Mode Disiplin
02:00
Target: ≤ 60 detik per soal.

soal 46

Amran (bicara sendiri):
Sudah pukul setengah delapan lewat ... ke mana perginya Anhar? (melihat pintu dalam). Gun! Gunadi ...!!

Gunadi (masih di dalam):
Ya Kak ...!! (keluar menemui Amran).

Amran (duduk):
Ke mana katanya Anhar tadi?

Gunadi:
Mau mancing ke tempat kita mendapat ikan besar dahulu.

Amran:
Kenapa kau bolehnkan saja? Kalau ayah dan ibu tahu, tentu akan marah. (berdiri dan berjalan pelan). Kau tahu ... kau tahu itu bahaya, ya ...?!

Dialog drama tersebut menggambarkan suasana ...

  1. kekhawatiran
  2. kengeriian
  3. ketakutan
  4. kesenangan
Analisa & Jawaban

Petunjuk suasana: Amran gelisah karena Anhar belum pulang (“Sudah pukul setengah delapan lewat... ke mana perginya Anhar?”), lalu menegaskan bahaya (“itu bahaya”). Ia juga memikirkan reaksi orang tua (“ayah dan ibu tentu akan marah”).

A. kekhawatiran
Tepat: suasana yang dominan adalah cemas/khawatir terhadap keselamatan Anhar dan akibatnya jika orang tua tahu.

B. kengeriian
Kengerian biasanya muncul saat ada sesuatu yang menyeramkan/menjijikkan. Dialog ini tidak menunjukkan hal menyeramkan, melainkan kecemasan.

C. ketakutan
Ketakutan lebih mengarah pada rasa takut langsung karena ancaman saat itu. Di sini lebih berupa kekhawatiran (cemas) karena risiko bahaya.

D. kesenangan
Jelas tidak sesuai dengan isi dialog.

Jawaban: A


soal 47

"Kamu, siswa baru, rupanya pintar, ya?" ejek Indah, ketua kelas. Begitu pula teman-teman yang lainnya mengejek Dita sebagai penyontek ulung. "Aku tidak menyontek, sungguh! Aku mengerjakan sendiri!" Sanggh Dita sembari menekan rasa takut. "Bohong! Buktinya, waktu kamu duduk di belakang itu hasil ulanganmu jelek!" bentak Indah, "Ta ... tapi aku tidak menyontek," kata Dita hampir menangis. "Sudahlah mana ada pencuri mau mengaku atas perbuatannya," bela Bambang dengan nada mengejek. "Begini saja, kalau kamu memang betul-betul tidak menyontek, nanti kalau ada ulangan lagi, kamu harus duduk di kursi paling belakang sana itu, dan buktikan bahwa kamu pun bisa memperoleh nilai sembilan tanpa Melati!" ujar Indah memberi keputusan.

Konflik dalam kutipan cerita tersebut adalah ....

  1. Indah dituduh menyontek ketika ulangan berlangsung
  2. Bambang merasa jengkel dengan sikap Indah terhadap Dita
  3. Banyak siswa menuduh Dita menyontek saat ulangan
  4. Melati memberikan bantuan kepada Dita pada waktu ulangan
Analisa & Jawaban

Konflik adalah pertentangan/masalah utama yang memicu ketegangan dalam cerita.

A salah subjek: yang dituduh menyontek adalah Dita, bukan Indah.

B tidak didukung: Bambang justru ikut mengejek Dita, bukan jengkel pada Indah.

C tepat: inti kutipan adalah Dita diejek dan dituduh sebagai penyontek oleh Indah dan teman-teman lain.

D tidak jelas sebagai konflik utama; “tanpa Melati” disebut, tetapi konflik yang tampak adalah tuduhan menyontek terhadap Dita, bukan bantuan Melati.

Jawaban: C


soal 48

Kursi-kursi tunggu penuh dengan orang-orang yang akan bepergian jauh. Di sampingnya terdapat bermacam-macam tas besar ataupun kecil. Suasana di sana tampak ramai, ditambah lagi dengan lalu-lalangnya para pedagang asongan yang menjajakan dagangannya.

Prit... prit... prit, begitulah suara peluit.

Latar cerita tersebut adalah ...

  1. Ruang tamu
  2. dalam bus
  3. stasiun
  4. dalam kereta
Analisa & Jawaban

Petunjuk latar: ada “kursi-kursi tunggu”, banyak orang membawa tas, suasana ramai, ada pedagang asongan, dan terdengar suara peluit “prit...”.

Suara peluit dan kursi tunggu yang penuh sangat khas di stasiun (peluit petugas untuk keberangkatan/masuk jalur). Di dalam bus/kereta, umumnya tidak ada “kursi tunggu” dan peluit petugas seperti itu.

Jawaban: C


soal 49

(1) Mereka tahu makanan tahu itu bergizi.
(2) Ia sudah lama tinggal di kaki gunung itu.
(3) Kaki adik terkilir ketika berolahraga.
(4) Ahdi membawa apel ketika aku ke rumahku.

Pasangan kalimat yang menggunakan kata berpolisemi ditandai dengan nomor ....

  1. \(1\) dan \(2\)
  2. \(2\) dan \(3\)
  3. \(3\) dan \(4\)
  4. \(1\) dan \(4\)
Analisa & Jawaban

Polisemi = satu kata memiliki beberapa makna yang masih berhubungan.

Kalimat (2) memakai kata “kaki” dalam makna bagian bawah gunung (kaki gunung).

Kalimat (3) memakai kata “kaki” dalam makna anggota tubuh.

Kedua makna “kaki” ini masih berhubungan (sama-sama “bagian bawah/penopang”), sehingga termasuk polisemi.

(1) memuat homonim “tahu” (mengerti) dan “tahu” (makanan), ini bukan polisemi melainkan homonim.

(4) tidak menunjukkan polisemi; kalimatnya juga janggal dan tidak memuat kata bermakna ganda yang jelas.

Jawaban: B


soal 50

Seminggu sekali, saya meminjam novel remaja di perpustakaan.

Kalimat yang berpola sama dengan kalimat tersebut adalah ...

  1. Tiap minggu, adik menari Jangger Bali di sanggar bermodern.
  2. Dua hari yang lalu, dia menangis bersedu-sedu di rumah bibi.
  3. Kamis Minggu depan, saya akan mengail bersama-sama ke kolam pancing.
  4. Setiap hari Selasa, Anwar mengendarai motor ke kantor.
Analisa & Jawaban

Pola kalimat acuan: Keterangan waktu (frekuensi) + Subjek + Predikat + Objek + Keterangan tempat.

“Seminggu sekali” (ket. waktu frekuensi) + “saya” (S) + “meminjam” (P) + “novel remaja” (O) + “di perpustakaan” (K tempat).

A ada ket. waktu “tiap minggu” (frekuensi), tetapi keterangan tempatnya “di sanggar” ada; namun frasa “di sanggar bermodern” janggal, dan objeknya tidak jelas (lebih tepat “menari tarian Jangger Bali”).

B ket. waktunya “dua hari yang lalu” (waktu lampau, bukan frekuensi). Polanya berbeda.

C “Kamis Minggu depan” tidak tepat sebagai keterangan waktu; juga struktur waktunya rancu.

D “Setiap hari Selasa” (frekuensi) + “Anwar” (S) + “mengendarai” (P) + “motor” (O) + “ke kantor” (K tempat/tujuan). Ini paling sesuai pola.

Jawaban: D