Mode Disiplin
02:00
Target: ≤ 60 detik per soal.

soal 41

Soal:

  1. Ayah pergi ke Bandung.
  2. Paman datang dari Medan.
  3. Ibu menyambutnya dengan ramah.

Hasil penggabungan tiga kalimat tersebut yang tepat adalah ....

  1. Ketika ayah pergi ke Bandung, paman datang dari Medan dan ibu menyambutnya dengan ramah.
  2. Ayah pergi ke Bandung, paman datang dari Medan, ibu menyambutnya dengan ramah.
  3. Ayah pergi ke Bandung, sedang paman datang dari Medan, ibu menyambutnya dengan ramah.
  4. Lalu ayah pergi ke Bandung, paman datang dari Medan, ibu menyambutnya dengan ramah
Jawaban & Analisis

Jawaban: A

Analisis per opsi:

  • A Tepat karena menggabungkan tiga peristiwa menjadi satu kalimat majemuk bertingkat yang runtut: peristiwa ayah pergi ke Bandung diberi pengantar waktu “ketika”, lalu disambung peristiwa paman datang dan diakhiri dengan respons ibu. Kata ganti “-nya” juga jelas merujuk paman.
  • B Kurang efektif karena hanya berupa deretan klausa dipisah koma tanpa konjungsi yang jelas; hasilnya terasa seperti kalimat tempelan dan tidak padu.
  • C Tidak tepat karena penggunaan “sedang” menimbulkan relasi waktu yang tidak diperlukan dan membuat struktur menjadi janggal, apalagi masih disusun dengan koma beruntun.
  • D Tidak tepat karena “lalu” menandai urutan, tetapi setelah itu masih berupa deretan klausa dengan tanda baca kurang rapi (tidak ada konjungsi/struktur padu).

soal 42

Soal: Astaga, siapa orang-orang ini? Tampang mereka seperti orang-orang kriminal. Namun, hak mereka sama dengan semua penumpang yang masuk taksi. Aku tak perlu tahu urusan mereka. Barangkali juga tidak berhak tahu. Meskipun banyak juga yang aku tahu sebagai sopir taksi.

Nilai moral yang terdapat dalam kutipan novel tersebut adalah ....

  1. kehati-hatian seseorang terhadap keadaan sekelilingnya
  2. ketakutan yang timbul akibat pengalaman masa lalu
  3. jangan berprasangka buruk hanya karena melihat penampilannya
  4. ketidakpercayaan terhadap orang-orang di sekitarnya
Jawaban & Analisis

Jawaban: C

Analisis per opsi:

  • A Ada unsur waspada, tetapi kutipan lebih menonjolkan perubahan sikap dari prasangka menjadi kesadaran hak penumpang, bukan sekadar kehati-hatian.
  • B Tidak ada informasi pengalaman masa lalu yang menyebabkan takut.
  • C Tepat: awalnya sopir menilai dari tampang (“seperti kriminal”), tetapi kemudian menyadari mereka tetap punya hak sama sebagai penumpang dan ia tidak perlu mencampuri urusan mereka. Ini menegaskan larangan berprasangka hanya dari penampilan.
  • D Justru kebalikannya: kutipan mengarahkan agar tidak curiga berlebihan dan menghormati hak orang lain.

soal 43

Soal:

HAMPA
Sepi di luar
Sepi menekan mendesak
Lurus kaku pohonan
Tak bergerak
Sampai ke puncak
Sepi memagut
Segala menanti, menanti, menanti
Sepi
Tambah ini menanti jadi mencekik
Memberat mencekung punda
Sampai binasa segala
Belum apa-apa

Karya: Chairil Anwar

Amanat yang tepat dalam puisi tersebut adalah....

  1. Hendaknya jangan membuat seseorang harus menunggu
  2. Menunggu adalah pekerjaan yang sangat membosankan
  3. Menunggu adalah pekerjaan yang menyedihkan manusia
  4. Hendaknya seseorang menghindari kebiasaan menunggu.
Jawaban & Analisis

Jawaban: A

Analisis per opsi:

  • A Paling sesuai karena puisi menggambarkan “menanti/menunggu” sebagai tekanan yang mencekik dan membebani (“menanti jadi mencekik”, “memberat mencekung punda”). Amanat yang wajar: jangan membuat orang lain menunggu hingga tersiksa batinnya.
  • B Terlalu menyempit pada “bosan”, padahal puisi menonjolkan kehampaan dan tekanan batin yang menindih, bukan sekadar kebosanan.
  • C Ada unsur sedih, tetapi opsi ini menyatakan menunggu sebagai “pekerjaan” yang menyedihkan, kurang tepat karena puisi lebih pada keadaan batin yang menghimpit, bukan definisi umum.
  • D Amanat ini menyalahkan kebiasaan menunggu secara umum, padahal konteks puisi lebih menyorot penderitaan karena penantian yang menekan, bukan sekadar kebiasaan.

soal 44

Soal:

Yulia meloncat turun dari dalam angkot. O ... o ...! Tinggal delapan menit lagi untuk bisa dengan selamat di kelas. Tak ada waktu untuk berlambat-lambat. Yulia bergegas menyeberang jalan dan berlari terbirit-birit menuju pintu gerbang sekolahnya. Sebenarnya, kalaupun terlambat, Yulia masih bisa masuk. Paling-paling hanya mendapat tugas tambahan. Tetapi bagi Yulia, itu sudah merupakan sebuah aib. Di mata Yulia, terbayang-bayang wajah ayah ibunya hingga membuatnya enggan bermalas-malasan. Bagaimana mungkin ia tega bersantai-santai, sementara kedua orang tuanya sibuk membantu tulang?

Amanat dalam kutipan cerita tersebut adalah selalu....

  1. berhati-hati bila menyeberang jalan raya
  2. mempertimbangkan untung dan ruginya
  3. berjalan cepat dan tidak boleh bersantai-santai
  4. ingat jerih payah dan pengorbanan orang tua.
Jawaban & Analisis

Jawaban: D

Analisis per opsi:

  • A Ada tindakan menyeberang jalan, tetapi kutipan tidak menekankan kehati-hatian; fokusnya adalah dorongan moral dari bayangan orang tua.
  • B Tidak menjadi inti. Yulia tidak sedang menimbang untung-rugi, melainkan terdorong rasa tanggung jawab dan malu jika terlambat.
  • C Terlalu literal dan sempit. Pesan bukan “harus jalan cepat”, melainkan etos tanggung jawab yang dipicu oleh ingatan pada orang tua.
  • D Tepat karena bagian penutup menekankan Yulia teringat wajah ayah ibunya dan merasa tidak pantas bermalas-malasan saat orang tua bekerja keras (“sibuk membantu tulang”).

soal 45

Soal:

Sawah menghijau terbentang
Pepohonan yang rindang menambah keindahan
Burung-burung terbang dan berkicauan
Terbang ke awan yang tinggi
Membawa kesenangan dan kegembiraan
Hamparan padang rumput nan hijau
Memberikan kesejukan dalam diriku

Citraan yang jelas pada kutipan puisi tersebut adalah....

  1. penglihatan
  2. pendengaran
  3. penciuman
  4. perasaan
Jawaban & Analisis

Jawaban: A

Analisis per opsi:

  • A Paling jelas karena dominan visual: “sawah menghijau terbentang”, “pepohonan rindang”, “hamparan padang rumput nan hijau”, “awan yang tinggi”. Ini kuat sebagai citraan penglihatan.
  • B Ada unsur bunyi “berkicauan”, tetapi jumlah dan kekuatan citraan visual lebih dominan dan berulang.
  • C Tidak ada kata yang berkaitan dengan bau/aroma.
  • D Ada ungkapan “kesejukan dalam diriku” (nuansa rasa), tetapi citraan yang paling nyata dan mudah ditangkap dari pilihan adalah penglihatan.