Home Alamat Info Pendaftaran
Memasak

Mengapa Belajar Memasak Untuk Anak-anak Diperlukan?
Anak-anak memiliki kemampuan belajar yang tinggi. Mereka mampu meniru sesuatu hanya dengan melihatnya. Kemampuan tersebut perlu dimanfaatkan dengan maksimal untuk menambah kualitas pribadi anak.

Salah satu hal yang perlu diajarkan orang tua kepada anak adalah belajar memasak. Aktivitas yang satu ini ternyata juga sangat penting untuk proses tumbuh kembang anak. Nah, berikut manfaat lengkap pelajaran memasak untuk anak.

Membangun Hubungan antara Ibu dan Anak
Terutama bagi ibu pekerja, waktu bersama anak bisa dibilang sangat minim. Hanya pada saat libur atau akhir pekan saja ibu bisa bersama anak sepanjang hari. Tak jarang, karena kelelahan bekerja sepanjang minggu, ibu memilih untuk beristirahat ketimbang merepotkan diri dengan banyak hal.

Memasak bersama anak bisa dibilang bukan hal yang mudah. Pengetahuan dan kemampuan anak yang belum sempurna dalam hal masak-memasak kerap hanya menimbulkan masalah. Bukannya berhasil memasak, bumbu-bumbu dapur justru menjadi berantakan dan tidak beraturan. Dapur pun menjadi kotor. Inilah bagian yang kadang kala tidak disukai ibu. Oleh karena itu, daripada menambah pekerjaan, banyak ibu yang menghindari aktivitas ini.

Padahal, kegiatan memasak bisa menjadi salah satu cara untuk membangun kedekatan antara ibu dengan anak. Dengan memasak bersama, ibu dan anak memiliki kesempatan untuk mengobrol atau melakukan sebuah hal secara bersama-sama. Ini menjadi momen yang istimewa dan berkualitas yang tidak bisa digantikan dengan apa pun.

Meningkatkan Pengetahuan Anak
Ada banyak hal baru yang akan diketahui anak ketika mulai mengenalkan belajar memasak untuk anak-anak. Salah satu di antaranya adalah pengetahuan mengenai kandungan gizi yang terdapat pada aneka jenis bahan makanan. Contohnya, nasi atau beras yang sudah dimasak mengandung karbohidrat yang bermanfaat untuk memberikan energi pada manusia.

Ibu juga bisa mengajak anak mulai mempelajari berbagai bumbu-bumbu dasar di dapur. Untuk pengetahuan tingkat lanjut, ajarilah anak tentang fungsi bumbu dalam masakan. Misalnya, cabai akan menghasilkan rasa pedas, sedangkan garam akan menghasilkan rasa asin. Meskipun anak tidak akan langsung memahami hal ini dengan mudah, setidaknya ia sudah mulai mengerti mengapa ada masakan yang bercita rasa manis, asin, atau pedas.

Mengajak Anak Peduli terhadap Pola Hidup Sehat
Banyaknya aneka jajanan tidak sehat yang dijual di luar rumah tentu merupakan tantangan tersendiri bagi ibu. Kadang-kadang, meskipun ibu sudah menyiapkan camilan sehat dari rumah, hal itu tidak terlalu menarik minat anak.

Sembari mengajari anak memasak, ibu bisa bercerita tentang asal-usul makanan dan fungsinya bagi tubuh jika dikonsumsi. Demikian pula dengan kehadiran zat-zat dalam makanan yang berpotensi mengganggu kesehatan. Harapannya, anak menjadi sadar dan perlahan-lahan mengubah kebiasaannya yang gemar membeli jajanan yang tidak sehat itu.

Hal kedua yang bisa dipelajari anak dari kegiatan memasak adalah sifat peduli terhadap kebersihan. Ibu bisa mengajari anak untuk selalu mencuci tangan sampai bersih sebelum memegang makanan. Anak juga belajar bagaimana cara membersihkan bahan makanan sebelum dimasak sehingga meminimalisir kuman yang kemungkinan masih menempel di sana.

Melatih Rasa Tanggung Jawab Anak
Dalam proses memasak, ada hal-hal tertentu yang bisa dimanfaatkan untuk melatih rasa tanggung jawab anak. Misalnya, ketika ibu mengajari anak merebus sebuah bahan makanan. Ibu perlu memberi tahu anak bahwa ia tidak boleh meninggalkan masakan tersebut tanpa diawasi.

Jika tidak, hasil masakan bisa gagal. Kedua, ada potensi kebakaran yang mengintip. Secara tersirat, ibu bisa mengajari anak memiliki karakter tanggung jawab dan risikonya jika dilanggar. Ini bukan hanya berlaku pada aktivitas memasak saja, lo. Pekerjaan apa pun yang tidak dilakukan dengan penuh tanggung jawab akan merugikan diri sendiri maupun orang lain.

Melatih Kemampuan Membuat Keputusan
Membuat keputusan yang benar dan sesuai adalah sebuah hal besar dalam dunia anak-anak. Biasanya, mereka membuat keputusan berdasarkan pertimbangan yang pendek dan subjektif. Alasannya sekadar karena suka atau mau, bukan butuh atau perlu.

Dalam proses belajar memasak untuk anak-anak, maka sang anak akan belajar untuk membuat keputusan, mulai dari hal-hal yang sepele hingga yang berdampak besar. Misalnya, keputusan untuk membubuhkan garam pada masakan, keputusan untuk menggoreng atau membakar, keputusan untuk merebus atau mengukus, dan sebagainya.

Dalam hal ini, anak akan mengerti bahwa setiap keputusan mengandung risiko yang harus ditanggung. Keputusan yang salah akan menimbulkan kerugian, sedangkan keputusan yang benar akan menciptakan kelancaran.

Mengembangkan Sensitivitas terhadap Rasa
Mencicipi rasa masakan adalah hal yang wajib dilakukan ketika sedang memasak. Bila terlalu banyak garam, masakan akan menjadi terlalu asin. Sementara itu, bila garam terlalu sedikit, masakan akan terasa hambar.

Saat belajar memasak, indera perasa anak akan diuji terus-menerus untuk memastikan apakah masakan yang dibuat tersebut sudah terasa enak atau belum. Di sini, anak akan belajar menyesuaikan indera perasanya dengan keputusan yang diambilnya kemudian.

Melatih Konsentrasi dan Daya Ingat
Untuk menyelesaikan setiap pekerjaan dibutuhkan konsentrasi. Demikian pula ketika belajar memasak, anak pasti membutuhkan konsentrasi. Contohnya, konsentrasi ketika sedang mengupas atau memotong-motong bahan masakan. Jika tidak dilakukan dengan penuh konsentrasi, kegiatan tersebut bisa saja membahayakan.

Sementara itu, memasak juga bisa dimanfaatkan untuk melatih daya ingat anak. Mulai dari mengingat resep masakan hingga mengingat proses dan urutan pekerjaan yang harus dilakukan selama memasak.

Jika konsentrasi dan daya ingat tidak dimanfaatkan secara maksimal dalam kegiatan belajar memasak ini, bisa dipastikan hasil masakannya pun akan gagal. Meskipun pada awalnya belum sempurna, melatih kedua hal ini dalam latihan memasak yang teratur akan membuat tumbuh kembang anak menjadi lebih baik.

Membangun Rasa Percaya Diri
Setelah memasak, anak tentu akan menyajikan masakannya kepada orang lain. Hal ini membutuhkan kepercayaan diri. Namun, tidak sedikit anak-anak yang masih merasa kurang percaya diri dengan apa yang ia hasilkan. Padahal, kepercayaan diri adalah kualitas penting yang dibutuhkan untuk bertahan hidup.

Dengan aktivitas belajar memasak untuk anak-anak, mereka akan dilatih menghargai proses yang telah mereka jalani. Dari penghargaan tersebut akan timbul kepercayaan diri dalam melakukan sesuatu. Salah satu tanda kepercayaan diri bagi anak-anak yang belajar memasak adalah bersedia menampilkan hasil memasaknya kepada orang lain.