adalah Tupi menyesali perbuatannya (pesan moral \( \gt \) detail lain).
D
Ini hanya salah satu bagian alur (menjadi kepompong), bukan kesimpulan. Kesimpulan harus merangkum makna akhir/perubahan sikap Tupi.
Pendampingan akademik ini merupakan bagian dari sistem pendidikan di Pesantren Tahfidz Karangmojo, yang berupaya menyeimbangkan pembinaan Al-Qur'an dan kemampuan akademik ananda.
Latihan Soal SD Bahasa Indonesia
- Latihan Soal SD Bahasa Indonesia – Soal 1
- Latihan Soal SD Bahasa Indonesia – Soal 2
- Latihan Soal SD Bahasa Indonesia – Soal 3
- Latihan Soal SD Bahasa Indonesia – Soal 4
- Latihan Soal SD Bahasa Indonesia – Soal 5
- Latihan Soal SD Bahasa Indonesia – Soal 6
- Latihan Soal SD Bahasa Indonesia – Soal 7
- Latihan Soal SD Bahasa Indonesia – Soal 8
- Latihan Soal SD Bahasa Indonesia – Soal 9
- Latihan Soal SD Bahasa Indonesia – Soal 10